Drone Iran: Ancaman Nyata yang Mengusik Supremasi Angkatan Laut AS
Klaim terbaru dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengenai keberhasilan drone Angkatan Laut mereka mengusir kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, dan kapal perusak pendampingnya dari Selat Hormuz telah memicu gelombang kekhawatiran dan analisis di kancah global. Kejadian ini bukan hanya menyoroti peningkatan kapabilitas militer Iran, tetapi juga memunculkan pertanyaan krusial tentang ketergantungan teknologi dan potensi pergeseran keseimbangan kekuatan regional. Ironisnya, senjata yang diklaim mampu membuat kapal induk bertenaga nuklir yang membawa puluhan pesawat tempur itu “kocar-kacir” adalah drone yang dikembangkan sendiri oleh Iran, yang ternyata merupakan hasil rekayasa dari drone Amerika yang berhasil diperoleh Iran.
Iran: Pemain Utama dalam Industri Drone Tempur
Iran telah lama dikenal sebagai salah satu produsen utama drone tempur dengan rekam jejak keandalan yang terbukti. Pengakuan dari Rusia sendiri mengenai pasokan drone Iran untuk digunakan dalam pertempuran melawan Ukraina semakin memperkuat citra Iran sebagai pemain signifikan dalam industri persenjataan nirawak. Fenomena ini menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya bantuan diam-diam dari Rusia kepada Iran dalam menghadapi AS dan Israel. Dugaan yang berkembang adalah bahwa Rusia memberikan data intelijen mengenai titik-titik basis militer AS dan Israel di Timur Tengah sebagai bentuk terima kasih atas dukungan Iran dalam konflik Ukraina. Data intelijen ini diduga memungkinkan rudal-rudal Iran untuk menghancurkan sejumlah basis militer AS dan Israel dengan presisi tinggi.
Evolusi Drone Iran: Dari Teknologi Asing Menjadi Senjata Lokal
Salah satu varian drone yang disebut-sebut digunakan oleh Angkatan Laut Iran dalam insiden tersebut adalah Shahed 139. Drone ini merupakan bagian dari keluarga drone Shahed yang dikembangkan oleh Shahed Aviation Industries, sebuah perusahaan lokal Iran. Produksi drone Shahed bahkan meluas hingga ke Rusia, di mana varian Rusia dibangun berdasarkan cetak biru Iran. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, drone Shahed telah secara luas dikerahkan oleh pasukan Rusia dalam konflik tersebut.
Proses produksi drone ini dilaporkan memanfaatkan perusahaan domestik dan sumber daya lokal. Meskipun Iran menghadapi sanksi internasional yang ketat, terdapat klaim bahwa komponen-komponen untuk drone tersebut mencakup suku cadang komersial yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Swiss, Belanda, Jerman, Kanada, Jepang, dan Polandia. Ketersediaan komponen komersial ini, yang kurang diatur atau tidak terkontrol secara ketat, memungkinkan Iran untuk memperolehnya. Menurut laporan Ukraina yang disampaikan kepada G7, suku cadang tersebut diimpor ke Iran melalui negara-negara seperti Turki, India, Kazakhstan, Uzbekistan, Vietnam, dan Kosta Rika.
Lebih lanjut, untuk memastikan kelangsungan produksi meskipun menghadapi ancaman serangan udara, setiap pabrik drone di Iran dilaporkan memiliki dua lokasi pengganti. Hal yang sangat menarik adalah sejarah pengembangan drone Shahed. Ternyata, drone ini merupakan hasil rekayasa Iran terhadap drone Amerika yang berhasil mereka sita. Pada tanggal 5 Desember 2011, pemerintah Iran berhasil membajak dan menjatuhkan sebuah UAV Lockheed Martin RQ-170 Sentinel buatan Amerika.
Shahed Aviation Industries kemudian melakukan proses rekayasa balik (reverse engineering) terhadap UAV Amerika tersebut. Pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dari rekayasa balik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan varian drone seperti Shahed 171 Simorgh dan Shahed 191 Saeqeh.
Mengenal Lebih Dekat Drone Shahed-139
Drone Shahed-139 sendiri adalah drone buatan Iran yang dirancang untuk ketinggian menengah dan memiliki daya tahan lama (Medium-Altitude Long-Endurance/MALE). Drone ini dianggap sebagai pengembangan lebih lanjut dari pendahulunya, Shahed-129. Shahed-139 telah menarik perhatian internasional karena penggunaannya dalam berbagai konflik regional.
Berikut adalah spesifikasi dari drone Shahed-139 yang dilaporkan:
- Rentang Sayap: 14,7 meter
- Panjang: 8,1 meter
- Tinggi: 2,9 meter
- Berat Kosong: Sekitar 1.766 kg
- Jangkauan: Diperkirakan hingga 2.000 kilometer
- Daya Tahan: Hingga 24 jam waktu penerbangan operasional
- Ketinggian Jelajah Maksimum: Hingga 30.000 kaki atau sekitar 9.144 meter
Kemampuan operasional drone Shahed-139 inilah yang diklaim mampu memberikan tekanan signifikan terhadap kehadiran kapal induk modern AS seperti USS Abraham Lincoln, memaksa kapal tersebut untuk menjauh dari perairan strategis Selat Hormuz. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa lanskap teknologi militer terus berkembang, dan negara-negara yang sebelumnya dianggap kurang canggih kini mampu menghadirkan tantangan serius bagi kekuatan militer konvensional.






