Cuaca Jateng Besok: Hujan Ringan 18 Februari 2026

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah 18 Februari 2026: Ancaman Cuaca Ekstrem dan Potensi Banjir Bandang

Semarang – Memasuki pertengahan Februari 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan diguyur hujan pada Rabu, 18 Februari 2026. Intensitas hujan diprediksi bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat, bahkan di beberapa daerah disertai petir.

Sebaran Hujan di Seluruh Jawa Tengah

Sebanyak 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah diperkirakan akan merasakan dampak hujan pada hari tersebut. Hujan ringan diprediksi akan mendominasi, menyelimuti 24 kabupaten dan kota. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri guna menghindari gangguan aktivitas.

Berikut adalah rincian prediksi cuaca di berbagai wilayah Jawa Tengah:

Hujan Disertai Petir

  • Klaten
  • Magelang
  • Purworejo
  • Wonogiri

Hujan Lebat

  • Banyumas
  • Blora
  • Boyolali
  • Cilacap
  • Karanganyar
  • Semarang
  • Sukoharjo

Hujan Ringan

  • Banjarnegara
  • Batang
  • Brebes
  • Demak
  • Grobogan
  • Jepara
  • Kebumen
  • Kendal
  • Kota Magelang
  • Kota Pekalongan
  • Kota Salatiga
  • Kota Semarang
  • Kota Surakarta
  • Kota Tegal
  • Kudus
  • Pati
  • Pemalang
  • Pekalongan
  • Purbalingga
  • Rembang
  • Sragen
  • Tegal
  • Temanggung
  • Wonosobo

Suhu udara rata-rata diprediksi berada di kisaran 11 hingga 31 derajat Celcius, dengan kecepatan angin rata-rata antara 10 hingga 15 kilometer per jam.

Peringatan Cuaca Ekstrem dan Potensi Bencana di Banyumas

Di tengah prediksi cuaca hujan, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan, mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Februari 2026. Peringatan ini mencakup potensi dampak bencana yang ditimbulkannya.

Pada acara tasyakuran “Baturraden Aman” di Lokawisata Baturraden, Jumat (6/2/2026), Dwi Irawan menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sangat tinggi di kawasan puncak Gunung Slamet berpotensi memicu terbawanya sisa-sisa material vulkanik dari erupsi tahun 2024.

“Dari hasil kaji cepat yang dilakukan BPBD bersama lintas sektor dan Provinsi Jawa Tengah, inti permasalahannya ada pada cuaca dan curah hujan yang sangat tinggi, khususnya di puncak Gunung Slamet,” ujar Dwi Irawan.

Curah hujan ekstrem di puncak Gunung Slamet menjadi faktor utama terjadinya aliran material vulkanik yang dapat berdampak pada wilayah lereng selatan, termasuk Baturraden dan sekitarnya. Material vulkanik yang sebagian sudah mengeras menjadi butiran kecil ini, ketika bertemu dengan arus air hujan yang sangat kuat, dapat terbawa hingga ke permukiman.

Namun, Dwi Irawan juga memberikan catatan positif. Kondisi vegetasi di lereng selatan Gunung Slamet masih cukup kuat. “Ini menjadi keuntungan bagi kita. Hutan di lereng selatan Gunung Slamet masih luar biasa, masih kuat menahan arus material,” jelasnya. Meskipun demikian, wilayah yang berada di bawah naungan kawasan tersebut, seperti Baturraden, Cilongok, hingga Sumbang, tetap diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan.

BPBD mencatat bahwa puncak musim hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan terjadi hingga akhir Februari, terutama di wilayah Banyumas bagian barat, utara, dan selatan. “Dari BPBD Provinsi Jawa Tengah juga sudah menyampaikan imbauan kewaspadaan, khususnya untuk wilayah barat, utara, dan selatan. Curah hujan tinggi diperkirakan masih berlangsung sampai Februari,” tambahnya.

Banjir Bandang dan Upaya Pemulihan Pasca-Bencana

Kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem ini menjadi semakin relevan mengingat peristiwa banjir bandang yang sempat menerjang Guci dan kawasan wisata Baturraden pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Banjir bandang tersebut menyebabkan penutupan sementara beberapa objek wisata air demi keselamatan pengunjung.

Pasca-banjir, kualitas air sempat mengalami keruhan dan terjadi kerusakan pada jaringan pipa milik warga. Namun, Dwi Irawan mengonfirmasi bahwa kondisi air kini berangsur membaik seiring dengan perbaikan jaringan PDAM dan berkurangnya intensitas hujan lebat di kawasan puncak. “Alhamdulillah kualitas air sudah berangsur membaik, karena hujan di puncak sudah tidak seintens sebelumnya. Campuran material vulkanik juga sudah berkurang,” katanya.

BPBD, bersama dengan klaster air bersih yang melibatkan Palang Merah Indonesia (PMI) dan PDAM, telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah titik yang terdampak. “PDAM sudah melakukan perbaikan. Kami bersama PMI dan PDAM juga menyuplai air bersih ke beberapa lokasi terdampak,” jelas Dwi.

Meskipun kualitas air membaik, sedimentasi pasir vulkanik masih terlihat cukup banyak di sejumlah titik. BPBD berencana melakukan pembersihan secara bertahap. Menariknya, sebagian warga justru memanfaatkan material pasir vulkanik ini karena harganya yang lebih mahal.

Dampak terbesar dari banjir bandang ini justru dirasakan pada ekosistem sungai, terutama sektor perikanan. Menanggapi hal ini, BPBD berencana untuk melakukan rehabilitasi bersama dinas terkait dan para relawan. “Efek terbesar ada pada ekosistem sungai, terutama ikan. Ini nanti akan kita rehabilitasi bersama dinas pertanian, peternakan, dan relawan, untuk memulihkan titik-titik sungai di lereng Gunung Slamet,” tandasnya.

Pos terkait