Ketegangan AS-Iran: Kekhawatiran Negara-negara Teluk di Tengah Ancaman Perang
Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini berada di titik didih, dengan ketegangan yang kian memuncak antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Bagi negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, situasi ini menimbulkan kegelisahan mendalam. Posisi geografis dan peran strategis mereka menempatkan kawasan ini di garis depan risiko keamanan, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas domestik dan keseimbangan regional.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan negara-negara Teluk merasa cemas menghadapi potensi perang antara AS dan Iran:
1. Pangkalan AS di Teluk Menjadi Target Sah Iran
Iran telah berulang kali menegaskan bahwa instalasi militer AS di kawasan tersebut merupakan sasaran balasan yang sah jika terjadi konflik. Insiden serangan terhadap Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Juni 2025, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, telah meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi para pemimpin Teluk.
Ali Shamkhani, seorang penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, sebelumnya telah memperingatkan bahwa respons Iran dalam konflik kali ini akan jauh lebih keras dibandingkan respons simbolis sebelumnya. Pangkalan-pangkalan militer AS di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Bahrain kini menghadapi ancaman langsung dari rudal dan drone Iran jika perang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Para pemimpin Teluk sangat mencemaskan kemungkinan wilayah mereka berubah menjadi arena pertempuran utama dalam konflik AS-Iran.
2. Keruntuhan Rezim Iran Berpotensi Memicu Kekacauan Regional
Ironisnya, sebagian pemimpin Arab justru diliputi kecemasan apabila pemerintahan Iran mengalami keruntuhan atau melemah secara drastis. Mereka berpendapat bahwa situasi seperti itu dapat memicu instabilitas yang jauh lebih parah dibandingkan kondisi saat ini.
Keruntuhan struktur negara Iran berpotensi memicu perang saudara berskala luas, munculnya kelompok-kelompok bersenjata radikal, lahirnya milisi-milisi baru, serta penyebaran gejolak ke seluruh penjuru Timur Tengah. Dampak dari keruntuhan rezim Iran diperkirakan akan melampaui konflik yang telah terjadi di Irak, Suriah, maupun Yaman.
Di Irak, misalnya, yang mayoritas penduduknya adalah Syiah, kekuatan politik utama dalam Kerangka Koordinasi Syiah memandang perang AS-Iran di wilayah mereka sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan yang masih rapuh. Kelompok tersebut meyakini bahwa penggulingan rezim Iran tidak akan menghasilkan perdamaian, melainkan justru membuka ruang bagi ketidakstabilan besar dan kekosongan kekuasaan yang berbahaya.

3. Munculnya Hegemoni Tunggal Israel di Kawasan
Apabila kekuatan dan pengaruh Iran di Timur Tengah terkikis tajam akibat perang, Israel berpotensi tampil sebagai satu-satunya kekuatan dominan di kawasan tanpa penyeimbang yang berarti. Sejumlah pemimpin regional kini menilai bahwa ancaman terbesar bukan lagi berasal dari Iran. Mereka justru mulai memusatkan perhatian pada kemungkinan Israel yang ekspansif dan agresif, ditambah dengan risiko kekacauan yang timbul jika Iran runtuh.
Bader al-Saif, seorang dosen sejarah di Universitas Kuwait, menyampaikan pandangannya bahwa langkah militer terhadap Iran dinilai tidak sejalan dengan kepentingan negara-negara Teluk. Ia berpendapat bahwa pemboman Iran bertentangan dengan perhitungan dan kepentingan negara-negara Teluk Arab. Menetralkan rezim Iran saat ini, baik melalui perubahan rezim maupun rekonfigurasi kepemimpinan internal, berpotensi berubah menjadi hegemoni Israel yang tak tertandingi, yang tentu saja tidak akan menguntungkan negara-negara Teluk.
Analis regional, Galip Dalay, juga menulis bahwa persepsi ancaman di Timur Tengah kini telah bergeser. Baginya, bagi para pemimpin Timur Tengah, ancaman terbesar sekarang adalah Israel yang ekspansif dan agresif, serta kekacauan yang timbul dari negara Iran yang berpotensi runtuh.

4. Gangguan Ekonomi Keamanan Teluk Akibat Perang
Konflik ini juga berisiko besar mengacaukan arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meskipun Iran kecil kemungkinannya untuk menutup total jalur tersebut karena akan merugikan ekspor minyaknya sendiri ke Tiongkok, Angkatan Laut Pengawal Revolusi Islam (IRGC Navy) dilaporkan telah menyiapkan skema penutupan selektif.
Strategi ini kemungkinan akan melibatkan serangan terhadap kapal tanker yang terafiliasi dengan Barat, mirip dengan pendekatan yang dilakukan oleh kelompok Houthi di Laut Merah. Situasi seperti ini dapat mendorong lonjakan premi asuransi, kenaikan harga minyak global, serta peningkatan inflasi di seluruh dunia.
Kondisi ini juga turut mengancam janji-janji ekonomi yang dibuat oleh para pemimpin negara, terutama menjelang periode pemilihan umum. Di saat bersamaan, ketegangan perang dapat memicu keluarnya investor, penarikan aset perusahaan, dan hengkangnya tenaga kerja terampil dari negara-negara Teluk yang sedang berupaya keras untuk mendiversifikasi ekonomi mereka.
Selain itu, potensi krisis pengungsi menjadi perhatian serius. Pelabuhan Bandar Abbas di Iran berjarak sangat dekat dengan Dubai melalui laut. Ribuan orang diperkirakan bisa menyeberang ke UEA jika ekonomi Iran runtuh atau negara tersebut mengalami kolaps.

5. Pengembangan Senjata Nuklir Iran Memicu Perlombaan Senjata
Serangan dari pihak AS berpotensi mendorong Iran untuk meninggalkan doktrin resminya yang membatasi penggunaan energi nuklir untuk kepentingan sipil. Perubahan arah kebijakan ini dapat membuat Teheran memilih untuk mengembangkan senjata nuklir, sebuah hasil yang justru berlawanan dengan tujuan awal serangan.
Tanpa pendudukan penuh oleh AS dan Israel, yang dinilai sebagai skenario yang tidak realistis, Iran tetap memiliki kapasitas teknis untuk mempercepat pembuatan bom nuklir jika ada keputusan politik yang diambil. Hal ini terutama jika Ayatollah Khamenei tidak lagi mampu memimpin. Keadaan seperti ini akan menempatkan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan UEA, pada posisi yang sangat sulit untuk menghadapi Iran yang penuh dendam dan berpotensi memiliki senjata nuklir.
Pada akhirnya, Arab Saudi dan UEA bisa terdorong untuk mengejar kemampuan nuklir mereka sendiri. Langkah ini sangat berisiko memicu perlombaan senjata nuklir yang sangat berbahaya di kawasan tersebut.
Mengingat berbagai pertimbangan di atas, Arab Saudi, Qatar, Oman, UEA, serta sejumlah negara lain berupaya mengintensifkan upaya diplomasi untuk menghentikan atau setidaknya membatasi eskalasi perang. Mereka menolak untuk membuka akses wilayah udara mereka bagi serangan terhadap Iran dan terus mendesak Washington agar memprioritaskan jalur diplomasi jangka panjang dibandingkan dengan aksi militer.






