Skor PISA Indonesia Rendah, Menteri Harap Tidak Ada Siswa yang Belum Bisa Membaca dan Menghitung

Kondisi Literasi dan Numerasi Siswa Indonesia

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan rata-rata negara OECD. Program ini, yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: membaca, matematika, dan sains.

Data PISA 2022 mencatat bahwa hanya 25 persen siswa Indonesia yang berada di atas rata-rata skor literasi membaca, dan 18 persen untuk matematika. Hal ini menjadi tantangan mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa rendahnya kemampuan membaca dan berhitung harus segera diatasi.

Menurut Abdul Mu’ti, dalam tiga tahun ke depan, pihaknya berharap sudah terlihat hasil yang signifikan, terutama pada siswa kelas 1, 2, dan 3. Ia berharap tidak lagi ada siswa di jenjang tinggi yang belum mampu membaca atau berhitung.

Tiga Langkah Utama untuk Perbaikan

Untuk mengatasi masalah ini, Abdul Mu’ti menekankan tiga langkah utama. Pertama, membangun kompetensi siswa melalui pembelajaran yang tidak hanya berbasis usia, tetapi juga pendekatan pedagogi yang tepat. Kedua, menumbuhkan kebiasaan membaca seiring dengan peningkatan kemampuan literasi. Ketiga, memperkuat pendekatan numerasi dengan fokus pada pengembangan logika sejak dini.

“Karena itu, kerja sama sangat penting dengan fokus pada siswa sekolah dasar, khususnya di kelas awal. Kemampuan dasar ini menjadi fondasi utama untuk penguasaan ilmu lainnya,” ujar Mu’ti.

Kolaborasi dengan Berbagai Pihak

Menindaklanjuti hal tersebut, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF, serta enam pemerintah daerah. Daerah mitra program tersebut meliputi Kota Medan dan Pematangsiantar (Sumatera Utara), Kabupaten Batang Hari (Jambi), Kabupaten Tegal (Jawa Tengah), serta Kabupaten Ende dan Sikka (Nusa Tenggara Timur).

Program ini ditargetkan menjangkau 500 sekolah dasar negeri, melibatkan 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah, serta memberi manfaat kepada sedikitnya 45.000 siswa hingga 2029. Dalam jangka panjang, pemerintah berharap program tersebut dapat diperluas ke seluruh Indonesia.

Peran Guru dalam Pembelajaran

Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menilai peran guru menjadi kunci dalam memastikan penguasaan keterampilan dasar siswa. “Dengan pemanfaatan data asesmen siswa, guru dapat memetakan kebutuhan siswa secara tepat dan menyesuaikan strategi pembelajaran,” ujarnya.

Program kolaborasi ini mengusung tiga pilar utama, yakni:

  • Penguatan praktik pembelajaran di kelas melalui pedagogi terstruktur
  • Pemanfaatan data asesmen diagnostik untuk perbaikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa
  • Penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah

Tujuan Jangka Panjang

Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa, terutama dalam literasi dan numerasi. Dengan pendekatan yang terstruktur dan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan bisa memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi siswa Indonesia.


Pos terkait