Wardatina Mawa: Tangis Diam demi Anak Pasca Cerai

Wardatina Mawa: Bangkit dari Keterpurukan, Berjuang Menjadi Ibu dan Ayah Tunggal

Keputusan berat untuk mengakhiri bahtera rumah tangga dengan mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Medan, Sumatera Utara, telah diambil oleh selebgram Wardatina Mawa. Meski kini mengaku telah bangkit dari keterpurukan, tak dapat dipungkiri bahwa ia tetap manusia biasa yang merasakan kesedihan mendalam, terutama ketika memikirkan nasib sang buah hati yang harus menghadapi kenyataan pahit perpisahan kedua orang tuanya.

“Kadang suka agak ngerasa sedih lihat anak. Kadang pulang-pulang kerja gitu Afnan tidur, kadang aku nangis diam-diam,” ungkap Wardatina Mawa dengan suara tertahan saat ditemui di kawasan Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, 3 Maret 2026. Ia menambahkan, “Jujur aku agak sedih juga karena anak kasihan juga harus dapet ujian seberat ini.”

Namun, di tengah gejolak emosi dan kesedihan yang melanda, Mawa menyadari bahwa ia harus tetap kuat. Ia harus mampu menjalani perannya sebagai ibu sekaligus ayah bagi sang anak. Dengan segala upaya, ia berusaha menampilkan keceriaan di depan putra kesayangannya, sembari berusaha menutupi aib dan problematika rumah tangganya dengan Insanul Fahmi.

Tak dapat dihindari, sang anak kerap kali menanyakan keberadaan ayahnya. Menanggapi hal ini, Mawa selalu memberikan penjelasan yang positif mengenai Insanul kepada putranya. Ia berpesan, “Sempat bilang ke anak, kalau ibu sama ayahnya walaupun berpisah, tapi anak ke ayah tidak akan berpisah. Mau sampai kapanpun itu, mereka harus tetap ada ikatan bonding.” Pesan ini mencerminkan keinginannya agar ikatan emosional antara anak dan ayah tetap terjaga, terlepas dari status pernikahan orang tuanya.

Di sisi lain, Mawa memastikan bahwa ia tidak akan pernah menghambat atau menghalang-halangi Insanul jika sang ayah ingin bertemu dengan putra mereka. Sejak memutuskan untuk berpisah rumah hingga proses gugatan cerai berjalan, Mawa mengklaim selalu membuka pintu lebar-lebar bagi Insanul untuk bertemu dengan anak mereka.

“Selama ini dia koar-koar juga belum bisa ditemuin sama anak. Udah bolak-balik ketemu kok. Jadi walaupun aku nggak ada komunikasi sama dia, tapi dia tetep ada komunikasi sama mbak (pengasuh). Jadi aman kok,” jelas Mawa, menepis anggapan bahwa ia mempersulit pertemuan ayah dan anak. Ia menegaskan bahwa komunikasi antara Insanul dan sang anak, meskipun melalui perantara pengasuh, tetap berjalan lancar.

Meskipun menghadapi cobaan yang berat dan harus berjuang menjadi orang tua tunggal, Wardatina Mawa tidak pernah merasa menyesal atas keputusan yang telah diambilnya untuk menceraikan Insanul Fahmi. Sebaliknya, ia lebih banyak merasakan rasa syukur.

“Enggak menyesal, lebih banyak disyukurin aja. Karena udah ada kejadian kayak gini membuat aku lebih banyak bersyukur, kalau Allah itu pasti bakalan memberikan kemudahan di setiap kesulitannya,” ujar Wardatina Mawa dengan keyakinan. Pengalamannya ini justru membuatnya semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan percaya bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang menyertainya.

Keputusan Mawa untuk berpisah dan berjuang sendiri demi sang anak merupakan bukti kekuatan dan keteguhan hatinya. Ia menunjukkan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru yang harus dihadapi dengan keberanian dan optimisme. Perjuangannya menjadi ibu dan ayah tunggal diharapkan dapat menginspirasi banyak orang yang berada dalam situasi serupa, untuk tetap tegar dan percaya pada kekuatan diri sendiri serta pertolongan Tuhan.

Proses perceraian memang selalu menjadi momen yang menyakitkan, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban dari konflik orang tua. Namun, cara Mawa dalam menyikapi perpisahan ini patut diapresiasi. Ia tidak larut dalam kepahitan, melainkan fokus pada kebahagiaan sang anak dan menjaga ikatan emosional antara anak dan ayahnya. Sikapnya yang dewasa dan penuh kasih ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan psikologis sang anak di masa depan.

Peran sebagai orang tua tunggal memang tidak mudah. Mawa harus mampu membagi waktu dan energi untuk bekerja, mengurus rumah tangga, serta memberikan perhatian penuh kepada sang anak. Namun, dengan dukungan dari lingkungan terdekat, seperti pengasuh yang ia sebutkan, serta kekuatan mental yang ia miliki, Mawa optimis dapat melalui semua tantangan ini.

Kisah Wardatina Mawa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap masalah, selalu ada peluang untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih kuat. Dengan keyakinan pada diri sendiri dan kepercayaan pada takdir Tuhan, segala kesulitan dapat diatasi, dan kebahagiaan dapat kembali diraih, meski dalam bentuk yang berbeda.

Pos terkait