Harga buyback emas Antam naik 11,65% per Kamis (22/1)



JAKARTA — Harga buyback emas Antam mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,65% dalam periode berjalan tahun ini hingga Kamis (22/1/2026). Berdasarkan data Logam Mulia yang dirilis pada hari yang sama, harga buyback emas Antam turun sebesar Rp15.000 menjadi Rp2.635.000. Posisi tersebut membuat rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada hari sebelumnya.

Meskipun demikian, harga buyback emas Antam masih mencatatkan kenaikan sebesar 11,65% untuk periode 2026. Dalam catatan Bisnis, harga buyback emas Antam telah memecahkan rekor ATH baru sebanyak sembilan kali hingga Rabu (21/1/2026).

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan harga jual saat itu. Namun, transaksi ini tetap bisa memberikan keuntungan jika terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal di atas Rp10 juta dikenakan pajak PPh 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen bagi non NPWP. Pajak ini dipotong langsung dari total nilai buyback.

Harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global. Sebelumnya, reli harga emas yang sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa mereda setelah Presiden AS Donald Trump menahan diri untuk tidak memberlakukan tarif ke negara-negara Eropa.

Terbaru, Trump menyatakan telah tercapai “kerangka kesepakatan di masa depan” terkait upaya untuk mengambil alih Greenland. Penurunan tensi ini membantu mendinginkan harga logam mulia seperti emas dan perak.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$4.790,13 per ons pada pukul 15.23 waktu New York, sementara perak turun 3,3% setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan ini.

“Emas mungkin sedang berhenti sejenak, tetapi pasar bullish masih sangat utuh. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, dan pembelian kuat oleh bank sentral membuat risiko tetap condong ke arah kenaikan,” kata Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING Groep NV., dikutip Bloomberg, Kamis (22/1/2026).

Secara terpisah, para hakim Mahkamah Agung AS mengisyaratkan kehati-hatian terhadap upaya Trump untuk memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek yang belum terbukti. Mereka menilai langkah tersebut berpotensi mengguncang independensi The Fed dan meresahkan pasar. Hal ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terkait pengambilan keputusan suku bunga oleh bank sentral AS, yang menjadi pilar utama pasar keuangan.

Pos terkait