Mengenal Tanda dan Amalan Meraih Lailatul Qadar Menurut Ustadz Abdul Somad
Bulan Ramadhan merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Di antara berbagai keutamaan bulan suci ini, terdapat satu malam yang sangat dinantikan, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini seringkali menjadi tujuan utama para Muslim dalam beribadah. Namun, bagaimana cara mengetahui apakah seseorang telah meraih malam penuh berkah ini? Dan amalan apa saja yang perlu dilakukan untuk menggapainya? Ustadz Abdul Somad (UAS) memberikan pencerahan mendalam mengenai hal ini.
Ramadhan 1447 Hijriah telah memasuki paruh kedua, menyisakan dua hari lagi sebelum memasuki fase 10 hari terakhir. Periode ini seringkali menjadi puncak kerinduan umat Islam untuk meraih Lailatul Qadar.
Makna Lailatul Qadar dan Perubahan Diri
Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa makna mendasar dari Lailatul Qadar adalah dorongan bagi umat Islam untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT setiap malam. Ia menekankan bahwa Allah tidak secara gamblang memberi tahu siapa saja yang mendapatkan malam istimewa ini, sama seperti halnya Allah tidak memberitahu siapa yang doanya mustajab, taubatnya diterima, atau hajinya mabrur.
“Apa tanda kita dapat lailatul qadar? Allah tak memberitahu siapa yang mendapat taubatan nasuha, doa mustajab di hari Jumat, haji mabrur, dan Allah tak memberitahu siapa yang dapat Lailatul Qadar,” terang Ustadz Abdul Somad.
Tujuan dari kerahasiaan ini adalah agar setiap Muslim senantiasa merasa berharap dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Meskipun demikian, Ustadz Abdul Somad memaparkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara orang yang telah mendapatkan Lailatul Qadar dan yang belum. Perbedaan tersebut terlihat dari perubahan sikap dan perilaku seseorang sebelum dan sesudah bulan Ramadhan.
“Misalnya ada orang dulunya pelit atau kikir, namun setelah Ramadhan menjadi dermawan atau rajin sedekah,” ujar UAS, memberikan contoh konkret mengenai perubahan positif yang bisa menjadi indikator.
Selain perubahan dalam kedermawanan, ada beberapa tanda lain yang dirasakan oleh mereka yang beruntung meraih malam Lailatul Qadar:
- Ketenangan Hati (Sakinah): Perasaan damai batin yang mendalam, hati terasa ringan, dan terbebas dari kegelisahan yang seringkali menghantui.
- Meningkatnya Semangat Ibadah: Timbul dorongan kuat untuk terus menerus beribadah, termasuk dalam melaksanakan shalat berjamaah, shalat tahajud, dan membaca Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan.
- Terjaga dari Maksiat: Allah SWT memberikan penjagaan khusus terhadap hati dan perilaku individu tersebut, menjauhkannya dari perbuatan buruk dan senantiasa mendekatkannya pada amal saleh.
- Suasana Hati yang “Terang”: Merasakan ketenangan dan kedamaian batin yang luar biasa, seolah-olah berada dalam suasana alam yang sejuk dan tenteram, mirip dengan atmosfer malam Lailatul Qadar itu sendiri.
Amalan Sunnah untuk Meraih Lailatul Qadar
Dalam meraih malam Lailatul Qadar, Ustadz Abdul Somad menekankan pentingnya menunaikan ibadah wajib dengan penuh kesungguhan, serta memperbanyak amalan-amalan sunnah selama bulan Ramadhan.
“Siangnya shiyam, sebagaimana perintah di Surah Al-Baqarah, apa artinya? Tahan mata, telinga, otak, lidah, hati, tangan, dan kaki. Shiyam itu tetap beraktivitas namun tetap menundukkan pandangan dan kontrol lainnya,” jelas Ustadz Abdul Somad.
Perintah shiyam atau puasa yang tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 183 mengingatkan kita akan esensi puasa:
يَ أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yā ayyuhallażīna āman kutiba ‘alaikumu – iyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaq n
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, makna shiyam mencakup upaya untuk menahan diri dari perbuatan negatif, seperti membicarakan aib orang lain yang berujung pada ghibah.
Selain menahan hawa nafsu di siang hari melalui puasa, amalan penting lainnya adalah memperbanyak qiyamul lail atau ibadah shalat malam. Rangkaian ibadah malam ini dimulai sejak shalat Maghrib, dilanjutkan dengan shalat Isya, shalat qabliyah Isya, Tarawih, dan Witir. Setelah itu, umat Islam dianjurkan untuk tadarus Al-Qur’an.
Setelah beristirahat sejenak, umat Islam disunnahkan untuk bangun kembali dan melanjutkan ibadah dengan shalat Tahajud. Ustadz Abdul Somad memberikan catatan penting bahwa bagi mereka yang telah melaksanakan shalat Witir setelah Tarawih, tidak perlu mengulang Witir setelah Tahajud.
“Yang sudah Witir setelah Tarawih, tidak perlu Witir lagi setelah Tahajud. Setelah itu istighfar. Beramal dari awal Ramadhan hingga akhir Allah akan berikan Lailatul Qadar, Insya Allah,” tutup Ustadz Abdul Somad, memberikan optimisme dan arahan bagi seluruh umat Muslim dalam meraih malam seribu bulan.






