Gema di Balik Dentuman: Memori, Estetika, dan Damai


Maret 2026 menandai sebuah momen krusial yang memaksa umat manusia menghadapi ketidakpastian yang mendalam. Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei di tengah eskalasi militer di Teheran bukan sekadar berita mengenai suksesi politik atau persoalan teknis tentang siapa yang akan memegang kendali—apakah itu Mojtaba Khamenei atau faksi dalam lingkaran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Di ruang akademik dan diskusi publik, perhatian kita sering kali terdistraksi oleh analisis makro: fluktuasi energi di Selat Hormuz, pergeseran hegemoni regional, hingga kalkulasi militer global. Namun, sebagai praktisi seni dan pengajar yang mendalami struktur bunyi dan kedalaman rasa, ada dimensi yang lebih mendesak yang perlu diperhatikan: sebuah realitas sosial yang sedang terkoyak hebat di tingkat akar rumput.

Konflik, pada hakikatnya, adalah sebuah proses yang memutus kohesi sosial. Serangan udara tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga merembes masuk ke ruang domestik, memutus dialog keluarga, dan mengoyak rencana masa depan generasi muda. Di titik ini, geopolitik berhenti menjadi sekadar strategi di atas kertas; ia menjelma menjadi pengalaman sensorik yang traumatis. Rasa aman yang selama ini kita anggap sebagai standar keseharian tiba-tiba hilang, digantikan oleh kecemasan konstan yang merusak ritme hidup masyarakat.

Retaknya Infrastruktur Rasa dan Kepercayaan


Dalam kajian perdamaian, fenomena ini sering disebut sebagai retaknya “infrastruktur rasa”. Membangun kembali gedung yang hancur mungkin hanyalah persoalan modal dan material. Namun, memulihkan jaringan kepercayaan (trust) yang telah terpolarisasi adalah proyek kemanusiaan yang melampaui logika ekonomi. Rivalitas identitas yang melibatkan aktor-aktor besar telah lama mengeksploitasi ideologi sebagai instrumen narasi. Pola “kita versus mereka” diproduksi secara masif melalui algoritma digital, memaksa masyarakat masuk ke dalam kotak biner yang sempit dan mematikan kemampuan untuk melihat nuansa.

Dalam transisi pasca-Khamenei yang penuh gejolak, kekerasan seolah mendapatkan legitimasi sosial karena ketakutan telah menjadi emosi dominan dalam ruang publik. Di sini, trauma perang menjadi residu sosiokultural yang diwariskan kepada generasi baru—mereka yang tidak pernah memegang senjata, tetapi batinnya menanggung beban sejarah yang berat.

Inilah yang disebut sebagai “labirin ingatan” yang sering kali gagal dijangkau oleh mekanisme formal keadilan transisi. Institusi mungkin mahir mencatat angka pelanggaran, tetapi mereka sering kali abai terhadap kehilangan yang tidak terartikulasikan dalam bahasa hukum. Kefanaan stabilitas yang hanya bersandar pada kekuatan militer menunjukkan bahwa perdamaian memerlukan fondasi yang lebih organik. Tanpa ruang untuk mengolah memori kolektif ini secara sehat, perdamaian yang disepakati di meja perundingan hanyalah kesunyian yang dipaksakan (imposed silence), bukan harmoni yang tulus.

Seni Sebagai Instrumen Transformasi Sosial


Di sinilah praktik artistik kontemporer mengambil peran sebagai instrumen transformasi sosial yang kuat. Dari kacamata etnomusikologi, ekspresi suara bukan sekadar estetika panggung, melainkan juga sebuah tindakan sosial yang mampu menembus batas identitas paling kaku sekalipun. Di Iran, perpaduan instrumen tradisional—seperti setar dengan eksperimentasi elektronik diaspora—adalah arsip kehidupan yang jauh lebih transparan daripada siaran pers pemerintah. Seni menyediakan ruang bagi dialog simbolik; ia memungkinkan kita merasakan penderitaan “yang liyan” tanpa harus terlebih dahulu sepakat secara ideologis.

Teknologi digital di tahun 2026 pun telah mengubah cara memori sosial diproduksi. Media sosial menjadi ruang kurasi di mana seni protes menyebar secara viral, menantang narasi tunggal kekuasaan. Estetika perlawanan ini adalah bentuk inklusivitas baru, di mana suara-suara pinggiran yang selama ini teredam oleh kebisingan geopolitik akhirnya mendapatkan panggungnya. Inilah yang dapat disebut sebagai empati estetis—sebuah siasat kebudayaan untuk melunakkan ketegangan sosial yang sudah mengeras akibat kebencian, agar benih-benih perdamaian memiliki kesempatan untuk tumbuh secara alami.

Menuju Perdamaian Positif yang Berkelanjutan


Sebagai pendidik, saya meyakini bahwa literasi terhadap keberagaman suara adalah kunci dalam membangun perdamaian positif (positive peace) yang berkelanjutan. Wafatnya Khamenei dan guncangan pasca-serangan udara 2026 seharusnya menjadi alarm bagi peradaban kita. Kita dipaksa mengakui bahwa perdamaian sejati bukanlah sekadar tiadanya perang (negative peace).

Perdamaian adalah sebuah proses dinamis dan inklusif—kemampuan kolektif sebuah bangsa untuk mengelola memori penderitaan tanpa harus menghancurkan martabat manusia lainnya. Kita berada pada titik di mana pilihan kita adalah membiarkan sejarah berulang dalam siklus dendam, atau mulai merajut kembali hubungan kemanusiaan melalui pendekatan kebudayaan yang empatik.

Tugas kita ke depan adalah memastikan bahwa narasi kemanusiaan yang substansif tidak tenggelam dalam propaganda. Kita perlu merawat infrastruktur rasa ini dengan ketelatenan, layaknya merawat sebuah tradisi yang retak, tetapi masih menyimpan potensi nilai yang luhur. Kebijakan internasional harus mulai bergeser, bukan hanya fokus pada aspek keamanan fisik, melainkan juga pada investasi dalam pertukaran budaya dan perlindungan memori kolektif bangsa-bangsa yang bertikai.

Catatan Vulgar: Memilih untuk Mendengar


Jika seluruh teori tentang memori, infrastruktur rasa, dan etnomusikologi di atas terasa terlalu mengawang, mari kita tarik ke tanah yang paling vulgar: Arti dari semua tulisan ini sederhana, tetapi brutal. Kita bisa terus berdebat tentang suksesi Khamenei atau kontrol Selat Hormuz sampai lidah kita kelu. Namun selama kita gagal mendengar lengkingan biola seorang musisi jalanan yang bermain di depan barisan tank, atau mengabaikan tangisan ritmis seorang ayah yang menggali kubur massal, kita hanyalah sekumpulan intelektual yang sedang merayakan kematian nuansa.

Seni dan memori sosial adalah benteng terakhir agar kita tidak berubah menjadi binatang politik yang hanya mengerti bahasa “hancurkan atau dihancurkan”. Jika kita kehilangan kemampuan untuk merasa terganggu oleh bau amis darah yang dibungkus narasi patriotisme, semua kurikulum perdamaian yang diajarkan hanyalah sampah administratif.

Pilihannya telanjang: kita belajar mendengar resonansi kemanusiaan yang paling lirih sekalipun, atau kita bersiap untuk tuli selamanya dalam dentuman yang tak akan pernah selesai.

Pos terkait