Cap Go Meh di Manado: Perayaan Penutup Imlek yang Memperkuat Kerukunan dan Kekayaan Budaya
Cap Go Meh, yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama setelah Imlek, menandai puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Imlek bagi umat Khonghucu di Manado. Perayaan ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momen penting yang merangkul kerukunan antarumat beragama, serta menampilkan kekayaan akulturasi budaya Sulawesi Utara.
Di Manado, perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili tahun ini terasa istimewa. Umat Khonghucu di kota ini merasa bangga dan bersyukur atas kehadiran tokoh-tokoh penting dari pemerintah daerah. Gubernur Sulawesi Utara, Wakil Gubernur, serta Wali Kota Manado turut hadir dalam perayaan yang diselenggarakan di Klenteng Kong Zi Miao. Kehadiran mereka dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan nyata terhadap kerukunan serta keberagaman yang menjadi ciri khas Sulawesi Utara.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, yang bahkan merayakan Cap Go Meh pertamanya di Manado, tampak antusias dalam bersilaturahmi dan berbagi kehangatan dengan umat Khonghucu. Bersama rombongan yang juga meliputi Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Wali Kota Manado Andrei Angouw, dan Wakil Wali Kota Richard Sualang, mereka tidak hanya memberikan ucapan selamat, tetapi juga beramah tamah.
Kehadiran para pejabat penting ini disambut dengan penuh sukacita oleh umat Khonghucu. Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Manado, Js Heintje Lintong, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian pemerintah. “Kami bersyukur dan bangga karena pemerintah turut merayakan Goan Siau di Klenteng Kong Zi Miao,” ujarnya, menekankan betapa bermaknanya dukungan tersebut bagi komunitasnya.
Lebih lanjut, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Sulawesi Utara, Ws Pon Riano Bagy, menjelaskan makna mendalam dari Cap Go Meh bagi umat Khonghucu. Perayaan ini merupakan penutup dari serangkaian sembahyang Imlek yang telah dimulai dua minggu sebelum Tahun Baru. “Rangkaian sembahyang berakhir, ditutup hari ini. Artinya apa? Perayaan tahun baru sudah selesai,” jelas Riano. Momen ini menjadi penanda kembalinya umat Khonghucu untuk beraktivitas seperti biasa, kembali bekerja dan berkontribusi dalam mengisi kehidupan di tahun yang baru. Riano menambahkan, Cap Go Meh dapat diibaratkan dengan momen “Kuncikan” atau “Kunci Taong” bagi masyarakat Minahasa, yaitu sebuah penanda penting dalam siklus tahunan.
Akulturasi Budaya dalam Kemeriahan Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh di Manado tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan, tetapi juga menjelma menjadi sebuah pertunjukan akulturasi budaya yang memukau. Ribuan warga memadati Kawasan Pertokoan 45 (Pecinan) Manado dan sepanjang rute arak-arakan, seperti Jalan DI Panjaitan, Jalan Soetomo, dan Jalan Walanda Maramis, untuk menyaksikan kemeriahan ini.
Berbagai atraksi budaya turut memeriahkan perayaan, menampilkan perpaduan unik antara tradisi lokal dan Tionghoa. Barisan Penari Kabasaran, dengan gerakan tarian perang mereka yang energik, tampil sebagai pembuka arak-arakan, seolah membuka jalan bagi rombongan utama. Musim Bambu Klarinet turut memberikan sentuhan musikal yang khas, menambah warna budaya pada perayaan.
Selain itu, berbagai elemen masyarakat turut berpartisipasi dalam arak-arakan. Barisan Paskibraka Kota Manado, drumband pelajar, BKSAUA, siswa SMP Sekolah Rakyat Manado, atlet dansa IODI (Ikatan Olahraga Dansa Indonesia), dan atlet wushu turut memeriahkan suasana. Atraksi barongsai yang berkolaborasi dengan Tarian Naga dari setiap perkumpulan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) menjadi daya tarik tersendiri, menambah semarak perayaan.
Namun, puncak kemeriahan dan daya tarik utama perayaan Cap Go Meh adalah penampilan para tangshin (tanci). Sebanyak 11 tangshin, yang berasal dari sembilan klenteng di Manado, diarak dalam barisan ritual. Mereka dibawa di atas kio (tandu) yang dipikul oleh umat berbaju putih, diiringi alunan musik, tabuhan tambur, dan nyanyian khas yang seragam.
Momen Harmoni di Tengah Perbedaan
Salah satu aspek yang membuat perayaan Cap Go Meh tahun ini semakin istimewa adalah bertepatsannya momen tersebut dengan bulan Ramadan bagi umat Muslim, serta Minggu Sengsara bagi umat Kristiani yang sedang menghayati pengorbanan Yesus Kristus. Ferry Sondakh, Komisariat Perhimpunan TITD Sulawesi Utara, menyoroti keunikan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat kerukunan. “Ini spesial karena bersamaan dengan dua momen keagamaan, Bulan Puasa dan pra-Paskah. Ini momen memperkuat kerukunan Sulawesi Utara yang cinta damai,” ungkapnya.
Kebetulan yang indah ini sejalan dengan tema perayaan Cap Go Meh tahun ini, yaitu “Harmoni Nusantara”. Tema ini mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang menjadi kekuatan Indonesia, khususnya Sulawesi Utara.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan dan perayaan budaya, Cap Go Meh di Manado juga telah menjadi salah satu ikon pariwisata daerah. Perayaan ini mengandung makna filosofis yang mendalam, yaitu pengakuan terhadap Tuhan sebagai penguasa alam semesta dan pentingnya hidup selaras dengan alam serta mengembalikan segala ciptaan kepada asal-usulnya.
Perayaan Cap Go Meh berlangsung meriah hingga malam hari, dengan ribuan warga yang setia menyaksikan setiap rangkaian acaranya. Kemeriahan ditutup dengan pesta kembang api yang spektakuler, menerangi langit Pecinan Manado dan disambut dengan sorak-sorai gembira dari masyarakat, menandai berakhirnya rangkaian perayaan Imlek dengan penuh sukacita dan harapan baru.





