Tenda Pengungsi Korban Kebakaran Galung Tulu: Harapan Rumah Jelang Lebaran

Warga Korban Kebakaran Bangun Tenda Darurat di Lahan Bekas Rumah, Harapkan Bantuan Perbaikan Jelang Lebaran

Polewali Mandar, Sulawesi Barat – Musibah kebakaran yang melanda Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, meninggalkan duka mendalam bagi 58 Kepala Keluarga (KK). Setelah 38 rumah ludes dilalap si jago merah, para penyintas kini terpaksa mendirikan tenda darurat di atas puing-puing bekas kediaman mereka. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk harapan agar segera mendapatkan bantuan perbaikan rumah sebelum datangnya hari raya Idul Fitri.

Empat hari pasca-kejadian tragis tersebut, warga korban kebakaran mulai kembali ke lokasi bekas rumah mereka. Mereka bahu-membahu membersihkan sisa-sisa puing yang berserakan, sembari berharap ada uluran tangan yang membantu mereka membangun kembali tempat tinggal yang layak. Di tengah kondisi serba terbatas, para penyintas ini menunjukkan semangat juang yang luar biasa dalam menghadapi cobaan.

Tenda Darurat Menjadi Saksi Kepedihan dan Harapan

Tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal, tikar, bantal, dan selimut kini menghiasi lahan bekas rumah yang hangus terbakar. Di bawah atap sementara inilah, puluhan keluarga mengungsi, menggantikan kenyamanan rumah mereka yang telah lenyap. Sebelumnya, sebagian besar dari mereka terpaksa mengungsi di rumah kerabat terdekat, namun kini, keinginan untuk kembali ke tanah kelahiran dan memulai proses pemulihan mendorong mereka untuk mendirikan kemah di lokasi yang paling dekat dengan kenangan rumah mereka.

Sumarni, salah seorang korban terdampak, mengungkapkan harapannya kepada awak media. “Kita dirikan tenda ini di lahan bekas rumah terbakar, berharap ada bantuan perbaikan rumah,” ujarnya dengan nada lirih. Rumahnya dilaporkan rusak parah, tidak ada satu pun bagian yang bisa diselamatkan, mulai dari atap hingga tiang penyangga. Kondisi ini tentu saja menambah beban psikologis para korban, terlebih lagi menjelang perayaan hari besar keagamaan.

Sumarni menambahkan, “Harapannya ada bantuan perbaikan rumah, supaya nanti ada yang bisa ditempati lebaran.” Permintaan ini mencerminkan urgensi kebutuhan akan hunian yang layak, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.

Bantuan Mulai Mengalir, Fokus pada Kebutuhan Dasar

Meskipun dilanda musibah, semangat gotong royong dan kepedulian mulai terlihat. Bantuan berupa paket sembako dan perlengkapan dasar lainnya telah mulai diterima oleh para korban. Petugas sosial kebencanaan bekerja keras mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan tersebut di posko tenda utama.

Setiap Kepala Keluarga (KK) terdampak, yang berjumlah 57 KK, menerima paket sembako yang cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari. Paket tersebut meliputi beras 25 kg, mie instan, serta berbagai kebutuhan pokok seperti kopi, gula, minyak, kue, dan biskuit. Selain itu, bantuan juga mencakup satu rak telur dan empat dos air minum. Para petugas sosial tampak menyusun paket-paket ini dengan teliti untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan haknya.

Selain sembako, warga yang terdampak juga menerima bantuan berupa tikar, kompor, dan obat-obatan. Bantuan ini sangat berarti bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, terutama dalam hal pangan dan kesehatan.

Kolaborasi Pemerintah dan Aparat untuk Dukungan Penuh

Menyadari skala bencana, Pemerintah Daerah (Pemda) Polman bersama dengan Korps Brimob turut hadir memberikan dukungan. Mereka bahu-membahu mendirikan dapur umum di lokasi kejadian. Keberadaan dapur umum ini sangat krusial untuk memastikan ketersediaan makanan bagi para penyintas, terutama anak-anak yang membutuhkan asupan gizi yang baik.

Dapur umum ini menjadi pusat kegiatan, di mana para relawan dan petugas bekerja sama menyiapkan makanan untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Suasana di sekitar dapur umum pun terlihat ramai namun penuh kebersamaan, menunjukkan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

Para korban kebakaran di Desa Galung Tulu kini menanti uluran tangan lebih lanjut dari berbagai pihak. Selain bantuan kebutuhan pokok, harapan terbesar mereka adalah adanya dukungan yang signifikan untuk pembangunan kembali rumah-rumah mereka. Proses pemulihan pasca-kebakaran ini tentu membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Semangat kebersamaan dan kepedulian yang telah ditunjukkan sejauh ini diharapkan dapat terus berlanjut, memberikan kekuatan dan harapan bagi para penyintas untuk bangkit kembali.

Pos terkait