30 Ribu Mengungsi Lebanon Akibat Perang Timur Tengah

Ribuan Mengungsi Akibat Eskalasi Konflik Israel-Hizbullah di Lebanon

Jenewa, Swiss – Lonjakan permusuhan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon pekan ini telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sedikitnya 30.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring memburuknya situasi keamanan.

Ketegangan meningkat tajam setelah militer Israel melancarkan serangan udara di wilayah Lebanon sejak Senin (3/3/2026). Aksi balasan ini merupakan respons atas penembakan roket oleh Hizbullah ke wilayah Israel sehari sebelumnya. Insiden penembakan roket Hizbullah sendiri diduga merupakan balasan atas serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang dikabarkan telah merenggut nyawa hampir 800 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Babar Baloch, juru bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR), dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, Swiss, menyatakan, “Perkiraan konservatif menunjukkan bahwa hampir 30.000 orang saat ini ditampung dan terdaftar di tempat penampungan kolektif. Masih banyak lagi yang terpaksa tidur di mobil mereka di pinggir jalan atau masih terjebak dalam kemacetan.”

Dampak Luas: Pengungsian di Berbagai Wilayah dan Kepulangan Warga Suriah

Pengungsian massal dilaporkan terjadi di beberapa wilayah krusial di Lebanon selatan, Lembah Bekaa, dan pinggiran selatan Beirut. Eskalasi ini dipicu oleh peringatan evakuasi yang dikeluarkan oleh Israel kepada penduduk di lebih dari 53 desa di Lebanon, diikuti dengan serangan udara intensif di ketiga wilayah tersebut.

Situasi ini juga berdampak pada para pengungsi yang sudah berada di Lebanon. Di perbatasan Lebanon-Suriah, UNHCR mencatat peningkatan pergerakan lintas batas yang signifikan. Banyak pengungsi Suriah yang sebelumnya berlindung di Lebanon kini dilaporkan kembali menyeberang ke negara asal mereka.

Menghadapi potensi krisis kemanusiaan yang lebih besar, Baloch menambahkan, “Kami telah menyiapkan rencana kontinjensi untuk mengantisipasi kemungkinan arus masuk pengungsi dari Lebanon jika situasi semakin memburuk.”

Respons Pemerintah Lebanon dan Upaya Bantuan Kemanusiaan

Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah Lebanon telah mengambil langkah cepat dengan membuka 21 tempat penampungan pengungsi di berbagai lokasi strategis.

Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan bahwa jumlah warga yang mengungsi akan terus bertambah secara signifikan. Samer Abdeljaber, Direktur Regional WFP untuk Timur Tengah, yang berbicara dari Kairo, Mesir, menjelaskan, “Dalam beberapa jam setelah tempat penampungan dibuka di Lebanon, WFP telah berada di lapangan, menyediakan makanan hangat, ransum siap saji, dan roti bagi keluarga yang tidak memiliki tempat lain untuk bertahan hidup.”

Namun, dampak konflik ini tidak hanya terbatas pada pengungsian. Konflik yang meningkat juga memberikan beban tambahan pada rantai pasokan kemanusiaan, terutama dalam pengiriman barang dan transportasi udara. Untuk mengatasi tantangan ini, WFP sedang mengupayakan diversifikasi jalur distribusi bantuan, termasuk melalui rute darat dari Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Korban Sipil dan Seruan Gencatan Senjata

Di tengah meningkatnya ketegangan, Hizbullah pada Selasa menyatakan telah berhasil menargetkan tiga pangkalan militer Israel sebagai respons atas serangan Israel terhadap basis-basis kelompok tersebut di Lebanon, termasuk di pinggiran selatan Beirut.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) melalui juru bicaranya, Ravina Shamdasani, menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik ini. Laporan mengenai korban sipil dan kerusakan infrastruktur sipil, serta gelombang pengungsian baru di Lebanon selatan, menjadi perhatian utama.

“Kami mendesak kedua belah pihak untuk segera mengakhiri eskalasi kekerasan yang besar ini dan kembali pada gencatan senjata yang telah disepakati,” tegas Shamdasani.

Data terbaru menunjukkan bahwa sedikitnya 52 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 150 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel di Lebanon sejak Senin. Situasi di Iran yang memanas juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Lebanon bisa menjadi sasaran serangan Israel lebih lanjut.

Pos terkait