Kabupaten Wonosobo Masih Terkendali dari Kasus Campak
Di tengah lonjakan kasus campak di beberapa wilayah Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo masih tercatat sebagai daerah yang belum mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak. Dinas Kesehatan setempat memastikan bahwa kondisi penyebaran penyakit ini masih stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran seperti yang terjadi di daerah lain.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Wonosobo, Heriyono, menjelaskan bahwa hingga saat ini, data lapangan tidak menunjukkan adanya lonjakan yang signifikan. Ia juga menyampaikan bahwa situasi di Wonosobo tidak seburuk berita yang beredar di luar sana.
“Kasus campak kalau untuk kriteria KLB belum terjadi di Wonosobo. Kondisinya tidak semengerikan berita yang ada di luar sana,” ujarnya kepada Tribunjateng.com, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan data medis pada tiga bulan pertama tahun 2026 (hingga akhir Maret), tercatat ada 120 suspek dengan 5 kasus yang terkonfirmasi positif dari 119 sampel laboratorium. Angka ini dinilai masih dalam koridor fluktuasi normal jika dibandingkan dengan total 18 kasus positif pada sepanjang tahun 2025 lalu.
Heriyono menjelaskan bahwa kunci terkendalinya kasus campak di Wonosobo adalah tingginya capaian imunisasi pada anak usia sekolah yang mencapai angka 98 persen. Namun, ia memberikan catatan pada imunisasi bayi yang baru mencapai 85 persen.
“Artinya masih ada sekitar 15 persen bayi yang belum terproteksi. Kendalanya klasik, ada orang tua yang khawatir anaknya demam atau rewel setelah imunisasi, hingga faktor keyakinan tertentu,” jelasnya.
Pentingnya Imunisasi Bayi
Campak, yang menular melalui droplet, sangat berbahaya bagi anak dengan daya tahan tubuh rendah karena risiko komplikasi penyakit penyerta. Gejala umum yang harus diwaspadai orang tua meliputi demam tinggi yang disertai munculnya bercak merah pada tubuh.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Wonosobo terus melakukan pendekatan edukatif melalui tenaga kesehatan dan perangkat desa tanpa melakukan pemaksaan. Masyarakat diimbau untuk melengkapi jadwal imunisasi anak pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.
“Layanan penanganan campak tersedia di seluruh Puskesmas. Kami minta masyarakat tidak lengah, tetap terapkan pola hidup bersih dan sehat serta pastikan anak mendapat ASI eksklusif untuk memperkuat imun,” pungkasnya.
Upaya Pencegahan dan Edukasi
Dalam upaya pencegahan, Dinkes Wonosobo terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui sosialisasi dan edukasi secara langsung oleh petugas kesehatan. Pendekatan ini dilakukan agar masyarakat lebih memahami manfaat imunisasi tanpa merasa dipaksa.
Selain itu, pihak Dinkes juga aktif dalam memberikan informasi mengenai gejala awal campak agar orang tua dapat segera mengambil tindakan jika ditemukan indikasi penyakit tersebut. Hal ini menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi serius.
Kesimpulan
Meskipun kasus campak mengalami lonjakan di beberapa wilayah, Kabupaten Wonosobo berhasil menjaga stabilitas kondisi kesehatan masyarakat. Tingkat imunisasi yang tinggi, khususnya pada anak usia sekolah, menjadi salah satu faktor utama dalam pengendalian penyakit ini. Namun, perlu adanya peningkatan kesadaran terhadap imunisasi bayi agar lebih banyak anak yang terlindungi dari risiko infeksi campak.
Dengan terus memperkuat edukasi dan memastikan akses layanan kesehatan yang baik, Dinkes Wonosobo berharap dapat menjaga kondisi kesehatan masyarakat secara optimal.






