BI: Uang Beredar Rp 10.089 T Februari 2026

Perkembangan Uang Beredar di Indonesia: Analisis Mendalam Februari 2026

Bank Indonesia (BI) baru saja merilis data terbaru mengenai peredaran uang di Tanah Air pada Februari 2026. Angka yang disajikan menunjukkan dinamika ekonomi yang perlu dicermati, terutama terkait dengan jumlah uang yang beredar dalam arti luas (M2) dan uang primer (M0). Data ini memberikan gambaran penting mengenai aktivitas ekonomi dan kebijakan moneter yang sedang berjalan.

Uang Beredar dalam Arti Luas (M2): Mencapai Rp 10.089,9 Triliun

Pada Februari 2026, Bank Indonesia mencatat bahwa uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai angka Rp 10.089,9 triliun. Angka ini menandai pertumbuhan positif yang signifikan, yaitu sebesar 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, Januari 2026, yang mencatat pertumbuhan sebesar 10,0 persen secara tahunan.

Perkembangan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 ini terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama: tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit. Kedua komponen ini memiliki peran krusial dalam menggerakkan likuiditas perekonomian.

  • Tagihan Bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus): Komponen ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat, yaitu sebesar 25,6 persen secara tahunan (yoy). Angka ini bahkan meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 22,6 persen secara tahunan. Peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas fiskal atau kebutuhan pendanaan oleh pemerintah yang kemudian diserap oleh sistem keuangan.

  • Penyaluran Kredit: Sektor riil juga menunjukkan geliatnya melalui penyaluran kredit. Pada Februari 2026, penyaluran kredit tumbuh sebesar 8,9 persen secara tahunan (yoy). Meskipun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang mencapai 10,2 persen secara tahunan, angka ini tetap menunjukkan adanya ekspansi kredit yang positif. Perlu dicatat bahwa definisi kredit yang diberikan di sini secara spesifik merujuk pada pinjaman (loans) dan tidak mencakup instrumen keuangan lain yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo. Selain itu, kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk juga dikecualikan dari perhitungan ini.

Pertumbuhan M2 yang didorong oleh kedua faktor tersebut juga ditopang oleh perkembangan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh sebesar 14,4 persen secara tahunan, serta uang kuasi yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,1 persen secara tahunan. Kombinasi dari pertumbuhan M1 dan uang kuasi inilah yang secara agregat membentuk pertumbuhan M2.

Uang Primer (M0 Adjusted): Peningkatan Signifikan

Selain M2, Bank Indonesia juga mencatat perkembangan uang primer (M0 adjusted). Pada Februari 2026, posisi M0 mencapai Rp 2.227,70 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup impresif, yaitu sebesar 18,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Januari 2026, di mana M0 tumbuh sebesar 14,7 persen (yoy) dengan posisi Rp 2.192,99 triliun.

Peningkatan pertumbuhan M0 ini ditopang oleh dua komponen utama yang mencerminkan pergerakan uang tunai dan simpanan bank di bank sentral:

  • Giro Bank Umum di BI Adjusted: Komponen ini mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi, yaitu 33,6 persen secara tahunan. Peningkatan giro bank umum di BI menunjukkan adanya penambahan likuiditas di sistem perbankan yang disimpan di bank sentral, yang bisa menjadi indikator kesiapan bank untuk menyalurkan kredit atau menghadapi kebutuhan likuiditas.

  • Uang Kartal yang Diedarkan: Uang kartal yang beredar di masyarakat juga menunjukkan peningkatan, yaitu sebesar 15,8 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang tunai untuk transaksi sehari-hari.

Secara keseluruhan, data peredaran uang pada Februari 2026 menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang cukup dinamis. Pertumbuhan M2 yang didorong oleh tagihan pemerintah dan penyaluran kredit, serta pertumbuhan M0 yang kuat, mengindikasikan adanya dorongan likuiditas dalam perekonomian. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ini untuk memastikan stabilitas moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pos terkait