Abu Janda Klarifikasi Video Viral Perdebatan Panas di iNews: Bukan Diusir, Tapi Sengaja Bikin Keributan
Seorang pegiat media sosial yang dikenal dengan nama Abu Janda, atau Permadi Arya, angkat bicara mengenai video perdebatan panas yang viral dari sebuah acara di iNews. Video tersebut menampilkan dirinya terlibat dalam diskusi yang memanas dengan beberapa narasumber lain, yang berujung pada teguran dari moderator, Aiman Witjaksono. Abu Janda membantah keras narasi yang berkembang di publik bahwa dirinya diusir dari acara tersebut. Ia mengklaim bahwa video yang beredar telah dipotong dan tidak menampilkan keseluruhan dinamika diskusi yang sebenarnya.
Abu Janda menjelaskan bahwa tindakannya yang tampak emosional dan meninggikan suara dalam perdebatan tersebut bukanlah respons spontan atas situasi yang tak terkendali, melainkan sebuah strategi yang ia rancang sendiri. Ia mengakui dengan gamblang bahwa ia sengaja menciptakan “keributan” dalam forum tersebut dengan tujuan menghentikan pembahasan yang menurutnya tidak pada tempatnya dan berpotensi menyesatkan publik.
Klarifikasi Abu Janda Mengenai Video Viral:
Abu Janda memberikan beberapa poin klarifikasi terkait video yang telah menyebar luas di berbagai platform media sosial:
Video yang Beredar Telah Dipotong:
Abu Janda mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara video tersebut diedit dan disebarluaskan. Ia menegaskan bahwa cuplikan yang viral hanya menampilkan momen ketika Aiman Witjaksono meneriakinya untuk keluar, namun mengabaikan kelanjutan diskusi setelahnya.
“Video saya diusir keluar diviralkan dipotong cuma sampai Bang Aiman teriak-teriak. Padahal setelah itu kita duduk lagi, dan Bang Aiman persilakan saya bicara lagi,” ujar Abu Janda melalui unggahan di akun Instagram resminya. Ia merasa bahwa pemotongan video ini telah menciptakan narasi yang keliru mengenai kejadian sebenarnya.Klaim Hoaks Mengenai “Utang Indonesia kepada Palestina”:
Salah satu poin utama yang ingin diluruskan oleh Abu Janda adalah mengenai isu yang ia sebut sebagai “HOAX ‘Indonesia berhutang pada palestina'”. Ia berargumen bahwa klaim tersebut tidak berdasar secara historis.
“Saya lanjut meluruskan HOAX ‘Indonesia berhutang pada palestina’, itu HOAX karena saat Indonesia merdeka TIDAK ADA negara palestina, ini FAKTA,” tulisnya. Ia menekankan bahwa Palestina belum terbentuk sebagai negara pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.Dalam konteks diskusi tersebut, Abu Janda juga terlibat perdebatan sengit dengan peserta lain, Muhammad Husein, terkait pandangan mengenai konflik Israel-Palestina. Perdebatan ini semakin memanas ketika menyentuh isu-isu sensitif yang melibatkan opini.
“Di akhir video juga ada debat saya dengan M Husein soal OPINI ‘Israel jajah Palestina’. Fakta tidak peduli sama perasaanmu,” ujarnya, menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap cara isu tersebut dibahas.
Alasan Abu Janda Meninggikan Suara dalam Debat:
Abu Janda mengakui bahwa ia sempat meninggikan suara dan berteriak selama debat berlangsung. Namun, ia memberikan alasan bahwa hal tersebut merupakan respons langsung terhadap pernyataan-pernyataan yang ia anggap tidak logis dan konyol dalam forum diskusi tersebut.
Salah satu contoh yang ia sorot adalah pernyataan dari seorang narasumber, yang ia sebut sebagai “profesor”, yang mengemukakan pandangan mengenai Amerika Serikat.
“Ketika si profesor bilang jangan pikir Amerika itu negara yang baik, itu jelas konyol karena tentu saja tidak ada negara yang baik. Itu sangat subjektif tergantung suka atau tidak suka,” jelas Abu Janda. Ia menganggap pernyataan tersebut terlalu subjektif dan tidak berbasis pada fakta objektif.Menanggapi Pernyataan Feri Amsari:
Dalam perdebatan tersebut, Abu Janda juga secara spesifik menanggapi pandangan dari pakar hukum tata negara, Feri Amsari. Feri Amsari disebut menyampaikan argumen bahwa Indonesia memiliki utang kepada Palestina.
Abu Janda kembali menegaskan ketidaksetujuannya terhadap argumen tersebut, dengan alasan yang sama yaitu ketidakberadaan negara Palestina saat Indonesia merdeka. Ia khawatir argumen semacam itu dapat menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas di masyarakat.Pengakuan Sengaja Membuat Keributan:
Poin paling mengejutkan dari klarifikasi Abu Janda adalah pengakuannya bahwa ia memang sengaja menciptakan keributan dalam acara tersebut. Ia tidak menyangkal tindakan tersebut, melainkan justru menjadikannya sebagai strategi.
“Daripada orang-orang jadi tambah bodoh mendengar mereka berdua, saya hentikan dengan membuat keributan,” kata Abu Janda. Ia merasa bahwa dengan membuat keributan, ia berhasil mengalihkan perhatian dari poin-poin diskusi yang menurutnya salah atau menyesatkan.Ia bahkan mengklaim bahwa strateginya ini berhasil mencapai tujuannya.
“Sekarang tidak ada yang ingat apa yang mereka katakan, cuma ingat bagian saya teriak-teriak saja. Sukses,” ujarnya, menunjukkan kepuasan atas “keberhasilan” strateginya dalam mengendalikan narasi publik.
Kronologi Singkat Video Viral:
Perdebatan panas yang menjadi sorotan ini terjadi dalam program “Rakyat Bersuara” yang tayang pada Selasa (10/3/2026). Dalam sesi tersebut, Abu Janda terlibat adu argumen dengan beberapa narasumber lain, termasuk Feri Amsari dan Ikrar Nusa Bhakti.
Diskusi awal berfokus pada peran Amerika Serikat dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda pada tahun 1949. Abu Janda berpendapat bahwa Amerika Serikat berperan penting dalam menekan Belanda agar mengakui kemerdekaan Indonesia, salah satunya dengan ancaman penghentian bantuan. Ia juga menyebut peran Amerika dalam Konferensi Meja Bundar dan resolusi PBB.
Namun, pandangan ini ditanggapi oleh Ikrar Nusa Bhakti yang mengemukakan bahwa dukungan Amerika Serikat lebih didorong oleh kepentingan geopolitik Perang Dingin daripada solidaritas murni.
Ketegangan semakin meningkat ketika perdebatan melebar ke isu hubungan Indonesia dengan Palestina. Melihat diskusi yang semakin memanas dan penggunaan kata-kata yang dinilai tidak pantas, moderator Aiman Witjaksono terpaksa menghentikan jalannya acara dengan tegas. Momen inilah yang kemudian viral dan menimbulkan berbagai interpretasi di media sosial.




