, JAKARTA — Transformasi energi di Tiongkok terus menunjukkan dinamika yang menarik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, produksi listrik dari sumber tenaga surya di Negeri Tirai Bambu diproyeksikan akan melampaui tenaga angin pada tahun 2025. Fenomena ini didorong oleh membanjirnya pasokan panel surya yang terjangkau, yang semakin terintegrasi ke dalam sistem kelistrikan nasional Tiongkok seiring upaya intensif negara tersebut untuk beralih dari bahan bakar fosil.
Berdasarkan laporan terbaru, produksi listrik dari tenaga surya pada tahun 2025 diperkirakan mencapai angka monumental sebesar 1,17 juta gigawatt-hour (GWh). Angka ini menandai lonjakan signifikan sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Prestasi ini secara langsung menyalip kontribusi dari pembangkit tenaga angin, yang meskipun juga mengalami pertumbuhan sebesar 13%, hanya mampu menghasilkan 1,13 juta GWh pada periode yang sama.
Peran Energi Terbarukan dalam Transisi Energi Tiongkok
Pertumbuhan pesat energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi pilar utama bagi Tiongkok dalam memenuhi lonjakan permintaan listrik tanpa harus meningkatkan ketergantungan pada pembakaran batu bara. Bahkan, produksi listrik dari pembangkit termal dilaporkan mengalami penurunan tipis sebesar 0,7% sepanjang tahun lalu. Hal ini menunjukkan pergeseran yang mulai terasa dalam bauran energi negara adidaya ini.
Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa batu bara masih memegang peranan dominan dalam lanskap energi Tiongkok. Pangsa batu bara dalam konsumsi energi nasional hanya mengalami sedikit penurunan menjadi 51,4% pada tahun 2025. Secara volume, konsumsi batu bara justru mengalami sedikit kenaikan sebesar 0,1%. Dugaan kuat mengarah pada peningkatan penggunaannya dalam sektor hilirisasi batu bara menjadi bahan kimia (coal-to-chemicals), yang menunjukkan diversifikasi penggunaan sumber daya ini.
Kapasitas Surya Tiongkok Melampaui Jepang
Dari sisi kapasitas produksi, pasokan energi surya Tiongkok pada tahun lalu bahkan telah melampaui total listrik yang dihasilkan oleh seluruh Jepang. Kontribusi panel surya kini menyumbang 11% dari total pembangkitan listrik nasional, sebuah lompatan luar biasa dari posisi kurang dari 1% satu dekade lalu.
Lonjakan dramatis ini didukung oleh rantai pasok raksasa yang telah dibangun oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok, serta fleksibilitas teknologi surya yang memungkinkan instalasi cepat di berbagai skala. Mulai dari pembangkit skala besar yang tersebar di wilayah gurun hingga instalasi panel surya di atap-atap rumah di daerah pedesaan, teknologi surya terbukti mampu beradaptasi dengan kebutuhan energi yang beragam.
Tantangan di Balik Ekspansi Energi Surya
Namun, di balik gegap gempita ekspansi energi surya di Tiongkok, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Banyak produsen perangkat energi surya melaporkan adanya tekanan kerugian akibat kelebihan kapasitas produksi dan harga jual yang semakin rendah. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan ekonomi industri ini dalam jangka panjang.
Selain itu, lonjakan pasokan listrik yang dihasilkan pada siang hari oleh panel surya menuntut investasi besar pada infrastruktur pendukung. Investasi ini mencakup pengembangan jaringan transmisi yang lebih kuat dan canggih, serta pembangunan fasilitas penyimpanan energi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa energi surya yang melimpah tidak terbuang sia-sia karena ketidakmampuan jaringan untuk menyerap atau menyimpannya.
Di sisi lain, teknologi tenaga angin umumnya memiliki keunggulan dalam hal durasi produksi listrik harian yang lebih panjang dibandingkan dengan tenaga surya. Keunggulan ini memungkinkan pembangkit angin untuk beroperasi lebih konsisten sepanjang hari. Meskipun demikian, meskipun kapasitas terpasang panel surya di Tiongkok telah lebih besar dalam beberapa tahun terakhir, dari sisi produksi listrik total, pembangkit angin baru saja tersalip oleh dominasi energi surya. Dinamika ini menunjukkan kompleksitas dalam mengelola transisi energi yang efisien dan berkelanjutan.





