Tragedi di Minab: Serangan Udara Israel Tewaskan Ratusan Siswi, Iran Balas Tutup Selat Hormuz
Sebuah tragedi kemanusiaan mengguncang kawasan Timur Tengah. Serangan udara yang diduga kuat dilancarkan oleh Israel menghantam sebuah sekolah putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran, pada Sabtu (28/2/2026). Insiden mengerikan ini dilaporkan merenggut nyawa sedikitnya 57 siswa putri dan melukai puluhan lainnya.
Gubernur Provinsi Minab, Mohammad Radmehr, membenarkan kabar duka tersebut kepada kantor berita resmi Iran, IRNA. Ia menyatakan bahwa Sekolah Shajareye Tayabeh menjadi sasaran langsung serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Radmehr mengonfirmasi bahwa sejumlah siswa telah gugur, sementara 53 lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan sekolah yang hancur. Operasi penyelamatan dan bantuan darurat dilaporkan segera dilancarkan, dengan pihak berwenang mengklaim situasi keamanan di kota Minab telah terkendali.
Serangan yang sangat disesalkan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan aksi militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu dini hari. Sebagai respons langsung terhadap agresi tersebut, Angkatan Bersenjata Iran dikabarkan tidak tinggal diam. Iran membalas dengan melancarkan serangan balasan berskala besar, menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone. Target serangan balasan Iran dilaporkan mencakup wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan tersebut.
Selat Hormuz Ditutup: Ancaman Krisis Energi Global
Menyusul eskalasi ketegangan dan serangan balasan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan langkah drastis penutupan Selat Hormuz. Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari, seorang pejabat IRGC, mengonfirmasi penutupan jalur pelayaran strategis ini kepada media Al-Mayadeen pada Sabtu. “Penutupan Selat Hormuz kini dilakukan oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ujar Jabari.
Langkah penutupan Selat Hormuz ini sontak menimbulkan kekhawatiran serius di pasar energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dilalui oleh sekitar sepertiga pasokan minyak mentah yang diangkut melalui laut.
Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Para analis energi dan pakar urusan internasional telah lama memperingatkan potensi dampak dari gangguan di Selat Hormuz. Dr. Hriday Sarma, seorang pakar geoekonomi energi, menyatakan bahwa bahkan sebelum blokade penuh terjadi, para analis telah memperkirakan adanya premi geopolitik sebesar 10 hingga 25 persen pada harga minyak.
Jika gangguan di Selat Hormuz semakin dalam dan berkepanjangan, Dr. Sarma memperkirakan harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak drastis, mencapai kisaran 100 hingga 120 dolar Amerika Serikat per barel.
Bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak mentah, skenario ini akan membawa konsekuensi ekonomi yang sangat berat. Beberapa dampak yang paling mungkin terjadi meliputi:
- Inflasi Bahan Bakar dan Pangan: Kenaikan harga minyak akan secara langsung memicu kenaikan biaya transportasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang-barang kebutuhan pokok, termasuk pangan.
- Defisit Transaksi Berjalan yang Melebar: Negara pengimpor akan menghadapi peningkatan biaya impor energi yang signifikan, yang dapat memperlebar kesenjangan antara nilai ekspor dan impor mereka.
- Risiko Depresiasi Mata Uang: Tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi dapat menyebabkan mata uang negara pengimpor mengalami pelemahan nilai terhadap mata uang asing.
- Kenaikan Biaya Asuransi dan Transportasi: Premi asuransi untuk kapal tanker yang melintasi wilayah rawan konflik akan meningkat tajam, begitu pula dengan tarif pengangkutan barang.
- Biaya Lindung Nilai yang Lebih Tinggi: Perusahaan dan negara akan terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar untuk melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga minyak.
Dr. Sarma menekankan bahwa tidak ada jalur perdagangan minyak alternatif yang dapat sepenuhnya menggantikan peran krusial Selat Hormuz. “Ketergantungan pada konvoi yang dikawal atau pengalihan sebagian hanya akan memperlambat arus, meningkatkan premi asuransi, dan menanamkan premi harga struktural ke dalam pasar minyak dan LNG,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa para pemangku kepentingan global harus bersiap menghadapi periode pasokan energi yang lebih ketat, biaya yang lebih tinggi, dan volatilitas pasar yang berkepanjangan akibat situasi ini. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari komunitas internasional dalam mengelola potensi krisis energi yang lebih luas.





