Dolar Perkasa: The Fed Tahan Bunga, Spekulasi Menggila

Indeks Dolar AS Menguat, Pelaku Pasar Ragukan Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Indeks dolar Amerika Serikat menunjukkan tren penguatan secara bertahap. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mungkin tidak akan mampu merealisasikan target pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2026. Data yang dihimpun menunjukkan pergerakan signifikan pada indeks dolar, mencerminkan sentimen pasar yang bergeser.

Pergerakan Indeks Dolar AS

Berdasarkan informasi terkini, indeks dolar AS, yang berfungsi sebagai tolok ukur kekuatan mata uang dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, dilaporkan menguat sebesar 0,4% pada hari Selasa, 17 Februari 2026. Ini menandai kenaikan yang kedua kalinya secara berturut-turut, memberikan sinyal positif bagi para pemegang dolar.

Tekanan Dolar dan Perubahan Sentimen Investor

Dolar AS sendiri telah mengalami tekanan yang cukup signifikan sejak Presiden AS Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih. Survei terbaru yang dilakukan oleh Bank of America Corp. mengungkapkan bahwa eksposur investor terhadap dolar AS telah menyentuh level terendah, setidaknya sejak tahun 2012. Hal ini menunjukkan adanya keraguan yang meluas di kalangan investor mengenai prospek mata uang Paman Sam.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, lembaga-lembaga lindung nilai (hedge funds) mulai mengurangi posisi bearish (spekulasi penurunan harga) mereka terhadap dolar AS. Perubahan sentimen ini dipicu oleh keraguan para analis terhadap data ekonomi AS yang diperkirakan akan membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga sebesar yang diharapkan oleh investor. Saat ini, pasar uang memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga sekitar 60 basis poin hingga akhir tahun 2026.

Analisis dari Para Ahli

Elias Haddad, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman, berpendapat bahwa pertaruhan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed terlihat berlebihan. Ia menekankan beberapa faktor yang mendukung pandangannya:

  • Pertumbuhan Ekonomi yang Kuat: Haddad menyoroti bahwa ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang solid, yang biasanya tidak sejalan dengan kebijakan moneter yang sangat longgar.
  • Inflasi Inti yang Membandel: Tingkat inflasi inti di AS dilaporkan masih bertahan di atas target 2% yang ditetapkan oleh bank sentral. Kondisi ini memberikan sedikit ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru dalam menurunkan suku bunga.

“Sehingga membuka ruang bagi penyesuaian harga yang positif bagi dolar AS dalam jangka pendek,” ujar Haddad, sebagaimana dikutip oleh Bloomberg pada Rabu, 18 Februari 2026.

Senada dengan itu, para analis dari Danske Bank A/S, termasuk kepala analis valas Jens Naervig Pedersen, juga menyampaikan pandangan serupa. Mereka merujuk pada data ekonomi AS yang dirilis, seperti laporan ketenagakerjaan Januari yang hasilnya lebih kuat dari perkiraan. Data ini dianggap melemahkan argumen untuk dilakukannya pemangkasan suku bunga yang bersifat “asuransi” pada musim semi.

Tim analis Danske Bank memperkirakan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada bulan Juni dan September 2026. Namun, setelah itu, mereka memprediksi The Fed akan menahan suku bunga pada level tersebut hingga tahun 2027, menunjukkan pandangan yang lebih hati-hati mengenai laju pelonggaran moneter.

Potensi Penguatan Sementara

Meskipun ada indikasi penguatan dolar AS saat ini, penting untuk dicatat bahwa kenaikan ini bisa jadi bersifat sementara. Mata uang dolar telah mengalami pelemahan signifikan, yaitu sekitar 10%, sejak Januari 2025, ketika Presiden Donald Trump memulai masa jabatan keduanya. Periode ini diwarnai oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan-kebijakan tak terduga yang mungkin diambil oleh pemerintahan Trump, termasuk potensi perang dagang yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.

Faktor-faktor ini secara kolektif membentuk lanskap pasar yang dinamis bagi dolar AS. Pelaku pasar terus memantau data ekonomi, pernyataan The Fed, dan perkembangan kebijakan global untuk mengantisipasi pergerakan mata uang ini di masa mendatang.

Pos terkait