Hidup sebagai Terang dalam Dunia yang Pecah
Yesaya 8:23b-9:3; 1 Korintus 1:10-13.17; Matius 4:12-17
Bayangkan dirimu berada di sebuah dunia yang gelap. Bukan hanya karena lampu mati, tetapi karena hati yang saling tidak percaya, mulut yang saling menghakimi, dan layar ponsel yang memisahkan kita dalam bubble algoritma. Kita terus-menerus diberi informasi yang memperkuat prasangka, bukan kebenaran. Di tengah situasi ini, bacaan-bacaan suci hari Minggu Ketiga III Masa Biasa hadir seperti cahaya senter di tengah malam: Kristus adalah Terang yang memanggil kita untuk hidup utuh dan bersatu.
Terang yang Tak Bisa Dipadamkan
Yesaya bernubuat: “Orang yang berjalan dalam kegelapan melihat terang terang benderang!” (Yes 9:1). Ribuan tahun kemudian, Yesus menggenapinya di Galilea, daerah yang dianggap “kampung pinggiran”, tempat orang miskin dan terpinggirkan tinggal. Di sanalah Ia berseru: “Bertobatlah! Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17). Bukan di istana atau kuil megah, tapi di tengah ketidaksempurnaan, Terang itu bersinar.
Di tengah krisis iklim, perang, dan kesepian digital, pesan ini masih relevan: Allah tak menunggu dunia “sempurna” untuk bertindak. Ia masuk ke kekacauan kita dan berkata: “Aku di sini.”
Persatuan: Senjata Ampuh Lawan Kegelapan
Paulus memberikan teguran kepada jemaat Korintus: “Ada yang berkata, ‘Aku dari Paulus,’ yang lain, ‘Aku dari Apolos’… Bukankah Kristus tidak terbagi?” (1 Kor 1:12-13). Mereka ribut soal brand rohani, siapa pemimpin favorit, aliran mana yang paling benar, sampai lupa pada salib yang mempersatukan.
Ironisnya, 2.000 tahun kemudian, gereja masih terjebak dalam perang “tim”: pro-kontra politik, tradisi vs kemajuan, bahkan perdebatan sengit di grup WA yang lebih panas daripada doa. Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Injil bukan content untuk dikonsumsi sesuai selera, tapi kuasa yang merobohkan tembok perpecahan (1 Kor 1:17). Jika kita sibuk membangun followers di media sosial atau memenangkan argumen, bagaimana mungkin dunia percaya pada kasih yang “mengalahkan maut”?
“Tinggalkan Jaring”-Mu, Ikutlah Aku!
Yesus tak memanggil para nelayan Galilea untuk berkhotbah di podium megah. Ia mendatangi mereka yang sedang kerja keras, lalu berkata: “Ikutlah Aku!” (Mat 4:19). Mereka segera meninggalkan jaring (alat hidup, kebiasaan, ambisi pribadi) dan memilih hidup yang tak terduga bersama Sang Terang.
Hari ini, “jaring” kita mungkin berupa: Kebanggaan pada kelompok gereja/golongan kita. Ketakutan kehilangan status atau keamanan finansial. Kebiasaan menghakimi “mereka yang berbeda” di kolom komentar. Sehingga kemudian Yesus masih bertanya pada kita, “Apa yang kau pegang erat-erat sampai kau lupa mengikut-Ku?”
Refleksi untuk Hari Ini
Dunia butuh bukti nyata. Gereja yang utuh adalah Injil yang hidup. Bayangkan jika di tengah polarisasi, kita:
- Mengutamakan listening daripada debating saat bertemu yang berbeda pandangan;
- Membagikan “jaring” (waktu, sumber daya) untuk menolong tetangga (muslim, ateis, atau mantan narapidana) tanpa syarat;
- Berani keluar dari echo chamber media sosial dan duduk satu meja dengan orang yang “di luar kelompok kita”.
Itulah cara Terang Kristus bersinar, bukan lewat retorika sempurna, tapi keberanian hidup dalam persatuan yang nyata. Seperti Petrus dan Andreas yang meninggalkan perahu, kita pun dipanggil untuk percaya: Ketika kita berani utuh dalam kasih, dunia akan melihat (dan percaya) bahwa Allah sungguh hadir di tengah kita.






