Mojtaba Khamenei Naik Tahta sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Teheran, Iran – Senin, 9 Maret 2026, menjadi hari bersejarah bagi Republik Islam Iran. Ayatollah Mojtaba Khamenei secara resmi mengumumkan pengangkatannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei. Keputusan ini diambil oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang beranggotakan 88 ulama senior, yang memiliki mandat untuk memilih pemimpin tertinggi Iran pasca-kematian atau pengunduran diri pemegang jabatan.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis tak lama setelah tengah malam waktu Teheran, Majelis Ahli menegaskan, “Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran.” Pengangkatan ini menempatkan Mojtaba Khamenei pada posisi puncak kekuasaan di Iran, memberinya otoritas akhir atas seluruh urusan negara. Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa Iran tidak ragu sedikit pun dalam memilih pemimpin baru, bahkan di tengah apa yang mereka sebut sebagai agresi brutal dari Amerika Serikat dan Israel.
Sosok di Balik Tirai Kekuasaan: Profil Mojtaba Khamenei
Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun, bukanlah sosok yang asing di lingkungan kekuasaan Iran. Ia adalah putra tertua kedua dari Ali Khamenei dan dikenal memiliki kedekatan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Meskipun secara formal ia digambarkan sebagai ulama tingkat menengah dan belum pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, pengaruhnya di balik layar diyakini sangat signifikan. Pengaruh ini diperluas melalui jaringan bisnis yang luas yang ia bangun di bawah kepemimpinan ayahnya.
Mojtaba juga memiliki pengalaman militer, pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama masa perang Iran-Irak. Reputasinya sebagai ulama yang memiliki pengaruh kuat di kalangan pasukan keamanan dan jaringan bisnis memberinya keunggulan dalam bursa pencalonan pemimpin tertinggi. Ia dipandang sebagai kandidat terdepan menjelang pemungutan suara oleh Majelis Ahli, yang perannya sangat krusial dalam menentukan suksesi kepemimpinan.
Reaksi Internasional dan Pernyataan Kontroversial
Pengangkatan Mojtaba Khamenei tidak luput dari perhatian internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya pernah melontarkan komentar pedas mengenai Mojtaba, menyebutnya sebagai “tokoh yang tidak berbobot.” Trump bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memiliki suara dalam penunjukan pemimpin baru Iran. “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” ujar Trump dalam sebuah wawancara sebelum pengumuman resmi dibuat. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya ketegangan geopolitik yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran.
Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
Penting untuk dipahami bahwa pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih secara langsung oleh rakyat. Mekanisme pemilihan dilakukan melalui badan khusus yang disebut Majelis Ahli. Badan ini terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali. Namun, proses ini memiliki tahapan seleksi yang ketat. Setiap kandidat harus terlebih dahulu melewati pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga, sebuah badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.
Ketika jabatan Pemimpin Tertinggi kosong, Majelis Ahli akan segera berkumpul untuk memilih pengganti melalui pemungutan suara sederhana. Konstitusi Iran mensyaratkan calon pemimpin tertinggi haruslah seorang ahli hukum senior dengan pemahaman mendalam tentang yurisprudensi Islam Syiah, serta memiliki kualitas kepemimpinan seperti penilaian politik yang tajam, keberanian, dan kemampuan administrasi yang mumpuni.
Tragedi yang Mendahului Suksesi: Kematian Ali Khamenei
Pengangkatan Mojtaba Khamenei terjadi dalam konteks yang tragis. Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas akibat serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut juga merenggut nyawa putri, menantu, dan cucu dari pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Pemerintah Iran merilis pernyataan resmi yang mengumumkan kematian Ali Khamenei, yang mereka gambarkan sebagai “teladan iman, jihad, dan perlawanan.” Pernyataan tersebut dengan tegas mengutuk serangan tersebut sebagai “kejahatan besar” dan berjanji akan membalasnya.
Pernyataan resmi pemerintah Iran berbunyi:
“Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
‘Orang-orang yang berbuat zalim akan mengetahui ke mana mereka akan dikembalikan.’ (Surat Asy-Syu’ara Ayat 227)
Rakyat Iran yang terhormat dan penuh kebanggaan!
