Yossi Khoerul Izata Lulus Terbaik Unsoed dengan IPK Sempurna lewat Proyek Board Game Inspiratif

Perjalanan Yossi Khoerul Izata dari SMK hingga Lulusan Terbaik FEB Unsoed

Di Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman, ribuan wisudawan duduk berdampingan dengan keluarga mereka yang datang dari berbagai daerah. Suasana haru memenuhi ruangan saat nama-nama wisudawan dipanggil satu per satu. Di tengah keriuhan itu, Yossi Khoerul Izata melangkah menuju mimbar. Ia berdiri di depan mikrofon, menyampaikan pidato sebagai perwakilan wisudawan sekaligus lulusan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Namun, perjalanan Yossi menuju podium wisuda tidak ditempuh melalui skripsi seperti kebanyakan mahasiswa. Ia menyelesaikan studinya melalui jalur proyek—sebuah inovasi board game literasi keuangan yang ia kembangkan bersama timnya selama masa kuliah. Proyek tersebut bahkan mengantarkannya meraih medali emas.

Berbagai prestasi yang ia raih, ditambah capaian IPK sempurna, kemudian membawanya berdiri di mimbar wisuda sebagai lulusan terbaik sekaligus perwakilan wisudawan. Ketika akhirnya harus berbicara di hadapan ribuan orang di Graha Widyatama, Yossi mengaku sempat merasakan gugup.

“Jujur, awalnya cukup gugup. Belum pernah sebelumnya berbicara di depan ribuan orang seperti itu. Tapi di saat yang sama juga merasa sangat bersyukur bisa mewakili teman-teman wisudawan,” ujarnya.

Tepuk tangan bergema dari berbagai sudut ruangan ketika pidatonya selesai. Namun bagi Yossi, berdiri di podium wisuda hari itu bukan sekadar tentang berbicara di depan ribuan orang. Momentum itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai dari langkah-langkah kecil beberapa tahun sebelumnya.

Dari Bangku SMK Menuju Dunia Kampus

Perjalanan Yossi menuju titik tersebut dimulai ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 1 Purwokerto. Sejak masa sekolah, ia sudah terbiasa aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan aktivitas sekolah yang mendorongnya untuk belajar banyak hal di luar kelas.

Lingkungan sekolah yang menekankan pembelajaran berbasis praktik membuatnya terbiasa belajar melalui pengalaman langsung. Dari sana pula tumbuh keberanian untuk mencoba berbagai kesempatan baru. Ketika memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Yossi memilih Program Studi Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman.

“Waktu masuk kuliah sebenarnya saya hanya ingin belajar dengan baik dan mencoba berbagai pengalaman yang ada di kampus. Tidak pernah membayangkan akan sampai di titik seperti sekarang,” katanya.

Bagi Yossi, kuliah bukan sekadar melanjutkan pendidikan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk membuka lebih banyak ruang belajar dan pengalaman baru.

Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Di balik perjalanan akademiknya, Yossi juga tumbuh dari latar belakang keluarga sederhana. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya terpaut cukup jauh usianya, sekitar lima belas tahun lebih muda dan kini masih berusia tujuh tahun.

Sejak kecil, Yossi sudah terbiasa menghadapi berbagai dinamika keluarga. Ketika masih bayi, ia sempat ditinggal ibunya ke Jakarta karena harus bekerja. Ia kemudian lebih banyak diasuh oleh pakde. Saat usianya sekitar tiga hingga empat tahun, sang ibu juga sempat bekerja di Taiwan selama beberapa tahun demi membantu perekonomian keluarga.

Kini ayahnya bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan. Kondisi ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah membuat Yossi sejak awal memahami pentingnya berusaha keras untuk masa depan. Meski demikian, ia bersyukur memiliki orang tua yang selalu memberi kepercayaan penuh pada pilihannya.

“Keluarga saya tipe yang membebaskan. Mereka selalu bilang, kamu yang paling tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Jadi selama itu baik, mereka selalu mendukung,” katanya.

Bagi Yossi, dukungan sederhana dari orang tua itulah yang membuatnya bisa melangkah dengan lebih percaya diri. Restu keluarga menjadi salah satu alasan mengapa ia merasa jalannya selama kuliah terasa lebih ringan.

Organisasi sebagai Ruang Belajar

Selama menjalani perkuliahan, Yossi tidak hanya fokus pada kegiatan akademik di kelas. Ia juga aktif di Kelompok Studi Pasar Modal, sebuah organisasi yang menjadi ruang belajar tentang dunia investasi dan pasar keuangan. Di sana, ia mempelajari berbagai hal mulai dari analisis saham hingga dinamika pasar keuangan.

Ia bahkan dipercaya memegang peran dalam pengelolaan sumber daya manusia di organisasi tersebut. Bersama timnya, ia mengoordinasikan berbagai program diskusi dan seminar yang bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang literasi keuangan.

