Teror Mengintai Ketua BEM UGM: Kritik Pedas terhadap Pemerintah Berujung Ancaman
Kehidupan Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), dan keluarganya tak lepas dari bayang-bayang teror. Ancaman yang datang silih berganti tampaknya telah membentuk ketahanan mental Tiyo. Ia memandang segala bentuk intimidasi sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari sikapnya yang vokal dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Dengan raut wajah yang tenang, Tiyo memaparkan rentetan teror yang ia, ibunya, serta rekan-rekannya di kampus alami. Baginya, teror-teror tersebut kini tak lagi menjadi sumber kekhawatiran, melainkan sebuah pengingat akan tanggung jawabnya sebagai aktivis. Serangan intimidasi ini semakin intensif setelah Tiyo secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Rentetan Teror yang Menghantui
Terbaru, teror kembali menyasar ibunda Tiyo. Kejadian ini bukanlah kali pertama. “Ada tiga teror terbaru yang diterima ibu semalam,” ungkap Tiyo saat berbincang di teras Omah Dongeng Marwah, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, pada Kamis sore.
Teror pertama datang dari nomor tak dikenal melalui pesan singkat ke ponsel ibunya. Pesan tersebut menginformasikan bahwa sebuah organisasi masyarakat di Yogyakarta berencana melaporkan Tiyo ke Polda DI Yogyakarta dengan tuduhan penggelapan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).
Tak lama berselang, teror kedua mendarat di ponsel ibunya. Kali ini, pesan tersebut menyebutkan kekecewaan sejumlah dosen UGM terhadap perilaku Tiyo yang diduga telah menggelapkan dana KIPK. Tiyo sendiri menganggap tudingan tersebut tidak berdasar. Sejak awal, ia menyadari bahwa salah satu tujuan teror yang ia terima adalah untuk menyebarkan fitnah dan tuduhan palsu.
“Kemudian teror yang ketiga yang diterima ibu mengatakan kalau pihak kepolisian siap mengusut tuntas kasus Tiyo,” lanjut Tiyo, menjelaskan ancaman terakhir yang diterima ibunya.
Awalnya, sang ibu merasa ketakutan dan cemas akan nasib putranya. Namun, Tiyo dengan sabar menjelaskan bahwa segala kabar miring yang diterima ibunya merupakan bagian dari upaya teror untuk melemahkan semangatnya dan membungkam suaranya. Perlahan, ibunda Tiyo mulai memahami dan menerima penjelasan tersebut. “Sekarang ibu sudah aman. Saya beri penjelasan sebelumnya,” ujar Tiyo dengan lega.
Dampak Teror Meluas ke Lingkaran Aktivis
Teror ini tidak hanya berhenti pada Tiyo dan keluarganya. Sekitar 30 hingga 40 pengurus BEM UGM lainnya juga pernah mengalami intimidasi serupa. Namun, mereka menyadari bahwa ancaman tersebut merupakan imbas dari sikap politik BEM UGM yang memilih untuk bersikap kritis terhadap pemerintah.
Sikap kritis ini bukan bertujuan untuk mendistorsi program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiyo sendiri sempat mengganti akronim program tersebut menjadi “Maling Berkedok Gizi”. Penamaan ini, menurut Tiyo, didasarkan pada ketidakberpihakan rezim terhadap sektor pendidikan, yang justru lebih memprioritaskan program MBG, yang dalam praktiknya dinilainya jauh dari harapan.
Kritik Konstruktif Demi Kemajuan Negeri
Seluruh rangkaian kritik yang dilontarkan Tiyo bukanlah lahir dari kebencian terhadap negara. Sebaliknya, ia menyuarakan aspirasi demi kemajuan bangsa. Kritik yang ia, para aktivis, dan akademisi sampaikan terhadap pelaksanaan program MBG diibaratkan seperti obat yang diberikan kepada pasien.
Tiyo menyayangkan jika pemerintah menutup telinga terhadap kritik yang disampaikan berdasarkan data dan fakta lapangan. “Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat. Termasuk para aktivis, akademisi yang mengkritisi MBG karena ingin memberi obat bagi republik ini,” tegas Tiyo.
Ia menekankan bahwa kritik yang membangun adalah esensial bagi sebuah negara untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. Keberanian untuk bersuara dan menyampaikan pandangan, meskipun berisiko, adalah wujud kecintaan dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
Tindakan teror ini, menurut Tiyo, justru semakin membulatkan tekadnya dan rekan-rekannya untuk terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan melalui jalur advokasi dan kritik yang konstruktif. Mereka percaya bahwa suara rakyat, ketika disuarakan dengan lantang dan didukung oleh data, akan senantiasa menemukan jalannya untuk didengar.





