Fenomena Antrean BBM di Gorontalo: Kekhawatiran Publik di Tengah Ketidakpastian Pasokan
Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Sabtu (7/3/2026) menyaksikan fenomena yang cukup mengkhawatirkan: antrean kendaraan yang memanjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Fenomena ini muncul di tengah perhatian publik yang meningkat terhadap stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional, dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Salah satu lokasi yang paling terlihat dampaknya adalah SPBU Nani Wartabone di Jalan Nani Wartabone. Sejak pagi hingga siang hari, deretan kendaraan roda dua, roda tiga seperti bentor, hingga mobil pribadi tampak berjejer rapi menunggu giliran untuk mengisi tangki mereka. Antrean ini bahkan meluas hingga ke bahu jalan, menciptakan pemandangan yang tidak biasa di hari yang cerah. Meskipun didominasi oleh kendaraan roda empat, para pengendara menunjukkan kesabaran luar biasa di bawah terik matahari siang, menunggu giliran mereka.
Jenis BBM yang paling banyak dicari masyarakat adalah Pertalite, diikuti oleh Pertamax. Untuk mengantisipasi kepadatan dan mempercepat proses pengisian, petugas SPBU Nani Wartabone menerapkan strategi pembagian dua jalur pengisian Pertalite, mengarahkan kendaraan ke sisi kiri dan kanan pompa.
Warga Mulai Merasakan Kekhawatiran
Antrean panjang ini tidak luput dari perhatian warga. Noni Adam, seorang warga Gorontalo, mengungkapkan rasa khawatirnya yang mulai muncul. “Soal khawatir pasti ada, karena kita butuh bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia biasanya mengisi BBM di SPBU karena harganya lebih terjangkau dibandingkan membeli di depot.
Menurut Noni, fenomena antrean panjang biasanya terjadi pada pagi atau sore hari. Namun, dalam beberapa hari terakhir, antrean justru membludak pada siang hari. “Kalau dulu siang itu biasanya agak sepi. Tapi sekarang justru banyak kendaraan antre,” jelasnya, menandakan adanya perubahan pola konsumsi atau peningkatan kebutuhan.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh Andi Djafar, seorang pengemudi bentor yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM untuk mencari nafkah. “Kalau saya kan keliling cari penumpang. Berbeda dengan ojek online yang tinggal tunggu pesanan lewat aplikasi. Jadi kami sangat butuh bahan bakar,” tuturnya. Andi juga mengaku sempat mendengar berbagai pemberitaan mengenai potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global. Ia teringat kejadian di Aceh di mana masyarakat berbondong-bondong mengisi BBM karena kekhawatiran akan kehabisan.
Penjelasan Pihak SPBU: Stok Aman, Distribusi Normal
Meskipun antrean terlihat panjang, pihak pengelola SPBU Nani Wartabone memberikan jaminan bahwa stok BBM di lokasi tersebut masih aman. Seorang Koordinator di SPBU tersebut menyatakan bahwa distribusi bahan bakar masih berjalan normal tanpa adanya kendala. “Kalau stok bahan bakar masih aman, tidak ada masalah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, SPBU tersebut menerima pasokan BBM rata-rata sekitar 16 hingga 20 kiloliter (KL) per hari. Mengenai isu pembelian panik atau panic buying, koordinator tersebut menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya pembelian berlebihan oleh masyarakat. Ia juga menekankan bahwa pembelian BBM dalam jumlah besar untuk keperluan khusus, seperti pertanian atau nelayan, harus melalui mekanisme yang berlaku dan tidak bisa dilakukan sembarangan.
Antrean Juga Terlihat di SPBU Andalas
Fenomena antrean panjang tidak hanya terjadi di SPBU Nani Wartabone. SPBU Andalas yang berlokasi di kawasan Jalan Ex Andalas atau Prof Jhon Aryo Kaitili juga terpantau mengalami hal serupa. Sekitar pukul 15.20 Wita, terlihat sejumlah mobil pribadi, truk, hingga kendaraan roda dua mengantre di area pengisian BBM. Meskipun ramai, barisan kendaraan di lokasi ini masih tertata rapi di dalam area SPBU.
Indra Yasin, seorang pengendara yang ditemui di lokasi, mengakui bahwa antrean panjang sudah mulai terlihat dalam beberapa minggu terakhir. “Kalau saya lihat memang sudah beberapa minggu ini antreannya mulai panjang. Pagi, siang, sampai sore kadang ramai,” ujarnya.
Ia menduga peningkatan antrean ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan dan persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. “Biasanya menjelang Lebaran orang mulai banyak bepergian. Mungkin juga ada yang sudah persiapan mudik,” jelasnya.

Meskipun demikian, Indra mengaku tidak terlalu khawatir dengan isu gangguan pasokan BBM. Ia berpendapat bahwa situasi di Gorontalo biasanya cenderung aman dan tidak terlalu terdampak oleh isu-isu nasional atau global.
Sementara itu, koordinator di SPBU Andalas juga memberikan pernyataan yang serupa. Ia memastikan bahwa stok BBM di SPBU Andalas masih dalam kondisi aman. Rata-rata pasokan BBM yang diterima SPBU ini berkisar antara 24 hingga 30 KL. “Stoknya sama seperti hari-hari sebelumnya, masih aman dan tidak ada masalah,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan antrean yang terjadi lebih disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari besar keagamaan, seperti Lebaran, yang mendorong masyarakat untuk melakukan perjalanan dan mudik.
Secara keseluruhan, meskipun ada peningkatan antrean di beberapa SPBU di Gorontalo, pihak pengelola SPBU memastikan bahwa stok BBM masih mencukupi dan distribusi berjalan normal. Kekhawatiran warga tampaknya lebih dipicu oleh pemberitaan mengenai ketidakpastian pasokan energi global dan peningkatan aktivitas masyarakat menjelang momen-momen penting.






