Penyebahan GERD yang Tidak Hanya Terkait dengan Pola Makan
Banyak orang mengira bahwa GERD muncul hanya karena telat makan atau terlalu sering mengonsumsi makanan pedas. Meskipun hal ini benar, penyebab GERD jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan. GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan dan menyebabkan rasa panas di dada, mulut terasa pahit, atau tenggorokan seperti mengganjal. Naiknya asam lambung ini biasanya bukan tanpa sebab.
Ada faktor tertentu yang membuat pintu antara lambung dan kerongkongan tidak bekerja dengan baik. Untuk memahami mengapa GERD bisa sering kambuh, berikut adalah 6 penyebab utama yang perlu diketahui:
1. Katup Lambung yang Melemah
Salah satu penyebab utama GERD adalah masalah pada otot katup di bagian bawah kerongkongan, yang dikenal sebagai lower esophageal sphincter (LES). Otot ini seharusnya bekerja seperti pintu otomatis yang terbuka saat makanan masuk ke lambung, lalu menutup rapat agar isi lambung tidak naik kembali. Namun, pada penderita GERD, katup ini bisa melemah atau terlalu sering terbuka tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini berujung pada asam lambung yang lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan rasa panas di dada atau tenggorokan terasa tidak nyaman.
2. Berat Badan Berlebih, Kehamilan, dan Tekanan di Area Perut
Tekanan berlebih pada perut ternyata juga bisa memicu GERD. Orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami refluks asam karena lemak di area perut memberi tekanan ekstra pada lambung. Tekanan ini membuat isi lambung lebih mudah terdorong naik ke kerongkongan, terutama setelah makan banyak atau saat berbaring.
Hal serupa juga sering dialami ibu hamil. Selain karena posisi janin yang menekan lambung, perubahan hormon selama kehamilan juga dapat membuat otot pencernaan menjadi lebih rileks, termasuk katup lambung. Itulah kenapa keluhan asam lambung juga sering muncul saat trimester akhir kehamilan.
Tidak hanya faktor dari dalam tubuh, tekanan dari luar juga bisa berpengaruh. Penggunaan pakaian yang terlalu ketat, ikat pinggang yang sempit, atau korset juga dapat memberi tekanan tambahan pada perut dan memperbesar risiko refluks.

3. Gangguan pada Struktur atau Gerakan Lambung
Pada sebagian orang, GERD terjadi karena ada masalah pada struktur tubuh atau cara kerja sistem pencernaan. Salah satu kondisi yang cukup sering ditemukan adalah hernia hiatal, yaitu ketika bagian atas lambung bergeser naik melewati diafragma. Kondisi ini membuat dukungan alami untuk katup lambung jadi berkurang, sehingga asam lebih mudah naik.
Selain itu, ada kondisi bernama gastroparesis, yaitu ketika lambung mengosongkan makanan lebih lambat dari biasanya. Akibatnya, makanan tertahan terlalu lama di lambung dan meningkatkan tekanan di dalamnya. Pada kondisi tertentu, gangguan jaringan ikat seperti skleroderma juga bisa menjadi pemicu. Kondisi ini membuat gerakan kerongkongan melemah, sehingga asam yang sudah naik menjadi lebih sulit dibersihkan kembali ke lambung.

4. Pola Makan dan Kebiasaan Sehari-hari
Tanpa disadari, kebiasaan kecil sehari-hari bisa membuat GERD lebih mudah kambuh. Salah satunya makan dalam porsi terlalu besar sekaligus atau makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Saat lambung terlalu penuh, tekanan di dalamnya akan meningkat. Kalau setelah makan langsung rebahan, gravitasi tidak lagi membantu menahan isi lambung tetap di bawah, sehingga refluks jadi lebih mudah terjadi.
Selain itu, beberapa makanan dan minuman tertentu juga bisa memengaruhi kerja katup lambung. Makanan tinggi lemak, makanan pedas, kopi, alkohol, cokelat, hingga mint (peppermint) dapat membuat otot katup lambung lebih rileks. Hal ini menyebabkan asam lambung punya peluang lebih besar untuk naik ke kerongkongan. Bukan cuma itu, posisi tubuh seperti terlalu sering membungkuk setelah makan, mengangkat beban berat, atau tidur terlalu datar juga bisa memicu gejala GERD menjadi lebih terasa.

5. Merokok dan Efek Samping Obat-obatan
Kebiasaan merokok ternyata tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga bisa memperburuk GERD. Rokok dapat membuat katup lambung menjadi lebih lemah sekaligus mengurangi produksi air liur. Padahal, air liur punya fungsi penting untuk membantu membersihkan dan menetralkan asam yang naik ke kerongkongan.
Orang dengan produksi air liur rendah (xerostomia), baik karena kondisi medis tertentu maupun efek samping obat, juga lebih rentan mengalami iritasi akibat refluks asam. Selain itu, beberapa jenis obat tertentu diketahui dapat memicu GERD pada sebagian orang. Mulai dari obat asma, antihistamin, obat penenang, hingga antidepresan bisa memiliki efek samping berupa pelemahan katup lambung.

6. Kondisi Medis Tertentu
Beberapa masalah kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya ternyata juga berkaitan dengan GERD. Penderita asma cukup sering mengalami refluks asam, dan hubungan keduanya bisa saling memengaruhi. Batuk terus-menerus atau tekanan di dada akibat asma dapat memicu naiknya asam lambung. Refluks asam yang mencapai saluran napas juga bisa membuat gejala asma terasa lebih buruk.
Itulah 6 penyebab GERD yang ternyata tidak selalu berkaitan dengan pola makan. Setelah mengetahuinya, mulailah lebih peka terhadap kebiasaan yang mungkin tanpa sadar jadi pemicunya!







