Temuan Baru Mengungkap Perubahan Suhu Laut yang Tidak Terduga
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa suhu laut di kedalaman tertentu mengalami perubahan signifikan, meskipun suhu permukaan laut tampak stabil. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis inti sedimen yang ditemukan di dasar Laut Atlantik. Hasilnya menunjukkan bahwa ada sinyal kimia dalam lumpur purba yang menyimpan informasi tentang kondisi laut masa lalu.
Dari data yang dianalisis, para peneliti dapat memahami bagaimana suhu air berubah pada kedalaman sekitar 800 meter selama 11.000 tahun terakhir. Hal ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi di permukaan laut. Syee Weldeab, seorang profesor ilmu kebumian di University of California, melakukan pengambilan sampel sedimen dari Atlantik ekuatorial dan merekonstruksi suhu air pada kedalaman sekitar setengah mil. Ia menemukan bahwa sekitar 5.700 tahun lalu, air di kedalaman Atlantik tropis menghangat sekitar 5 derajat Celsius. Pemanasan tersebut berlangsung selama ribuan tahun dan mencapai puncaknya sekitar 2.500 tahun lalu.
Petunjuk tentang perubahan suhu ini tersimpan dalam lapisan-lapisan sedimen laut. Lapisan-lapisan ini terbentuk secara perlahan selama ribuan tahun, dan terus bertambah dalam bentuk lembaran tipis. Cangkang-cangkang kecil yang terperangkap dalam sedimen itu menyimpan rekaman kimia suhu air pada masa mereka.
Bagian yang paling mengejutkan adalah ketidakhadiran jejak panas di permukaan, meskipun ada panas tinggi di bawah. “Saya sangat terkejut dengan temuan ini sehingga sempat menyimpan datanya untuk beberapa waktu,” kata Weldeab. Menurutnya, panas tersebut kemungkinan berasal dari tempat lain dan masuk tanpa meninggalkan jejak di atas. Temuan ini menunjukkan adanya jalur pengantaran panas yang belum pernah berhasil dijelaskan oleh ilmuwan, khususnya untuk kawasan Atlantik.
Samudra memiliki kemampuan untuk menyimpan energi dalam jumlah besar. Antara tahun 1970 hingga 2020, lautan menyerap hampir 90 persen kelebihan panas akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia. Hal ini membantu mencegah dampak yang lebih buruk terhadap atmosfer. “Studi ini mengungkap bahwa bagian dalam samudra bertindak sebagai reservoir penyimpanan panas yang sangat besar,” ujar Weldeab.
Banyak penelitian lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar panas yang tersimpan tidak bertahan di dekat permukaan. Lapisan air menengah—zona kedalaman yang sama dengan yang diteliti Weldeab—ternyata menyimpan sebagian besar panas yang baru-baru ini diserap samudra.
Waktu terjadinya pemanasan memberikan petunjuk nyata pertama. Pemanasan di kedalaman Atlantik tropis diketahui terjadi ketika pergerakan udara dan air berubah di Belahan Bumi Selatan, meskipun jarak antara dua lokasi ini ribuan mil.
Ketika wilayah selatan Bumi mendapat sinar Matahari musim panas, pola sirkulasi di bagian bawah planet ini diperkirakan terus berubah. Perubahan ini melibatkan tiupan sabuk angin baratan yang sangat kuat yang mulai bergeser ke arah Kutub Selatan. Inilah angin yang sama yang menggerakkan arus laut di Samudra Selatan. Ketika angin tersebut bergeser, menurut Weldeab, air di bawahnya ikut merespons.
Sekarang, Weldeab sedang berusaha memetakan seberapa jauh pemanasan purba tersebut menyebar ke seluruh samudra dunia. Para peneliti masih mendalami keanehan lokal ini, karena mungkin saja ini bagian dari sesuatu yang lebih besar.



