Psikolog dan grafolog, Joice Manurung, memberikan pandangan mendalam mengenai kriteria anak-anak yang paling rentan menjadi sasaran pelaku child grooming. Fenomena child grooming, menurut penjelasannya, adalah sebuah proses bertahap yang melibatkan manipulasi psikologis secara sistematis oleh pelaku terhadap anak. Dalam tahapan ini, pelaku berupaya membangun hubungan yang terasa dekat, nyaman, dan aman bagi anak serta keluarganya. Tujuannya adalah agar anak dan keluarganya memberikan kepercayaan penuh dan menyerahkan kendali atas diri anak kepada pelaku.
“Secara umum, anak-anak yang menjadi target adalah mereka yang berasal dari keluarga atau sedang berada dalam kondisi rapuh,” ungkap Joice dalam sebuah program talk show di KompasTV. Ia memberikan contoh konkret mengenai kondisi rapuh yang dimaksud. Misalnya, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, sering mengalami kekerasan, atau merasa diabaikan. Anak-anak dalam situasi seperti ini cenderung merasakan kesepian, kurang mendapatkan perhatian, memiliki harga diri rendah, serta diliputi kecemasan dan ketakutan.
Mekanisme Manipulasi Pelaku Child Grooming
Joice menjelaskan bahwa pelaku yang manipulatif memanfaatkan kondisi kerentanan ini untuk berperan sebagai sosok yang mampu memenuhi kebutuhan afeksi atau kasih sayang anak. “Kebutuhan afeksi ini ditunjukkan melalui berbagai tindakan. Contohnya, di awal proses, pelaku mungkin memberikan masukan atau saran kepada anak, bahkan mendampingi mereka ketika anak sedang merasa takut, cemas, atau membutuhkan teman bicara,” paparnya.
Tindakan-tindakan awal yang dilakukan pelaku ini umumnya membuat anak merasa senang. Mereka merasa ada orang lain yang mau mendengarkan dan mendampingi mereka. Joice menekankan bahwa pada tahap awal ini, pelaku akan berusaha mempertahankan perilaku yang membuat anak merasa nyaman. “Tidak ada perilaku menyimpang yang terlihat di awal. Namun, secara perlahan, pelaku mulai melakukan desensitisasi, yaitu mengurangi kepekaan emosional anak terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pantas,” jelasnya.
Tahap Lanjutan Manipulasi
Setelah berhasil menciptakan perasaan senang dan aman pada anak melalui afeksi awal, pelaku secara bertahap akan mulai memperkenalkan hal-hal yang tidak semestinya. Ini bisa berupa sentuhan fisik atau pelukan yang berlebihan, yang kemudian dibuat agar anak merasa hal tersebut adalah tindakan normal dari orang yang memberikan kasih sayang.
Ketika anak sudah mulai merasakan adanya afeksi dan perhatian, mereka cenderung tidak ingin kehilangan sosok yang dianggap sebagai pemberi kasih sayang tersebut. Mereka akan berusaha mempertahankan hubungan ini. “Jika anak mulai menolak sentuhan atau pelukan yang tidak pantas, pelaku akan menanamkan rasa takut pada anak bahwa jika mereka menolak, pelaku akan pergi atau meninggalkan mereka. Ini membuat anak takut kehilangan,” kata Joice.
Lingkaran Setan Pemerasan Emosional
Lebih lanjut, Joice menambahkan bahwa jika anak menunjukkan penolakan, pelaku dapat menggunakan ancaman untuk memanipulasi mereka lebih jauh. “Jika anak menolak, pelaku bisa saja mengancam, ‘Kamu nanti tidak saya sayangi lagi,’ misalnya. Hal ini dimanfaatkan oleh pelaku untuk menciptakan lingkaran setan,” terangnya. Dalam situasi ini, anak mungkin menyadari bahwa apa yang terjadi sudah tidak benar, namun kebutuhan mereka akan kasih sayang dan perhatian yang dipenuhi oleh pelaku membuat mereka tetap bertahan dalam situasi berbahaya tersebut.
Ciri-ciri Anak Rentan Menjadi Korban
Berdasarkan penjelasan Joice, anak-anak yang memiliki ciri-ciri berikut lebih berisiko menjadi target child grooming:
- Anak dari Keluarga Tidak Harmonis: Lingkungan keluarga yang penuh konflik, pertengkaran, atau kurangnya komunikasi positif dapat membuat anak mencari perhatian di luar rumah.
- Anak yang Merasa Diabaikan: Kurangnya perhatian dari orang tua atau pengasuh, baik secara emosional maupun fisik, dapat membuat anak merasa kesepian dan mudah terpengaruh oleh orang lain yang menunjukkan kepedulian.
- Anak dengan Harga Diri Rendah: Anak yang sering direndahkan atau merasa tidak berharga cenderung mencari validasi dari luar, membuat mereka lebih mudah dimanipulasi.
- Anak yang Mengalami Kecemasan dan Ketakutan: Perasaan cemas dan takut yang tidak terselesaikan dapat membuat anak rentan mencari pelarian atau dukungan dari sosok yang mereka percaya.
- Anak yang Kesepian: Kebutuhan sosial dan emosional yang tidak terpenuhi dapat membuat anak mudah terjerat dalam hubungan palsu yang ditawarkan pelaku.
- Anak yang Terlalu Percaya: Sifat polos dan mudah percaya pada orang dewasa dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk membangun kedekatan yang berbahaya.
Memahami kriteria anak yang rentan dan modus operandi pelaku child grooming adalah langkah awal yang krusial dalam upaya pencegahan dan perlindungan anak. Kesadaran orang tua dan lingkungan sekitar memegang peranan penting dalam mendeteksi dini dan memberikan bantuan kepada anak-anak yang berisiko.






