2026: IPO & EBUS Bersinar, Rights Issue Meroket

Aktivitas Pasar Modal Indonesia: IPO Mandek, Pendanaan Alternatif Tetap Bergeliat

Jakarta – Memasuki awal tahun 2026 hingga awal Maret, pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Meskipun belum ada satu pun perusahaan yang berhasil meluncurkan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO), instrumen pendanaan lainnya justru menunjukkan geliat yang positif. Data hingga 6 Maret 2026 mencatat belum adanya pencatatan saham baru di bursa, namun aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen lain tetap berjalan.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, memaparkan bahwa meskipun IPO masih sepi, pasar obligasi dan sukuk menunjukkan performa yang patut diperhitungkan. Hingga tanggal tersebut, telah diterbitkan sebanyak 37 emisi dari 26 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Total dana yang berhasil dihimpun dari instrumen ini mencapai angka fantastis, yaitu Rp 41,41 triliun. Angka ini menegaskan bahwa investor masih aktif mencari instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil menarik.

Selain itu, aksi korporasi melalui rights issue atau penerbitan saham hak memesan efek terlebih dahulu juga turut mewarnai pasar. Tercatat, per 6 Maret 2026, tiga perusahaan tercatat telah memanfaatkan skema ini untuk menghimpun dana. Total nilai yang berhasil dikumpulkan dari rights issue ini mencapai Rp 3,75 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di bursa masih memiliki strategi pendanaan yang beragam untuk mendukung ekspansi bisnis mereka.

Calon Emiten IPO: Dominasi Aset Besar Menanti

Meskipun aktivitas IPO di awal tahun 2026 terbilang minim, bursa efek memiliki daftar panjang perusahaan yang siap untuk melantai. Di dalam pipeline BEI, terdapat tujuh perusahaan yang sedang dalam antrean untuk menggelar IPO. Menariknya, mayoritas dari calon emiten ini memiliki skala aset yang besar. Berdasarkan klasifikasi aset, sebanyak enam perusahaan termasuk dalam kategori aset jumbo, dengan nilai aset di atas Rp 250 miliar.

Klasifikasi aset jumbo ini mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kapasitas operasional dan finansial yang kuat, serta potensi pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor yang mencari peluang investasi jangka panjang.

Sementara itu, hanya ada satu perusahaan dalam daftar IPO yang tergolong memiliki aset skala menengah. Merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK/04/2027, perusahaan dengan aset skala menengah memiliki nilai aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Keberadaan perusahaan berskala menengah ini juga memberikan kesempatan bagi investor yang ingin berinvestasi pada perusahaan yang sedang berkembang dengan potensi keuntungan yang lebih agresif.

Pipeline EBUS dan Rights Issue: Sektor Keuangan dan Properti Dominan

Tidak hanya di pasar saham, pipeline untuk instrumen EBUS juga menunjukkan geliat yang cukup aktif. Terdapat 20 emisi dari 13 penerbit yang siap diterbitkan dalam waktu dekat. Sektor keuangan menjadi kontributor terbesar dalam daftar ini, dengan lima penerbit yang berencana menerbitkan EBUS. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan potensi pertumbuhan sektor keuangan di Indonesia.

Selain sektor keuangan, sektor energi dan industri manufaktur masing-masing menyumbangkan dua penerbit EBUS. Sektor-sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian yang senantiasa membutuhkan pendanaan untuk pengembangan dan inovasi. Lebih lanjut, terdapat pula satu penerbit EBUS dari sektor bahan baku dan satu perusahaan dari sektor konsumer non-siklikal atau konsumer primer. Sektor konsumer primer, yang produknya dibutuhkan masyarakat tanpa terpengaruh siklus ekonomi, selalu menarik minat investor karena stabilitas permintaannya.

Meskipun demikian, Nyoman Yetna tidak merinci berapa estimasi total dana yang berpotensi dihimpun dari 13 penerbit EBUS tersebut. Namun, jumlah emisi yang cukup banyak menandakan potensi pendanaan yang signifikan akan masuk ke pasar modal.

Sementara itu, untuk pipeline rights issue, hanya ada satu perusahaan yang secara spesifik berencana melakukan penghimpunan dana melalui skema ini. Perusahaan tersebut bergerak di sektor properti dan real estate. Sektor properti seringkali membutuhkan suntikan dana segar untuk membiayai proyek-proyek pembangunan berskala besar, sehingga rights issue menjadi salah satu instrumen yang efektif.

Secara keseluruhan, meskipun pasar IPO masih tertahan, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen lain seperti EBUS dan rights issue menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap dinamis dan menawarkan berbagai peluang investasi bagi para pelaku pasar. Prospek ke depan pun menjanjikan dengan banyaknya perusahaan yang telah siap dalam pipeline untuk melakukan IPO, yang diharapkan dapat segera menambah semarak aktivitas di bursa efek.

Pos terkait