Aljamain Sterling Merasa UFC Tak Berpihak, Merindukan Kesempatan Gelar Juara Kelas Bulu
Hubungan antara petarung UFC, Aljamain Sterling, dengan promotornya, UFC, tampaknya tengah berada di titik yang kurang harmonis. Ketegangan yang telah berlangsung cukup lama ini, meskipun sempat diupayakan untuk diredakan, kini kembali mencuat ke permukaan. Sterling, dalam sebuah wawancara baru-baru ini, secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa UFC tidak sepenuhnya berpihak padanya, terutama dalam upayanya untuk kembali meraih sabuk juara.
Kepindahan Sterling ke kelas bulu terjadi setelah ia harus merelakan sabuk juara kelas bantam yang sempat dipegangnya. Perjalanan di divisi baru ini tidaklah mulus. Ia sempat mencatatkan kemenangan atas Calvin Kattar, namun kemudian harus mengakui keunggulan Movsar Evloev. Meskipun demikian, Sterling berhasil bangkit dengan kemenangan atas Brian Ortega pada tahun lalu, sebuah duel yang bahkan dilangsungkan dalam kelas catchweight karena lawannya tidak memenuhi syarat berat badan.
Namun, di tengah perjuangannya di kelas bulu, Sterling merasakan ada sesuatu yang janggal. Ia merasa bahwa UFC seolah sengaja memberinya lawan-lawan yang dinilainya dapat menjadi batu sandungan, bahkan berpotensi mengalahkannya. “Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan,” ungkap Sterling dengan nada frustrasi. “Jika kalian ingin memberi saya Yair Rodriguez, saya akan melawannya. Jika kalian ingin memberi saya Jean Silva, saya akan melawannya. Jika kalian ingin memberi saya Youssef Zalal, saya akan melawannya. Saya tidak pernah menolak siapa pun.”
Sterling melanjutkan, “Orang-orang ini meminta saya untuk menentukan lawan yang saya inginkan, lalu mereka justru memberi saya seseorang yang benar-benar berbeda karena mereka ingin melihat saya kalah. Itulah sudut pandang saya.”
Perasaan ini muncul bukan tanpa alasan. Sterling mengamati bahwa setiap kali ia secara spesifik menyebutkan nama lawan yang ingin dihadapinya, UFC seringkali justru menyajikan petarung lain yang tidak sesuai dengan keinginannya. “Mungkin ini terlihat berbeda dari sudut pandang mereka, tetapi sudut pandang saya adalah, Anda bertanya kepada saya siapa yang ingin saya lawan, saya menyebutkan nama, calon lawan yang cocok secara gaya bertarung untuk saya, lalu Anda memberi saya orang lain. Apa artinya itu bagi saya? Oh, mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk posisi ini. Tapi saya terus membuktikan bahwa mereka salah.”
Perjuangan untuk Membuktikan Diri dan Harapan Gelar Juara
Sterling tidak tinggal diam dengan perasaan ketidakadilan yang ia rasakan. Ia bertekad untuk terus berjuang dan membuktikan bahwa penilaian UFC terhadapnya adalah keliru. Baginya, setiap pertarungan adalah kesempatan untuk menunjukkan kualitas dan kemampuannya yang sesungguhnya.
“Berikan saya kesempatan untuk bertarung memperebutkan gelar juara, dan saya akan membuktikan bahwa Anda salah lagi,” tegasnya. Ungkapan ini mencerminkan ambisi besar Sterling untuk kembali merasakan sensasi memegang sabuk juara, sekaligus menjadi pembuktian bahwa ia masih merupakan salah satu petarung terbaik di kelas bulu.
Keinginan Sterling untuk mendapatkan duel perebutan gelar juara di kelas bulu bukanlah tanpa dasar. Dengan rekam jejaknya yang solid, termasuk kemenangan-kemenangan penting di UFC, ia merasa berhak untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Namun, ia merasa bahwa ada faktor eksternal yang menghalanginya untuk meraih impian itu.
Sterling menyadari bahwa UFC memiliki agenda dan strategi tersendiri dalam menentukan setiap pertandingan. Namun, ia berharap agar UFC dapat melihat potensi dan kemampuannya secara objektif, tanpa terpengaruh oleh spekulasi atau keinginan untuk melihatnya kalah. Baginya, keadilan dalam menentukan lawan dan kesempatan bertarung adalah hak setiap atlet profesional.
Strategi UFC dan Persepsi Sterling
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi UFC dalam mengelola para petarungnya. Apakah benar UFC sengaja menempatkan petarung seperti Sterling dalam posisi yang sulit untuk memancing reaksi atau menciptakan narasi yang menarik? Atau mungkinkah ini hanya persepsi Sterling semata, yang dilatarbelakangi oleh ambisinya yang tinggi?
Terlepas dari alasan di baliknya, Sterling tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak akan pernah berhenti berjuang dan membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Semangat juangnya patut diacungi jempol, dan banyak penggemar UFC yang berharap agar Sterling dapat segera mendapatkan duel perebutan gelar juara yang ia dambakan.
Perjalanan Aljamain Sterling di UFC memang penuh liku. Dari mantan juara kelas bantam hingga kini berjuang di kelas bulu, ia terus menunjukkan determinasi yang luar biasa. Perasaan bahwa UFC tidak berpihak padanya memang menjadi isu sensitif, namun hal ini justru dapat menjadi motivasi tambahan baginya untuk tampil lebih baik lagi dan membuktikan bahwa ia adalah petarung yang patut diperhitungkan di panggung UFC. Harapannya, UFC akan segera memberikannya kesempatan yang adil untuk membuktikan kapasitasnya sebagai penantang gelar juara.





