Lonjakan Harga Cabai Rawit Pasca-Tahun Baru, Konsumen Menjerit
Muara Bulian, Jambi – Perayaan Tahun Baru 2026 seharusnya membawa kelegaan dan semangat baru, namun bagi masyarakat di Pasar Kramat Tinggi, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi, momen pasca-libur panjang justru diwarnai dengan lonjakan harga cabai rawit yang signifikan. Hingga Minggu (4/1/2026), komoditas dapur ini masih bertengger di angka yang memberatkan, dengan harga tertinggi mencapai Rp110.000 per kilogram untuk cabai rawit asal Jawa. Sementara itu, cabai rawit lokal pun tidak kalah mencekik, dijual di kisaran Rp85.000 per kilogram.
Fenomena kenaikan harga ini bukanlah hal baru bagi para pedagang dan pembeli di pasar tersebut. Menurut penuturan para pedagang, lonjakan harga yang memberatkan ini telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir. Berbagai faktor kompleks disebut-sebut menjadi biang kerok di balik meroketnya harga cabai rawit, mulai dari masalah pasokan hingga kendala distribusi.
Sebelum lonjakan ini terjadi, harga cabai rawit masih relatif terjangkau, berkisar antara Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Namun, memasuki akhir tahun 2025, harga mulai menunjukkan tren kenaikan yang tak terbendung.
Faktor-faktor di Balik Meroketnya Harga Cabai Rawit
Amir (60), seorang pedagang yang telah lama berjualan di Pasar Kramat Tinggi, menjelaskan bahwa minimnya stok cabai rawit di tingkat pedagang menjadi salah satu penyebab utama tingginya harga saat ini. Keterbatasan pasokan ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa elemen krusial dalam rantai pasok pertanian.
- Terbatasnya Pasokan dari Daerah Penghasil:
Ketergantungan pada pasokan dari daerah-daerah penghasil cabai menjadi titik krusial. Jika daerah-daerah tersebut mengalami kendala produksi, dampaknya akan langsung terasa hingga ke pasar-pasar lokal. - Belum Masuknya Masa Panen:
Musim panen yang belum tiba atau tertunda juga berkontribusi besar terhadap minimnya ketersediaan cabai di pasaran. Petani mungkin masih dalam proses perawatan tanaman, menunggu waktu yang tepat untuk panen raya. - Cuaca yang Tidak Mendukung:
Faktor alam, seperti cuaca ekstrem, memainkan peran penting dalam produksi pertanian. Curah hujan yang terlalu tinggi atau kekeringan yang berkepanjangan dapat merusak tanaman cabai, mengurangi hasil panen, bahkan menyebabkan gagal panen. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini secara langsung memengaruhi kualitas dan kuantitas pasokan. - Gangguan Distribusi Akibat Libur Panjang:
Libur panjang akhir tahun, yang biasanya dinikmati oleh banyak orang, justru menjadi tantangan tersendiri bagi kelancaran distribusi barang. Transportasi yang terbatas, peningkatan biaya logistik, serta operasional pengiriman yang melambat dapat menghambat pasokan cabai dari daerah produsen ke pasar-pasar tujuan. Hal ini menciptakan kelangkaan semu yang mendorong harga naik.
Meskipun demikian, Amir menambahkan bahwa untuk jenis cabai rawit lokal, harga sempat mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sebelumnya. “Cabai rawit lokal sekarang Rp85.000 per kilogram. Sebelumnya sempat sampai Rp100.000 per kilogram. Tapi memang sejak dua bulan terakhir harganya tinggi,” ungkapnya.
Senada dengan Amir, Ita (40), pedagang lainnya di Pasar Kramat Tinggi, juga mengeluhkan tingginya harga cabai rawit. “Saat ini saya menjual cabai rawit Rp110.000 per kilogram. Kemarin bahkan sempat di harga Rp120.000 per kilogram,” jelasnya, menunjukkan betapa fluktuatif dan tingginya harga komoditas ini.
Stabilitas Harga Komoditas Cabai Lain
Sementara harga cabai rawit melambung tinggi, komoditas cabai jenis lain di Pasar Kramat Tinggi dilaporkan relatif stabil. Hal ini memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen yang ingin mencari alternatif bahan masakan pedas mereka.
- Cabai Merah Keriting Kualitas Super:
Dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram. - Cabai Merah Keriting Kualitas Biasa:
Ditawarkan dengan harga Rp38.000 per kilogram. - Cabai Geprek:
Harganya bervariasi antara Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram, tergantung pada kualitasnya.
Meskipun ada beberapa jenis cabai yang harganya masih terjangkau, lonjakan harga cabai rawit tetap menjadi perhatian utama. Para pedagang berharap pasokan segera membaik dan cuaca mendukung agar harga kembali normal, sehingga daya beli masyarakat tidak semakin tergerus akibat tingginya harga kebutuhan pokok. Situasi ini menyoroti kerentanan rantai pasok pertanian terhadap berbagai faktor eksternal dan internal yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.




