Bapak Bangsa Berpulang: Mengenang Jasa dan Pengabdian Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI
Indonesia berduka cita mendalam atas berpulangnya salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa, Try Sutrisno, yang pernah mengemban amanah sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia. Beliau mengembuskan napas terakhirnya pada Senin pagi, 2 Maret 2026, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD, Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya, yang membenarkan wafatnya negarawan dan tokoh militer berpengaruh ini.
Try Sutrisno, yang lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur, dikenal luas sebagai figur yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia militer dan pemerintahan. Peranannya dalam menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan kariernya yang cemerlang. Kepergian beliau meninggalkan lubang yang tak tergantikan dalam peta sejarah nasional, meninggalkan warisan pengabdian yang patut dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia.
Perjalanan Karier Militer dan Politik: Dari Medan Perang hingga Istana
Karier militer Try Sutrisno terbilang gemilang. Beliau memulai langkahnya dengan bergabung menjadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1956. Pengalaman tempur pertamanya yang signifikan adalah saat Operasi Pembebasan Irian Barat pada tahun 1962, di mana ia mulai mengenal sosok yang kelak akan menjadi mitra politiknya, Soeharto.
Seiring berjalannya waktu, kiprahnya di militer semakin menonjol. Pada tahun 1974, ia dipercaya untuk mengemban tugas sebagai ajudan Presiden Soeharto, sebuah posisi yang menempatkannya lebih dekat dengan pusaran kekuasaan dan pengambilan keputusan strategis. Puncak karier militernya diraih pada Agustus 1985, ketika ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal TNI dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakil KSAD) mendampingi Jenderal TNI Rudhini.
Tak berselang lama, pada Juni 1986, hanya sepuluh bulan setelah menjabat sebagai Wakil KSAD, Try Sutrisno dipromosikan menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal TNI Rudhini. Posisi ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu komandan tertinggi di lingkungan Tentara Nasional Indonesia.
Mengemban Amanah sebagai Wakil Presiden
Setelah menorehkan prestasi di kancah militer, jalan karier Try Sutrisno berlanjut ke ranah politik eksekutif. Pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1993, beliau dipilih untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 1993–1998. Ia menjadi salah satu dari sedikit Wakil Presiden Indonesia yang berasal dari latar belakang militer, sebuah bukti dari kepercayaan yang diberikan padanya untuk turut serta dalam memimpin roda pemerintahan.
Selama masa jabatannya sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno turut berkontribusi dalam berbagai kebijakan pembangunan dan menjaga stabilitas nasional. Pengalaman panjangnya di militer memberikannya perspektif yang unik dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan dan pertahanan negara.
Tugasnya sebagai Wakil Presiden berakhir pada tahun 1998, ketika ia digantikan oleh B.J. Habibie dalam Sidang Umum MPR. Meskipun masa jabatannya telah usai, peran dan pengaruh Try Sutrisno dalam dinamika politik Indonesia tetap membekas.
Prosesi Pemakaman dan Penghormatan Terakhir
Kepergian almarhum Try Sutrisno menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga besar, kolega, dan seluruh masyarakat Indonesia. Sesuai dengan tradisi dan penghormatan yang layak bagi seorang tokoh bangsa, jenazah almarhum direncanakan akan dimandikan terlebih dahulu di rumah duka RSPAD.
Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke kediaman duka yang beralamat di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana, jenazah akan disemayamkan untuk memberikan kesempatan bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan.
Kisah hidup Try Sutrisno adalah cerminan dari dedikasi dan pengabdian seorang anak bangsa yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan dan keamanan Indonesia. Dari medan perang hingga kursi kekuasaan, beliau telah menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Pengabdiannya akan terus dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah perjalanan Republik Indonesia.





