Kik Kun, Sang Penjaga Budaya Tradisional di Desa Lilangan
Di tengah sorak-sorai puluhan murid sekolah dasar yang memenuhi Lapangan Balai Serba Guna Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Selasa (23/6), seorang pria berusia 63 tahun tampil dengan semangat. Ia adalah Syahiril, yang lebih dikenal dengan panggilan Kik Kun. Di bawah langit sore yang cerah, ia tidak hanya memandu permainan tradisional, tetapi juga menjalankan misi besar: menghidupkan kembali warisan budaya lokal dan mengajak anak-anak untuk menjauh dari ketergantungan terhadap gawai.
Permainan yang dilakukan oleh anak-anak itu adalah tiga jenis permainan tradisional khas Belitung yang telah diwariskan lintas generasi, yaitu Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit. Permainan-permainan ini pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak kampung sejak era 1950-an hingga pertengahan 1970-an.
“Permainan-permainan ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Dulu hampir setiap anak kampung memainkannya,” ujar Kik Kun.
Pemandangan itu membangkitkan kenangan masa kecilnya. Ia tumbuh pada masa ketika kehidupan masyarakat masih sangat sederhana. Telepon genggam, musik rekaman, bahkan kendaraan bermotor belum menjadi bagian dari keseharian warga desa. Hiburan anak-anak lahir dari kebersamaan, interaksi sosial, dan kreativitas yang tumbuh di lingkungan ladang.
“Kalau zaman dulu, HP tidak ada, musik pun belum tahu. Kegiatan kami hanya membantu orang tua di ladang dan bermain bersama teman-teman,” kenangnya.
Menurut Kik Kun, ketiga permainan tersebut awalnya muncul sebagai pengisi waktu saat anak-anak menunggu orang tua memasak di pondok ladang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita dan nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Pong Pong Along: Cerita tentang Kehidupan Masa Lalu
Pong Pong Along dimainkan dengan menumpuk kepalan tangan sambil menyanyikan lagu berirama khas. Di balik syair yang terdengar jenaka, tersimpan kisah tentang kehidupan masyarakat Belitung tempo dulu yang hidup dalam keterbatasan.
“Tahun dulu lauk susah. Telur ayam itu barang berharga. Makanya ada lirik tentang telur yang pecah, karena akhirnya digoreng untuk lauk makan keluarga,” jelasnya.
Jajak Setunju: Kisah Pencarian Warga yang Hilang
Permainan berikutnya, Jajak Setunju, memiliki latar cerita yang lebih unik. Melalui gerakan dan syair tertentu, permainan itu menggambarkan kisah pencarian seorang warga yang hilang di hutan dan ditemukan setelah mendapat petunjuk dari dukun kampung.
“Cerita dasarnya tentang orang hilang yang dicari sampai akhirnya ditemukan setelah lebih dari seratus hari,” kata Kik Kun.
Sapu Sapu Rengit: Inspirasi dari Pengalaman Pemburu
Sementara itu, Sapu Sapu Rengit terinspirasi dari pengalaman para pemburu pelanduk di hutan Belitung. Saat menunggu buruan, mereka kerap diganggu rengit atau nyamuk kecil yang menggigit kaki. Kebiasaan mengusir serangga itulah yang kemudian diwujudkan menjadi permainan anak-anak.
“Ini cerita tentang pemburu yang terus menyapu kakinya karena digigit rengit di hutan,” ujarnya.
Nilai-nilai yang Tersembunyi dalam Permainan Tradisional
Bagi Kik Kun, nilai terpenting dari permainan tradisional bukan terletak pada kemenangan atau kekalahan. Yang jauh lebih penting adalah pelajaran tentang kebersamaan, kerja sama, kejujuran, sportivitas, dan kemampuan berinteraksi dengan sesama.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut sulit diperoleh jika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar telepon genggam.
“Permainan lama ini mengajarkan anak-anak untuk kompak, bekerja sama, hidup rukun, jujur, dan sportif. Hal-hal seperti itu tidak bisa didapat jika hanya terus menatap layar HP,” katanya.
Ia mengaku prihatin karena banyak permainan tradisional yang dahulu wajib hadir dalam berbagai ritual adat kini mulai dilupakan, bahkan oleh masyarakat kampung sendiri. Karena itu, ia berharap festival budaya seperti yang digelar di Desa Lilangan dapat menjadi titik awal kebangkitan kembali permainan tradisional di kalangan generasi muda.
Kik Kun bermimpi suatu saat permainan-permainan tersebut tidak hanya dipentaskan di tingkat desa, tetapi juga menjadi bagian dari agenda budaya tingkat kabupaten hingga provinsi.
“Harapan saya, permainan ini terus berlanjut dan dikenal lebih luas. Jangan sampai anak-anak hanya bermain HP. Ayo hidupkan lagi permainan lama supaya tidak tenggelam dimakan zaman,” tuturnya.






