Rekayasa Lalu Lintas One Way di Lembah Anai Sambut Arus Mudik Lebaran
Jalan ikonik Lembah Anai, Sumatera Barat, yang merupakan jalur vital penghubung Kota Padang dan Bukittinggi, akan menerapkan skema rekayasa lalu lintas satu arah atau one way selama periode mudik Lebaran. Kebijakan ini dimulai dua hari sebelum Idul Fitri (H-2) dan bertujuan untuk mengurai potensi kemacetan yang kerap terjadi di salah satu titik wisata paling ramai ini.
Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumatera Barat secara resmi menetapkan skema rekayasa lalu lintas ini sebagai bagian dari persiapan menyambut Operasi Ketupat 2026. Kombes Pol Reza Chairul Akbar Sidiq, Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan hasil koordinasi lintas sektor yang matang.
Jadwal dan Mekanisme Sistem One Way
Sistem one way di Lembah Anai akan dibagi menjadi dua sesi harian untuk memastikan kelancaran arus mudik dan balik. Mekanismenya adalah sebagai berikut:
- Arah Padang menuju Bukittinggi: Jalur akan dibuka satu arah dari Padang menuju Bukittinggi pada pukul 10.00–14.00 WIB.
- Arah Bukittinggi menuju Padang: Sebaliknya, jalur akan dialihkan menjadi satu arah dari Bukittinggi menuju Padang pada pukul 14.00–18.00 WIB.
Untuk menjamin keamanan dan mencegah potensi tabrakan antar kendaraan dari arah berlawanan, akan diberlakukan clearance time atau waktu steril. Waktu steril ini berlangsung selama 30 menit sebelum setiap perpindahan arus. Selama periode 30 menit tersebut, jalur sepanjang kurang lebih 20 kilometer akan dikosongkan sepenuhnya.
“Kami memberlakukan clearance time atau waktu steril selama 30 menit sebelum perpindahan arus,” ungkap Kombes Reza. “Selama masa tersebut, jalur sepanjang 20 kilometer akan dikosongkan untuk memastikan keamanan dan mencegah benturan kendaraan dari arah berlawanan.”
Pengawasan Ketat dan Teknologi Canggih
Guna menjaga keamanan dan kelancaran lalu lintas selama penerapan sistem one way, Polda Sumatera Barat telah mendirikan pos pantau di beberapa titik krusial. Lokasi strategis seperti Lembah Anai dan Padang Panjang menjadi prioritas untuk pengawasan.
Pemantauan tidak hanya mengandalkan metode manual oleh petugas di lapangan, tetapi juga didukung oleh teknologi modern. Hal ini dilakukan untuk memberikan respons yang cepat dan akurat terhadap setiap perkembangan situasi di lapangan.
“Pemantauan 24 jam melalui sistem Regional Traffic Management Center (RTMC) serta patroli udara menggunakan drone untuk memantau titik kepadatan secara real-time,” jelas Kombes Reza. Penggunaan drone diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi lalu lintas dan mengidentifikasi potensi kepadatan sebelum menjadi masalah besar.
Kondisi Jalur Alternatif Malalak
Sementara itu, terkait jalur alternatif Malalak, pihak kepolisian masih belum memberlakukan sistem one way. Hal ini dikarenakan status jalan yang masih dianggap dalam kondisi darurat. Pihak kepolisian masih melakukan kajian lebih lanjut dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keamanan dan kelayakan jalur tersebut sebelum dioperasikan secara penuh, terutama saat puncak arus mudik dan balik Lebaran. Penilaian kondisi jalan yang cermat sangat penting untuk menghindari risiko kecelakaan dan memastikan keselamatan para pemudik yang mungkin memilih jalur ini sebagai alternatif.






