BRI Perkenalkan Qita, Era Perbankan Digital Berbasis Aplikasi Dimulai

Perkembangan Layanan Perbankan Digital di Indonesia

Perkembangan layanan perbankan digital di Indonesia terus mengalami perubahan. Tren saat ini menunjukkan bahwa bank-bank besar mulai beralih ke strategi multi-aplikasi ritel, yang bertujuan untuk memberikan layanan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan nasabah.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) adalah salah satu bank yang ikut berpartisipasi dalam tren ini dengan meluncurkan aplikasi baru bernama Qita. Aplikasi ini dirancang sebagai layanan pengelolaan keuangan yang dilengkapi fitur seperti pengingat tagihan otomatis, pelacak portofolio, serta pembaruan fitur tanpa perlu pembaruan manual dari pengguna. Meskipun demikian, BRI belum memberikan penjelasan resmi mengenai posisi Qita dalam ekosistem digitalnya, termasuk apakah aplikasi ini akan menjadi pelengkap atau justru berdampingan dengan BRImo yang selama ini menjadi kanal utama transaksi digital perseroan.

Pertumbuhan BRImo yang Mengesankan

Di sisi lain, kinerja BRImo masih menunjukkan pertumbuhan solid. Pada kuartal I-2026, jumlah pengguna mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6% secara tahunan. Nilai transaksi juga melonjak 29,4% menjadi Rp 2.042,2 triliun. Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyebut transformasi digital menjadi motor utama pertumbuhan dana murah (CASA) perseroan. “Seluruh kanal digital mencatat pertumbuhan dua digit,” ujarnya.

Kinerja BCA yang Menjanjikan

Tren serupa juga terlihat di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa 99,8% transaksi nasabah kini sudah dilakukan melalui kanal digital. Pada kuartal I-2026, frekuensi transaksi myBCA tumbuh 45%, sementara nilai transaksi naik 47% dengan jumlah pengguna meningkat 57%. Namun, BCA tidak merinci angka absolutnya. “MyBCA dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih intuitif sekaligus menjadi pusat layanan finansial digital,” kata Hera, yang mencakup transaksi harian hingga investasi dan pembayaran QRIS. Meski demikian, BCA tetap mempertahankan BCA mobile sebagai aplikasi utama yang ringan untuk kebutuhan transaksi cepat.

Pengembangan Livin by Mandiri

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk terus mengandalkan aplikasi Livin by Mandiri. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mencatat pengguna Livin mencapai 39 juta pada Maret 2026, naik 27% secara tahunan, dengan frekuensi transaksi meningkat 13% menjadi 1,24 miliar transaksi.

Pandangan Ekonom Mengenai Strategi Perbankan Digital

Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, menilai peluncuran aplikasi baru di tengah kuatnya aplikasi lama bukan menunjukkan kegagalan, melainkan bagian dari strategi transisi dan segmentasi layanan. Menurutnya, banyak aplikasi lama dibangun dengan arsitektur monolitik yang kurang fleksibel untuk pengembangan fitur kompleks. Karena itu, bank cenderung membangun aplikasi baru berbasis microservices dan cloud-native agar lebih adaptif terhadap kebutuhan digital yang berkembang cepat.

Pos terkait