Cabai Rawit Hijau Jambi Meroket: Rp100.000/kg

Lonjakan Harga Cabai di Kota Jambi: Komoditas Penting yang Makin Memberatkan Warga

JAMBI – Warga Kota Jambi kembali dihadapkan pada kenaikan harga komoditas pangan yang krusial, yakni cabai. Sejak awal tahun, harga berbagai jenis cabai terpantau mengalami lonjakan signifikan, memberikan tekanan tambahan pada anggaran rumah tangga masyarakat. Data terbaru menunjukkan bahwa harga cabai rawit, baik hijau maupun merah, telah menembus angka yang cukup mengkhawatirkan.

Pada hari Sabtu, 3 Januari 2026, harga cabai rawit hijau di Kota Jambi dilaporkan melambung hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah tidak kalah mencekik, dijual di kisaran Rp95.000 per kilogram. Kondisi ini tentu saja menjadi perhatian serius bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada ketersediaan cabai sebagai bumbu utama.

Perbedaan harga juga terlihat antar pasar tradisional di Kota Jambi. Di Pasar Talang Banjar, pantauan menunjukkan harga cabai merah besar berada di kisaran Rp36.000 per kilogram. Namun, di Pasar Aur Duri, harga cabai merah besar mengalami kenaikan menjadi Rp50.000 per kilogram. Untuk jenis cabai rawit hijau di pasar yang sama, dibanderol Rp95.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah mencapai Rp80.000 per kilogram.

Situasi paling mencengangkan terjadi di Pasar Angso Duo Jambi. Di pasar ini, cabai rawit hijau tercatat sebagai yang termahal, dengan harga mencapai Rp110.000 per kilogram. Cabai rawit merah bahkan lebih tinggi lagi, yaitu Rp120.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah besar di Pasar Angso Duo dibanderol Rp40.000 per kilogram.

Tren Kenaikan yang Mengkhawatirkan

Kondisi harga cabai di Kota Jambi menunjukkan tren yang sangat fluktuatif. Pada tanggal 1 Januari 2026, harga cabai sempat menunjukkan stabilitas. Saat itu, cabai merah dijual antara Rp36.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Namun, tren kenaikan mulai terlihat jelas pada jenis cabai rawit hijau.

Sebelumnya, cabai rawit hijau masih bisa didapatkan di kisaran Rp60.000 per kilogram. Namun, pada awal Januari, harganya sudah merangkak naik menjadi Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Kenaikan ini, meskipun belum setinggi harga saat ini, sudah menjadi sinyal awal adanya tekanan pada pasokan atau permintaan.

Sementara itu, cabai setan atau yang dikenal juga sebagai cabai rawit setan, juga mengalami kenaikan harga yang cukup terasa. Komoditas ini dijual dengan harga sekitar Rp75.000 per kilogram pada awal Januari, yang juga menunjukkan peningkatan dari harga sebelumnya.

Faktor-faktor Potensial di Balik Lonjakan Harga

Lonjakan harga cabai seperti yang terjadi di Kota Jambi umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Beberapa faktor utama yang patut diwaspadai antara lain:

  • Cuaca Ekstrem: Perubahan cuaca yang tidak menentu, seperti musim hujan yang berkepanjangan atau kekeringan yang tiba-tiba, dapat sangat memengaruhi produksi pertanian. Hujan lebat yang terus-menerus dapat merusak tanaman cabai, mengurangi hasil panen, bahkan menyebabkan gagal panen. Sebaliknya, kekeringan dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi kualitas buah.
  • Musim Panen: Kenaikan harga juga bisa terjadi di luar musim panen raya. Ketika pasokan dari petani mulai menipis karena belum memasuki masa panen, harga cenderung naik karena stok yang ada menjadi lebih terbatas.
  • Biaya Produksi: Kenaikan harga pupuk, pestisida, dan biaya operasional lainnya yang dikeluarkan oleh petani dapat mendorong mereka untuk menaikkan harga jual hasil panen agar tetap mendapatkan keuntungan yang layak.
  • Distribusi dan Logistik: Kendala dalam rantai distribusi, seperti kenaikan biaya transportasi, kerusakan jalan, atau keterlambatan pengiriman, dapat turut berkontribusi pada harga akhir cabai di tingkat konsumen.
  • Spekulasi Pasar: Terkadang, ada unsur spekulasi dari para pedagang atau tengkulak yang menahan stok untuk kemudian menjualnya dengan harga lebih tinggi saat permintaan memuncak dan pasokan terbatas.
  • Peningkatan Permintaan: Pada momen-momen tertentu, seperti menjelang hari raya atau perayaan besar, permintaan terhadap cabai biasanya meningkat drastis. Peningkatan permintaan yang tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai dapat memicu kenaikan harga.

Kenaikan harga cabai ini tentu saja berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Bagi rumah tangga, pengeluaran untuk bumbu dapur akan semakin membengkak. Bagi pelaku usaha kuliner, biaya operasional akan meningkat, yang berpotensi mendorong mereka untuk menaikkan harga jual makanan atau mengurangi porsi demi menjaga margin keuntungan.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera melakukan intervensi untuk menstabilkan harga, misalnya dengan menggelar pasar murah, memantau ketersediaan pasokan, serta berkoordinasi dengan petani dan distributor untuk memastikan kelancaran distribusi. Ketersediaan cabai yang stabil dengan harga terjangkau sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi mikro masyarakat.

Pos terkait