Solo, di tengah arus media sosial dan hiburan digital yang kian deras, tradisi masih mampu menarik perhatian generasi muda. Hal ini terlihat jelas dalam acara Kirab Malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Solo, yang tahun ini kembali diserbu oleh peserta dari berbagai daerah.
Fazli Hasniel Sugiharto, seorang pengusaha yang memiliki usaha Kutus Kutus, menjadi salah satu saksi bagaimana warisan budaya Jawa masih bisa memikat minat anak muda. Ia mengaku terkesan melihat banyak peserta muda yang mengikuti prosesi tapa bisu dengan penuh kesungguhan. Dalam ritual tersebut, peserta berjalan kaki tanpa alas selama sekitar satu setengah jam mengelilingi kawasan keraton. Mereka menjalani prosesi dalam keheningan, tanpa berbicara, makan, maupun minum sebagai bentuk refleksi diri menyambut Tahun Baru Jawa.
“Saya melihat banyak anak muda yang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh kesungguhan. Ini menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki relevansi yang kuat,” ujar Fazli, Kamis (25/6).
Selama kirab berlangsung, fenomena ini tampak sepanjang rute. Ribuan peserta berjalan tertib dalam suasana hening. Lampu-lampu di sepanjang rute dipadamkan, sementara suara yang terdengar hanya langkah kaki dan kibasan jarit para peserta.
Salah satu peserta muda yang datang dari luar daerah adalah Anang, 26 tahun, asal Bogor, Jawa Barat. Demi mengikuti kirab untuk pertama kalinya, dia rela menempuh perjalanan panjang menggunakan bus dan menginap di penginapan sederhana di Solo. Ketertarikannya berawal dari rasa penasaran terhadap tradisi Mangkunegaran yang selama ini sering dilihatnya di media sosial.
Setelah merasakan langsung suasana kirab, Anang mengaku mendapatkan pengalaman yang berbeda dari aktivitas sehari-hari. “Enggak masalah capek. Kami memang berniat mengikuti kirab ini. Luar biasa rasanya,” kata Anang.
Menurut Fazli, kisah seperti Anang menunjukkan bahwa generasi muda tidak sepenuhnya meninggalkan akar budayanya. Di tengah kehidupan yang serba cepat, mereka tetap mencari pengalaman yang memiliki makna lebih dalam dan memberi ruang untuk refleksi.
Dia menilai keberhasilan Mangkunegaran menjaga tradisi tetap hidup sekaligus diminati kalangan muda, menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat terus relevan tanpa harus kehilangan nilai-nilai dasarnya. “Tradisi tidak harus dipertentangkan dengan modernitas. Justru ketika dunia bergerak makin cepat, banyak orang kembali mencari pengalaman yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri, komunitasnya, dan akar budayanya,” tambah Fazli.
Kirab Malam 1 Sura pun menjadi bukti bahwa menjaga tradisi bukan hanya tugas generasi tua. Di tangan anak-anak muda yang rela berjalan tanpa alas kaki dalam keheningan malam, warisan budaya itu terus menemukan napas baru untuk tetap hidup dari generasi ke generasi.






