Dialog Lintas Iman di Majalengka: Memperkuat Harmoni di Tengah Perbedaan
Di tengah semaraknya bulan Ramadan bagi umat Muslim dan momen Rabu Abu bagi umat Kristiani serta Katolik, Desa Genteng, Kecamatan Dawuan, Majalengka, menjadi saksi bisu sebuah kegiatan yang menginspirasi: dialog lintas iman. Forum yang mengusung tema “Refleksi Bersama dalam Harmoni Damai” ini diselenggarakan oleh Komunitas Gusdurian Majalengka berkolaborasi dengan Kampung Bhinneka 2. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh budaya, dan perwakilan masyarakat, yang berkumpul untuk merenungkan dan memperkuat nilai-nilai toleransi serta persaudaraan.
Forum ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah upaya nyata untuk membangun jembatan pemahaman dan menghapus stigma yang mungkin ada di antara pemeluk agama yang berbeda. Peserta secara kolektif menyepakati pentingnya dialog yang terbuka dan berkelanjutan sebagai sarana utama untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, penguatan Kampung Bhinneka 2 sebagai model hidup berdampingan secara damai juga menjadi salah satu fokus utama. Lebih jauh lagi, forum ini menekankan pentingnya aksi nyata dalam bentuk gotong royong dan kepedulian sosial sebagai manifestasi dari kerukunan antarumat beragama.
Salah satu momen yang paling berkesan dalam acara ini adalah pembacaan kutipan-kutipan humanis yang terinspirasi dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Kutipan-kutipan tersebut menggugah kesadaran akan pentingnya nilai kemanusiaan universal dan persaudaraan yang melampaui sekat-sekat keyakinan. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi landasan refleksi bersama, menciptakan suasana yang terbuka, interaktif, dan penuh kehangatan.
Dialog sebagai Penguat Keberagaman
Koordinator Gusdurian Majalengka, Intan Damayanti, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk menciptakan ruang bersama guna memperkuat komunikasi antarumat beragama. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa keberagaman, yang seringkali dianggap sebagai tantangan, sejatinya adalah kekuatan sosial yang patut dirawat dan dijaga.
“Agama tidak boleh menjadi alat pemisah. Justru dengan beragama, kita seharusnya semakin lihai dalam mencintai sesama manusia,” ujar Intan, menekankan bahwa esensi ajaran agama adalah kasih sayang dan kepedulian.
Pentingnya dialog lintas iman ini juga disuarakan oleh Heru Hoerudin, Kasubag TU Kemenag Majalengka. Menurutnya, forum seperti ini memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas sosial di wilayah Majalengka. Komunikasi yang terjalin secara rutin dan konstruktif diyakini mampu mencegah munculnya kesalahpahaman yang dapat mengganggu keharmonisan masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, KH. Abdul Muiz, Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Majalengka, menegaskan bahwa toleransi tidak cukup hanya dipahami secara konseptual, melainkan harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.
“Kerukunan harus dirawat bersama. Forum seperti ini menjadi penguat komitmen kita menjaga persatuan,” katanya, menggarisbawahi peran forum ini sebagai katalisator penguatan persatuan.
Perbedaan Keyakinan, Kebersamaan Nilai Kemanusiaan
Dari sisi perwakilan gereja, Pdt. Yayan Heriyanto dari GKP Bethesda, melihat momen kebersamaan dalam bulan puasa Ramadan dan perayaan Rabu Abu sebagai simbol kuat dari persaudaraan. Beliau berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sama sekali tidak menjadi penghalang bagi umat untuk dapat berjalan bersama dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Dukungan terhadap semangat persatuan dan kedamaian juga datang dari Kiyai H. Zaenal Muhyyidin dan Mubaligh Basit, yang menekankan pentingnya penyampaian dakwah yang menyejukkan hati dan senantiasa mengedepankan persatuan bangsa.
Sementara itu, Ibu Ode Sariningsih dari sinode pusat memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Kampung Bhinneka 2. Beliau melihatnya sebagai sebuah ruang nyata di mana masyarakat dapat hidup berdampingan tanpa sekat-sekat agama, sebuah teladan yang patut dicontoh.
Baya, Ketua Ekraf (Ekonomi Kreatif) Majalengka, menambahkan bahwa harmoni sosial merupakan fondasi yang sangat penting bagi kemajuan pembangunan daerah. Ia berharap bahwa kolaborasi lintas iman yang terjalin melalui kegiatan seperti ini juga dapat memberikan dorongan positif bagi kreativitas dan pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor.
Acara dialog lintas iman yang penuh makna ini ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama, yang dilaksanakan dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan adalah anugerah yang dapat memperkaya, bukan memecah belah, asalkan dilandasi oleh dialog, saling pengertian, dan komitmen untuk hidup berdampingan dalam damai.






