Try Sutrisno: Dari Jualan Rokok ke Kursi Wapres, Kisah yang Tak Terduga

Dari Penjual Air Hingga Orang Nomor Dua: Jejak Perjuangan Try Sutrisno

Kisah hidup Jenderal (Purn.) Try Sutrisno merupakan potret nyata perjalanan seorang anak bangsa yang meniti karier dari bawah, berjuang keras menembus keterbatasan, hingga akhirnya mencapai puncak kekuasaan negara sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia keenam. Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno bukan berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang elite atau kekuasaan. Masa kecilnya diisi dengan berbagai pekerjaan demi membantu perekonomian keluarga, sebuah pengalaman yang membentuk karakternya menjadi pribadi yang gigih dan tak pernah melupakan akarnya.

Sebelum menjejakkan kaki di dunia militer dan politik, Try Sutrisno pernah merasakan pahit getirnya kehidupan sebagai seorang pedagang. Ia pernah menjadi penjual rokok, membagikan koran sebagai loper, hingga menjajakan air minum di stasiun kereta api. Perjuangan di usia belia ini membekalinya dengan ketangguhan dan pemahaman mendalam tentang kehidupan masyarakat kecil. Ironisnya, sosok yang pernah berjuang di jalanan ini kelak akan menduduki salah satu posisi paling strategis di pemerintahan Indonesia.

Perjalanan karier Try Sutrisno di dunia militer dimulai pada tahun 1956 ketika ia diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Baru setahun menimba ilmu, ia sudah diterjunkan langsung ke medan pertempuran. Dedikasi dan keberaniannya sejak usia muda mulai terlihat, menandai awal dari karier militernya yang cemerlang.

Meraih Puncak Kekuasaan: Peran Strategis di Orde Baru

Namanya mulai diperhitungkan secara luas saat ia dipercaya memegang jabatan sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sebuah posisi yang menempatkannya sangat dekat dengan pusat kekuasaan Orde Baru. Sebelum itu, ia juga pernah menjabat sebagai ajudan Presiden Soeharto, sebuah peran yang menunjukkan tingkat kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh kepala negara.

Namun, menariknya, jalan Try Sutrisno menuju kursi Wakil Presiden tidaklah mulus, bahkan ia bukanlah pilihan utama Presiden Soeharto sendiri. Pada tahun 1993, saat pemilihan calon Wakil Presiden, nama B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan dikenal sebagai teknokrat ulung, menjadi kandidat kuat. Habibie bahkan mendapatkan dukungan signifikan dari partai-partai berbasis Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Di sisi lain, kalangan ABRI memiliki agenda dan perhitungan politik tersendiri. Mereka secara aktif mendorong Try Sutrisno untuk mendampingi Soeharto. Dari perspektif militer, Try Sutrisno dianggap sebagai sosok yang lebih dapat diterima dan mampu menjaga stabilitas dalam struktur kekuasaan yang ada. Melalui proses politik yang kompleks dan penuh dinamika, akhirnya Try Sutrisno-lah yang terpilih menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Soeharto untuk periode 1993–1998, meskipun dengan catatan bahwa ia bukanlah pilihan pertama sang Presiden.

Biografi Singkat dan Jejak Karier Try Sutrisno

  • Nama Lengkap: Try Sutrisno
  • Tempat, Tanggal Lahir: Surabaya, 15 November 1935
  • Istri: Tuti Sutiawati (Almarhumah)

Karier Militer

Try Sutrisno meniti karier yang panjang dan cemerlang di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia berhasil menduduki sejumlah posisi strategis yang menunjukkan kapabilitas dan pengabdiannya, antara lain:

  • Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD): 1986–1988
  • Panglima ABRI (kini TNI): 1988–1993
  • Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI): 1985–1993

Karier Politik

Puncak karier politik Try Sutrisno adalah ketika ia menjabat sebagai:

  • Wakil Presiden RI ke-6: 11 Maret 1993 – 11 Maret 1998
    • Menggantikan posisi Soedharmono.
    • Digantikan oleh B. J. Habibie setelah masa jabatannya berakhir.

Selama aktif dalam dunia politik, Try Sutrisno pernah berafiliasi dengan partai-partai seperti Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP).

Kisah hidup Try Sutrisno adalah sebuah refleksi nyata bahwa jalan menuju kesuksesan dan kekuasaan dapat ditempuh melalui berbagai rute, bahkan yang paling tidak terduga. Dari seorang anak yang berjuang di stasiun kereta api, ia membuktikan bahwa dengan kesetiaan, dedikasi, dan kerja keras yang tak kenal lelah, seseorang dapat mencapai panggung tertinggi dalam pemerintahan sebuah negara. Pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan turut membentuk karakternya, menjadikannya sosok yang tetap membumi meskipun telah menduduki jabatan penting di republik ini.

Pos terkait