Duka Keluarga Korban ATR 42-500 Hancur: Syok Dengar Kabar Penemuan

Duka Mendalam Menyelimuti Keluarga Korban Pesawat yang Ditemukan di Gunung Bulusaraung

Makassar, Sulawesi Selatan – Langit di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu pagi (18/1/2026) diselimuti keheningan yang mencekam. Kabar penemuan puing-puing pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak sejak beberapa waktu lalu, sontak mengguncang keluarga para penumpang yang selama ini masih menggenggam erat harapan akan keselamatan orang-orang tercinta.

Kabar duka ini diterima keluarga dengan syok yang mendalam. Suasana di kediaman para korban seketika berubah dari penantian penuh harap menjadi kesedihan yang tak terhingga. Di Jakarta Selatan, kediaman Deden Maulana, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi salah satu penumpang pesawat nahas tersebut, dipenuhi oleh kerabat dan rekan kerja. Mereka berdatangan silih berganti, memberikan dukungan moril kepada keluarga yang masih berada dalam kondisi terguncang.

Hingga siang hari, anggota keluarga masih kesulitan memberikan keterangan resmi kepada media. Kondisi psikologis yang belum stabil menjadi alasan utama. Namun, doa terus mengalun, memohon ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan dan kelancaran proses evakuasi serta identifikasi jenazah. Beberapa anggota keluarga terlihat duduk terdiam dalam kebisuan, sementara yang lain saling merangkul, mencari kekuatan dalam pelukan sanak saudara.

Suasana haru serupa juga terasa di kediaman Ferry Irawan, pegawai KKP lainnya yang juga menjadi penumpang dalam penerbangan naas tersebut. Sejak Minggu pagi, warga sekitar dan kerabat tak henti-hentinya berdatangan untuk menemani keluarga Ferry. Inisiatif warga untuk mendirikan tenda di sekitar rumah menjadi bukti nyata solidaritas dan kepedulian untuk menampung para pelayat dan kerabat yang hadir memberikan dukungan.

Perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) turut hadir di lokasi, memberikan pendampingan intensif kepada keluarga korban. Kehadiran mereka bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas institusi terhadap keluarga besar para pegawai yang menjadi korban. Mereka memastikan kebutuhan dasar keluarga terpenuhi, sembari menunggu kepastian resmi dari pihak berwenang mengenai perkembangan proses evakuasi dan identifikasi.

Kronologi Penemuan Serpihan Pesawat di Puncak Bulusaraung

Sebelumnya, tim SAR gabungan telah melakukan upaya pencarian intensif terhadap pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak dalam penerbangan dari Makassar menuju Yogyakarta. Serpihan badan pesawat akhirnya ditemukan di puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1) pagi waktu setempat.

Menurut keterangan dari Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, serpihan badan pesawat ATR 42-500 terdeteksi berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Penemuan ini merupakan titik terang dalam upaya pencarian yang telah berlangsung.

Laporan Operasi SAR PK-THT dari Basarnas merinci kronologi penemuan tersebut. Serpihan pertama kali terpantau di puncak Bulusaraung pada pukul 07.17 WIT. Menindaklanjuti temuan ini, tim SAR gabungan segera diterjunkan menuju koordinat serpihan pesawat.

Pada pukul 07.33 WIT, tim SAR berhasil mengonfirmasi penemuan serpihan yang teridentifikasi sebagai bagian dari jendela pesawat ATR 42-500. Keberhasilan ini semakin memacu semangat tim untuk terus melakukan pencarian.

Puncak dari upaya pencarian di darat terjadi pada pukul 08.02 WIT, ketika tim SAR berhasil menemukan serpihan besar berupa badan pesawat di puncak Gunung Bulusaraung. Namun, proses evakuasi serpihan tersebut dihadapkan pada kendala cuaca. Angin kencang yang bertiup di area puncak menyulitkan pendaratan helikopter, sehingga evakuasi fisik belum dapat dilakukan.

“Pasukan darat menemukan badan pesawat dan dalam proses identifikasi lebih lanjut,” demikian pernyataan resmi dari Basarnas yang diterima pada Minggu (18/1).

Tantangan Evakuasi dan Identifikasi

Penemuan badan pesawat di lokasi yang sulit dijangkau, seperti puncak Gunung Bulusaraung, tentu menimbulkan tantangan tersendiri bagi tim SAR. Medan yang terjal, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta ketinggian lokasi menjadi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan secara matang dalam setiap tahapan operasi.

Proses identifikasi jenazah korban juga akan menjadi fokus utama setelah serpihan pesawat berhasil dievakuasi. Kerjasama antara tim SAR, kepolisian, dan tim forensik akan sangat krusial untuk memastikan setiap korban dapat teridentifikasi dengan baik dan dikembalikan kepada keluarga mereka.

Pihak berwenang mengimbau agar keluarga korban untuk tetap bersabar dan memberikan kepercayaan penuh kepada tim SAR dalam menjalankan tugasnya. Dukungan dan doa dari seluruh masyarakat diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban dan memberikan kekuatan bagi tim SAR dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan ini. Perkembangan lebih lanjut mengenai proses evakuasi dan identifikasi akan terus disampaikan oleh pihak berwenang.

Pos terkait