“Di organisasi saya belajar banyak hal yang tidak selalu didapatkan di kelas. Mulai dari kerja tim, manajemen waktu, sampai bagaimana berkomunikasi dengan banyak orang,” ungkapnya.

Selain aktif di organisasi, Yossi juga terlibat sebagai asisten laboratorium akuntansi. Dalam peran tersebut, ia membantu mahasiswa D3 yang sedang menjalani praktikum akuntansi, termasuk pada mata praktikum akuntansi biaya.

Menempa Diri Lewat Kompetisi dan Inovasi

Sejak semester tiga, Yossi mulai mencoba mengikuti berbagai kompetisi akademik. Awalnya ia hanya ingin mencoba, tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi. “Waktu itu sebenarnya cuma ingin mencoba saja. Karena belum pernah ikut lomba, jadi memang banyak kalah di awal,” katanya.

Namun dari proses tersebut, ia justru belajar banyak hal. Setiap kompetisi memberinya pengalaman baru dan melatih cara berpikir yang lebih kritis. Selama masa kuliah, Yossi tercatat telah mengikuti lebih dari tiga puluh kompetisi. Beberapa di antaranya berhasil ia menangkan, seperti National Accounting Competition tahun 2024, National Accounting Cycle 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Malikussaleh, serta National Accounting and Tax Olympiad 2025 yang diadakan oleh Politeknik Negeri Bandung.

Ia juga pernah meraih penghargaan Best Speaker dalam kompetisi Accounting Case Competition serta meraih juara dua dalam BAK Audit Competition 2024.

“Dari lomba-lomba itu saya belajar bahwa prosesnya jauh lebih penting daripada sekadar menang atau kalah. Karena di situ kita belajar berpikir, bekerja sama, dan menghadapi tekanan,” ujarnya.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Yossi bersama timnya juga mengembangkan sebuah proyek inovasi yang berangkat dari ide sederhana: membuat media pembelajaran literasi keuangan yang lebih menarik bagi remaja. Mereka merancang sebuah board game edukasi yang konsepnya terinspirasi dari permainan monopoli. Dalam permainan tersebut, para pemain akan menghadapi berbagai kartu kejadian finansial yang berkaitan dengan pengelolaan uang, investasi, serta pengambilan keputusan keuangan.

Tujuan permainan itu sederhana namun penting—mengenalkan literasi keuangan kepada remaja dengan cara yang lebih menyenangkan. Tak disangka, proyek tersebut justru membawa Yossi dan timnya meraih medali emas dalam ajang World Youth Invention and Innovation Award 2024 yang diselenggarakan di Yogyakarta.

“Kami ingin membuat literasi keuangan terasa lebih dekat dengan anak muda. Lewat permainan, orang bisa belajar tanpa merasa sedang belajar,” jelasnya.

Proyek board game itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan akademiknya hingga menyelesaikan studi melalui jalur proyek.

Belajar dari Dunia Profesional

Selain aktif di kampus, Yossi juga mulai menapaki pengalaman profesionalnya melalui program magang. Ia menjalani magang selama lima bulan sebagai auditor intern di Kantor Akuntan Publik Anwar & Rekan di Jakarta Selatan. Selama menjalani program tersebut, ia terlibat dalam berbagai proses audit, mulai dari membantu perencanaan audit, melakukan identifikasi risiko, hingga melakukan substantive testing terhadap ratusan transaksi keuangan seperti pendapatan, biaya, dan persediaan.

Ia juga membantu menyusun dokumentasi audit working papers serta mendukung proses penyusunan laporan keuangan klien. Pengalaman tersebut memberinya gambaran langsung tentang bagaimana praktik audit profesional dijalankan di dunia kerja.

Pesan untuk Mahasiswa Unsoed

Kini, setelah toga dilepas dan riuh wisuda perlahan mereda, Yossi memandang masa depan dengan rasa syukur. Perjalanan kuliah yang ia lalui bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang proses belajar dari berbagai pengalaman. Kepada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang masih menjalani perkuliahan, ia menyampaikan pesan sederhana.

“Setiap orang pasti punya fase sulit. Tapi sebaik-baiknya proses pasti ada akhirnya. Jadi jalani saja pelan-pelan, lakukan yang terbaik setiap hari,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perjalanan kuliah tidak selalu harus sempurna sejak awal. “Tidak harus selalu cepat. Yang penting terus mencoba dan tidak berhenti berusaha.”

Dari bangku SMK di Purwokerto hingga berdiri di podium Graha Widyatama sebagai lulusan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman, Yossi membuktikan satu hal: perjalanan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil. Dan terkadang, sebuah ide sederhana dapat menjadi awal dari perjalanan yang membawa seseorang melangkah jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.

Pos terkait