Fenomena Angin Puting Beliung Menghebohkan Pesisir Soropia, Konawe
Konawe, Sulawesi Tenggara – Suasana tenang di Desa Saponda Darat, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara, mendadak terusik oleh kehadiran fenomena alam yang menegangkan. Pada Selasa, 3 Maret 2026, pusaran angin kencang berbentuk belalai terlihat menari di atas permukaan laut, bergerak mengarah ke daratan, memicu kepanikan di kalangan warga setempat. Peristiwa langka ini terekam dalam video yang kemudian viral di berbagai platform media sosial, memperlihatkan detik-detik menegangkan saat warga berhamburan menyelamatkan diri.
Kepala Desa Saponda Darat, Baharuddin, menceritakan bagaimana fenomena alam ini menciptakan ketegangan di tengah masyarakatnya. “Warga sempat panik karena melihat angin puting beliung itu berputar-putar berjalan menuju ke daratan,” ungkap Baharuddin saat dihubungi jurnalis. Kekhawatiran terbesar adalah potensi angin tersebut mencapai pemukiman warga dan menimbulkan kerusakan.
Di tengah kepanikan yang melanda, keberanian dan kearifan lokal muncul dari salah seorang tokoh masyarakat setempat. Ia mengambil inisiatif untuk mencoba meredam atau menghalau kekuatan angin yang semakin mendekat. “Ada orang tua di sini, katanya pas dia lihat itu angin puting beliung langsung lari ke dermaga, istilahnya supaya tidak sampai ke Saponda,” tutur Baharuddin, menggambarkan upaya yang dilakukan oleh tetua desa tersebut. Tindakan ini, meski mungkin bersifat simbolis, menunjukkan naluri warga untuk melindungi kampung halaman mereka dari ancaman alam.
Meskipun kepanikan sempat terjadi, kabar baik datang dari aspek dampak. Baharuddin memastikan bahwa fenomena angin puting beliung tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material di wilayahnya. “Tidak ada korban maupun kerusakan, hanya memang terlihat jelas angin puting beliungnya,” tegasnya. Hal ini tentu menjadi kelegaan tersendiri bagi warga Saponda Darat setelah menyaksikan pemandangan yang mengkhawatirkan.
Video rekaman amatir yang berhasil diabadikan oleh warga menjadi bukti nyata dari peristiwa tersebut. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas kepanikan warga yang mulai berlarian saat pusaran angin yang dramatis itu bergerak di atas hamparan laut. Video ini kemudian menjadi viral, dibagikan secara luas dan menarik perhatian banyak orang di media sosial, memicu diskusi tentang kekuatan alam dan respons masyarakat terhadapnya.
Desa Saponda Darat sendiri memiliki aksesibilitas yang cukup baik. Dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, desa ini dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan kendaraan bermotor atau mobil. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar 42 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 24,8 kilometer. Lokasi pesisir yang strategis ini, meskipun indah, ternyata juga menyimpan potensi fenomena alam yang dapat menguji ketangguhan warganya.
Apa Itu Angin Puting Beliung?
Angin puting beliung, atau yang sering disebut juga tornado darat, adalah kolom udara yang berputar kencang dan bergerak secara acak di atas permukaan tanah, seringkali berbentuk seperti corong atau belalai. Fenomena ini biasanya terjadi selama badai petir yang hebat.
- Proses Terbentuknya:
Angin puting beliung terbentuk ketika ada ketidakstabilan atmosfer yang signifikan. Udara hangat dan lembab di dekat permukaan bumi naik dengan cepat ke lapisan atmosfer yang lebih dingin. Pergerakan naik ini dapat menciptakan pusaran udara vertikal. Jika ada angin yang berhembus dari arah yang berbeda pada ketinggian yang berbeda, pergerakan udara ini dapat mulai berputar. - Ciri-ciri:
Ciri utama angin puting beliung adalah bentuknya yang menyerupai belalai atau corong yang menjulur dari awan kumulonimbus (awan badai) ke permukaan bumi. Kecepatan angin di dalam pusaran ini bisa sangat ekstrem, mencapai ratusan kilometer per jam. - Dampak:
Dampak angin puting beliung sangat merusak. Kekuatan anginnya mampu menghancurkan bangunan, merobohkan pohon, dan menerbangkan objek-objek berat. Kehadirannya selalu disertai dengan hujan deras, petir, dan kadang-kadang hujan es. - Perbedaan dengan Angin Laut:
Fenomena yang terjadi di Desa Saponda Darat terlihat bergerak di atas permukaan air laut. Fenomena seperti ini seringkali disebut sebagai “water spout” atau puting beliung di laut. Meskipun memiliki kemiripan dalam bentuk dan cara terbentuknya dengan tornado darat, water spout umumnya memiliki intensitas yang lebih lemah dan durasi yang lebih pendek dibandingkan tornado darat. Water spout juga dapat terbentuk tanpa adanya badai petir yang sangat kuat, terkadang hanya dari awan kumulus yang berkembang.
Kejadian di Konawe menjadi pengingat akan kekuatan alam yang terkadang tak terduga, namun juga menyoroti ketangguhan dan semangat masyarakat dalam menghadapi serta merespons fenomena tersebut.






