Harga Minyak Meroket, Wall Street Tergelincir

Indeks Wall Street Merosot Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Data Ketenagakerjaan Mengecewakan

Pasar saham Amerika Serikat, yang dikenal dengan julukan Wall Street, mengakhiri pekan perdagangan pada Jumat (6/3) dengan catatan negatif. Penurunan signifikan ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling terkait: lonjakan tajam harga minyak dunia dan respons pasar terhadap data penciptaan lapangan kerja baru di AS yang justru mengalami penurunan tak terduga.

Pergerakan Indeks Utama yang Mengkhawatirkan

Pada penutupan perdagangan, Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan sebesar 453,19 poin, atau setara dengan 0,95%, sehingga bertengger di angka 47.501,55. Periode perdagangan hari itu bahkan sempat menyaksikan indeks ini merosot lebih dalam lagi, hampir mencapai 950 poin atau sekitar 2%. Tidak ketinggalan, indeks S&P 500 juga mengalami koreksi yang cukup dalam, kehilangan 1,33% nilainya dan berakhir di level 6.740,02. Indeks Nasdaq Composite, yang mencerminkan kinerja saham-saham teknologi, juga tak luput dari tekanan, ditutup turun 1,59% ke posisi 22.387,68.

Lonjakan Harga Minyak Mentah Membakar Kekhawatiran Pasar

Tekanan yang melanda pasar saham ini berbarengan dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), salah satu patokan utama harga minyak global, berhasil menembus ambang batas US$ 90 per barel. Pekan perdagangan ditutup dengan kenaikan harga minyak yang fenomenal, mencapai sekitar 35%. Kenaikan ini tercatat sebagai lonjakan mingguan terbesar sejak pencatatan perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada tahun 1983, menandakan sentimen pasar yang sangat kuat terhadap komoditas energi ini.

Kenaikan harga minyak yang drastis ini terjadi di tengah investor yang secara aktif menimbang potensi dampak konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi global. Kekhawatiran akan terganggunya aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan produsen minyak utama dunia, menjadi pendorong utama kenaikan harga.

Harga minyak bahkan melonjak lebih jauh pada hari Jumat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan melalui platform media sosialnya, Truth Social. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran tanpa adanya penyerahan tanpa syarat dari negara Timur Tengah tersebut. Pernyataan ini mempertegas eskalasi ketegangan geopolitik dan semakin memperkuat narasi ketidakpastian pasokan.

Prediksi dan Peringatan dari Para Ahli

Para pakar ekonomi dan analis pasar memberikan pandangan yang cukup mengkhawatirkan mengenai prospek harga minyak. Profesor emeritus Wharton, Jeremy Siegel, menyatakan bahwa pasar saat ini berada dalam posisi yang sangat berhati-hati. “Jika tidak ada terobosan selama akhir pekan, saya pikir kita akan melihat harga minyak mencapai US$ 100 minggu depan,” ungkapnya, mengutip dari CNBC Internasional.

Kekhawatiran ini semakin diperkuat oleh pernyataan Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi. Ia mengindikasikan bahwa produsen energi di kawasan Teluk kemungkinan besar perlu memberlakukan kebijakan force majeure dalam beberapa hari ke depan. Tindakan ini berarti penghentian produksi sementara, yang berpotensi mendorong harga minyak melonjak lebih jauh lagi, bahkan hingga mencapai US$ 150 per barel. Al-Kaabi juga memberikan peringatan keras bahwa konflik di Timur Tengah ini dapat menjatuhkan perekonomian dunia.

Manajer portofolio dari Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, turut menyoroti volatilitas pasar minyak. Ia menilai rentang antara harga tertinggi dan terendah minyak kini melebar secara signifikan. Bahkan jika proyeksi harga US$ 150 per barel dari al-Kaabi dipangkas sekitar 20%, harga minyak tetap berada pada level yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi global.

“Jika saya seorang trader, saya tidak terlalu bersemangat memegang banyak saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi selama akhir pekan ketika perang dengan Iran masih berlangsung, dengan volatilitas dan ketidakpastian dari Presiden Trump,” ujar Ellerbroek. Ia menambahkan bahwa semakin lama situasi ini berlarut-larut, semakin besar pula dampaknya terhadap perilaku pasar saham secara keseluruhan.

Dampak pada Saham Sensitif Energi dan Data Ketenagakerjaan yang Mengecewakan

Lonjakan harga minyak juga berdampak langsung pada saham-saham perusahaan yang sensitif terhadap biaya energi. Saham operator kapal pesiar, Royal Caribbean, yang telah mengalami penurunan lebih dari 10% sepanjang pekan ini, kembali melemah sekitar 1% pada perdagangan Jumat. Demikian pula, saham produsen alat berat terkemuka, Caterpillar, tercatat turun lebih dari 3% pada akhir perdagangan.

Selain lonjakan harga minyak, pasar saham juga mengalami tekanan akibat rilis data ketenagakerjaan terbaru di Amerika Serikat yang mengecewakan. Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa jumlah lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) mengalami penurunan sebesar 92.000 pada bulan Februari. Angka ini sangat kontras dengan data bulan Januari yang menunjukkan kenaikan, bahkan angka kenaikan Januari itu sendiri telah direvisi turun menjadi 126.000. Lebih parahnya lagi, angka penurunan Februari ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones, yang memperkirakan adanya kenaikan sebesar 50.000. Tingkat pengangguran juga dilaporkan mengalami kenaikan menjadi 4,4% dari sebelumnya 4,3%, menandakan pelemahan pada pasar tenaga kerja.

Secara keseluruhan, sepanjang pekan perdagangan ini, indeks S&P 500 di Wall Street tercatat mengalami penurunan sekitar 2%. Indeks Dow Jones, yang terdiri dari 30 saham unggulan, melemah sekitar 3%, sementara indeks teknologi Nasdaq terkoreksi 1,2%. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak dan data ekonomi domestik yang melemah menciptakan sentimen negatif yang kuat di pasar saham.

Pos terkait