Memaksimalkan Ramadan: Menjaga Pandangan untuk Kesempurnaan Ibadah
Bulan Ramadan adalah momentum emas bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah yang diperintahkan. Menanamkan kesadaran untuk beribadah dan mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya menjadi sebuah keharusan. Puasa, sebagai salah satu ibadah, memiliki keistimewaan yang tak tertandingi oleh ibadah lainnya.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10x lipat hingga 700x lipat. Kecuali ibadah puasa, ia adalah milik Allah dan akan langsung dibalas. Sebabnya pahala yang banyak dari seseorang yang telah menahan diri dari syahwat makanan dan minuman karena Allah semata. Ada dua kegembiraan saat seseorang yang berpuasa: kegembiraan saat berbuka, dan kegembiraan saat bertemu dengan Allah.”
Penjelasan ini menjadi tolok ukur penting bagi setiap Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan memiliki nilai spiritual yang mendalam di sisi Tuhan, terutama jika dijalani dengan sungguh-sungguh.
Banyak amalan dan ibadah yang dapat dikerjakan di bulan penuh berkah ini. Salah satunya adalah dengan mendengarkan kultum atau ceramah keagamaan. Untuk mempermudah, berikut adalah sebuah naskah kultum Ramadhan yang dapat digunakan setelah salat Subuh berjamaah atau menjelang salat Tarawih, dengan tema “Tingkatkan Iman saat Ramadan dengan Berpuasa Mata”.
Tingkatkan Iman saat Ramadan dengan Berpuasa Mata
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah SWT telah menganugerahkan kenikmatan yang sangat agung berupa mata. Melalui mata, kita mampu melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, mata juga memiliki potensi untuk membawa kita menuju surga atau justru menjerumuskan kita ke dalam neraka, tergantung pada bagaimana kita menggunakan anugerah ini.
Salah satu hal terpenting yang harus dijaga oleh mata adalah menghindari pandangan yang tidak dihalalkan oleh syariat. Terlebih lagi saat kita sedang menjalankan ibadah puasa, menjaga pandangan menjadi sebuah pelatihan spiritual yang sangat berharga untuk mendidik jiwa agar senantiasa bertakwa. Ingatlah, tujuan utama puasa adalah untuk mencapai tingkatan mutaqin atau orang-orang yang bertakwa.
Jamaah yang berbahagia,
Menjaga pandangan mata, atau yang sering disebut “puasa mata”, mungkin terasa lebih sulit di era modern ini. Manusia secara alami cenderung tertarik pada lawan jenis. Di zaman sekarang, banyak wanita yang kurang menjaga rasa malunya, keluar rumah dengan pakaian yang minim dan terbuka. Keberadaan mereka bisa kita jumpai di mana saja: di televisi, internet, surat kabar, majalah, kendaraan umum, sekolah, kampus, papan iklan, hingga di pusat perbelanjaan. Seolah-olah dunia ini dipenuhi oleh pemandangan wanita yang mengumbar aurat, memamerkan keindahan fisik mereka.
Bahkan, kondisi ini terkadang merambah ke tempat-tempat yang seharusnya menjadi pusat ibadah, seperti tempat pengajian dan masjid. Masih ada saja wanita yang tanpa sungkan mempertontonkan bentuk tubuhnya, meskipun mengenakan jilbab. Pakaian yang ketat, parfum yang menyengat, dan cara berpakaian yang tidak sesuai syariat menjadi tantangan berat bagi seorang Muslim yang ingin menjaga kesempurnaan puasanya.
Oleh karena itu, selain dituntut untuk menjaga aurat dan berpakaian secara syar’i, baik pria maupun wanita juga dituntut untuk mampu menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nûr ayat 30-31:
“Katakanlah kepada orang laki-laki, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.'”
Menahan pandangan bukan berarti menutup mata sepenuhnya atau selalu menundukkan kepala ke tanah. Tentu saja, hal ini tidak akan mampu dilaksanakan dan bukan makna yang sesungguhnya.
Yang dimaksud dengan menahan pandangan adalah menjaganya agar tidak liar, tidak mengamati secara detail, dan tidak menikmati keindahan atau ketampanan seseorang secara berlebihan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan memasukkan ke dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad)
Kaum muslimin wal muslimat yang dimuliakan Allah,
Pandangan mata perlu dijaga dengan sungguh-sungguh karena banyak sekali akibat negatif yang ditimbulkannya. Seorang penyair Arab pernah berkata, “Semua bencana itu bersumber dari pandangan, sebagaimana api yang besar itu bersumber dari percikan bunga api. Betapa banyak pandangan yang menancap ke dalam hati seseorang, seperti panah yang terlepas dari busurnya. Berasal dari matalah semua marabahaya. Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya. Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana.”
Menurut Ibnul Qayyim, pandangan mata yang haram akan memicu munculnya lintasan pikiran. Lintasan pikiran kemudian melahirkan ide, yang selanjutnya memunculkan nafsu.
Nafsu akan melahirkan kehendak, dan kehendak itu akan menguat hingga menjadi tekad yang kuat. Pada akhirnya, tekad ini sering kali terwujud dalam perbuatan zina. Seperti kata pepatah, “Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam, kemudian bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.”
Di samping itu, menurut Hudzaifah, pandangan maksiat dapat merusak amal ibadah. Beliau pernah berkata, “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya, berarti ia telah membatalkan puasanya.”
Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk menjaga mata kecuali dengan senantiasa mengingat kehadiran Allah SWT dan menjauhi segala penyebab yang dapat mengumbar pandangan. Segeralah palingkan pandangan ketika tanpa sengaja melihat sesuatu yang diharamkan. Ini adalah salah satu bentuk menjaga kesucian puasa dan meningkatkan kualitas iman kita di bulan Ramadan.