Dengan kesedihan dan duka mendalam, diumumkan bahwa setelah serangan brutal oleh pemerintah kriminal Amerika dan rezim Zionis yang keji, teladan iman, jihad, dan perlawanan, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Agung Imam Khamenei, telah meraih anugerah besar berupa kesyahidan.
Beliau adalah penerus sejati Ruhullah (Imam Khomeini) yang selama lebih dari 37 tahun kepemimpinan bijak, memegang panji terdepan Islam dengan keberanian dan iman teguh, membuka babak baru dalam sejarah pemerintahan Islam, dan hingga akhir hayatnya yang penuh berkah, memimpin umat Islam melawan kekafiran, tirani, dan kesombongan.
Syahid yang mulia, Ayatollah Agung Imam Khamenei, teladan pengorbanan dan perlawanan di era kini, adalah ‘Imam janji tulus, Imam harapan dan kekuatan’ di benak kaum merdeka, tertindas, dan para pejuang dunia.
Namanya akan abadi bersama ‘Khomeini Sang Agung’ di hati bangsa-bangsa dunia. Keilmuan luas, penguasaan ilmu kontemporer, kebijaksanaan, pandangan jauh, iman murni, ketulusan dalam amal, tekad baja, keyakinan mendalam pada kata dan perbuatannya, keberanian tiada banding, pengetahuan agama yang luas, jiwa lembut dan suci, serta harapan dan tawakal kepada Sang Pencipta adalah ciri khas luar biasa dari pribadi besar ini yang jarang ditemukan pada pemimpin politik mana pun.
Pemerintah Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawa atas kehilangan besar ini kepada Qa’im al-Mahdi (semoga jiwa kami dikorbankan untuk beliau), bangsa Iran yang mulia, umat Islam yang agung, dan seluruh kaum merdeka di dunia.
Sebagai bentuk simpati kepada bangsa Iran yang tangguh, pemerintah menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur umum.
Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah suci pemimpin agung ini akan mengalir bagaikan mata air yang bergemuruh dan akan melenyapkan penindasan serta kejahatan Amerika-Zionis.
Kali ini, dengan segala kekuatan dan ketegasan, bersandar pada umat Islam dan kaum merdeka dunia, kami akan membuat para pelaku dan dalang kejahatan besar ini menyesali perbuatannya.
Iran tercinta kita, dengan dukungan kemenangan ilahi, bersatu dan sehati, akan dengan bangga melewati masa sulit ini; sebab Allah senantiasa mengawasi musuh-musuh yang menindas dan menjadi penolong bagi orang-orang beriman serta kaum tertindas.”
Mojtaba Khamenei Selamat dari Serangan Mematikan
Menariknya, Mojtaba Khamenei dilaporkan selamat dari serangan udara AS dan Israel yang merenggut nyawa ayahnya. Informasi ini diungkapkan oleh dua sumber Iran kepada Reuters pada Rabu, 4 Maret 2026. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Mojtaba tidak berada di ibu kota, Teheran, saat serangan itu terjadi. “Dia (Mojtaba) masih hidup. Dia tidak di Teheran ketika Pemimpin Tertinggi terbunuh,” ujar sumber tersebut. Kelangsungan hidupnya dalam serangan tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai kandidat penerus ayahnya di mata kalangan penguasa Iran.
Keluarga Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif terkemuka dan mantan Ketua Parlemen Iran. Pernikahan mereka dilaporkan berlangsung pada tahun 2004. Sayangnya, Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 dalam serangan AS dan Israel. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, meskipun detail mengenai mereka tidak banyak tersedia di publik.
Peristiwa ini menandai transisi kekuasaan pertama di Iran sejak tahun 1989, ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, meninggal dunia dan digantikan oleh Ali Khamenei. Dengan pengangkatan Mojtaba Khamenei, Iran memasuki babak baru dalam sejarah kepemimpinannya, di bawah bayang-bayang tragedi dan ketegangan geopolitik yang terus membayangi.






