Haul ke-74: Fakta Baru Wafatnya Nyai Nur Khodijah Terkuak

Mengungkap Fakta Baru Haul Nyai Nur Khodijah: Pelopor Pesantren Putri dan Tabir Tahun Wafat yang Terungkap

Peringatan Haul ke-74 pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Nyai Nur Khodijah, baru-baru ini mengungkap sebuah fakta penting yang selama ini menjadi perdebatan. Tokoh perempuan yang dikenal sebagai salah satu pelopor pesantren putri di Indonesia ini memiliki catatan tahun wafat yang berbeda-beda di berbagai sumber. Namun, melalui penelusuran mendalam, tabir misteri tersebut kini mulai tersibak, memberikan pencerahan baru mengenai akhir hayat sang ulama kharismatik.

Selama ini, informasi mengenai kapan Nyai Nur Khodijah menghembuskan napas terakhirnya kerap simpang siur. Catatan yang beredar mencantumkan tahun wafat yang bervariasi, mulai dari 1949, 1952, 1953, 1955, hingga 1958. Perbedaan ini diduga kuat disebabkan oleh metode pencatatan di masa lalu yang seringkali mengacu pada peristiwa tertentu, bukan pada penanggalan yang pasti.

Penelusuran Sanad: Menemukan Titik Terang

Upaya penelusuran yang dilakukan oleh M. Faishol, seorang peneliti sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menjadi kunci penting dalam mengungkap kebenaran ini. Faishol menjelaskan bahwa perbedaan catatan tersebut memang umum terjadi pada masa lampau karena cara penanggalan yang tidak selalu baku.

“Sehingga, secara perhitungan, untuk Bu Nyai Nur Khodijah, sesuai hitungan hijriah, maka pada 2023 adalah Haul beliau yang ke-70, bukan ke-74,” ujar Faishol dalam sebuah keterangan. Angka haul yang berbeda ini mengindikasikan adanya pergeseran pemahaman mengenai tahun wafat yang sesungguhnya.

Data yang diperoleh Faishol tidak hanya berasal dari dokumen tertulis, tetapi juga dari kesaksian langsung keluarga yang pernah menjadi santri Nyai Nur Khodijah. Salah satu kesaksian penting datang dari seorang ibu yang merupakan santri Nyai Nur Khodijah. Menurut penuturan ibunya, saat Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulungnya yang bernama Jamilah belum lahir. Jamilah sendiri tercatat lahir pada Desember 1955. Kesaksian ini menjadi pelengkap yang saling menguatkan dengan data tertulis yang menyebutkan tahun Masehi 1955.

Penemuan Buku “Risalah Akhir Sanah”: Bukti Tertulis yang Menguatkan

Titik terang yang lebih signifikan muncul setelah ditemukannya sebuah buku berjudul “Risalah Akhir Sanah” di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan beberapa bulan lalu. Buku ini memuat catatan yang sangat jelas mengenai waktu wafatnya Nyai Nur Khodijah.

Menurut catatan dalam buku tersebut, Nyai Nur Khodijah wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah. Jika dikonversi ke dalam kalender Masehi, tanggal tersebut jatuh pada hari Ahad, 15 Mei 1955, di usianya yang ke-63 tahun.

Faishol menambahkan sedikit koreksi terkait detail tahun dalam buku tersebut. “Dalam buku ‘Risalah Akhir Sanah’ tertulis kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadhan 1375. Agaknya keliru sedikit terkait tahun, yang semestinya adalah 22 Ramadhan 1374,” ungkapnya. Perbedaan satu tahun ini cukup krusial dalam penentuan haul.

Lebih menarik lagi, data dari “Risalah Akhir Sanah” juga menunjukkan sebuah keunikan: Nyai Nur Khodijah lahir dan wafat pada bulan yang sama, yaitu bulan suci Ramadhan. Ia tercatat lahir pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah dan wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah. Fenomena ini menambah kekhususan dalam perjalanan hidup sang tokoh.

Nyai Nur Khodijah: Sang Pelopor Pesantren Putri yang Berdedikasi

Nyai Nur Khodijah bukan sekadar seorang ulama, melainkan sosok pionir yang membuka jalan bagi pendidikan perempuan dalam format pesantren di Indonesia. Ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki karakter kuat: lembut, sabar, cerdas, tegas, dan disiplin. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ahli tirakat, menunjukkan kedalaman spiritualnya.

Selama kurang lebih 38 tahun, Nyai Nur Khodijah mendampingi suaminya, KH. Bisri Syansuri, dalam mengelola dan mengembangkan Pondok Pesantren Denanyar. Peranannya sangat vital dalam membangun lembaga pendidikan ini.

Nyai Nur Khodijah adalah putri dari pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah. Pernikahan orang tuanya dikaruniai tujuh orang anak, di antaranya adalah Abdul Wahab, Abdul Hamid, dan Nyai Nur Khodijah sendiri. Kiai Abdul Wahab lahir pada tahun 1887, disusul Kiai Abdul Hamid pada 1890. Nyai Nur Khodijah, sebagai anak ketiga, lahir pada tahun 1897.

Berdasarkan arsip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berjudul “Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa”, tanggal kelahiran Nyai Nur Khodijah tercatat pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah, yang bertepatan dengan 23 Februari 1897.

Pada usia sekitar 17 tahun, tepatnya pada tahun 1914, Nyai Nur Khodijah menikah dengan KH. Bisri Syansuri yang saat itu berusia sekitar 27 tahun. Beberapa tahun setelah pernikahan, KH. Bisri Syansuri turut membantu pesantren mertuanya di Tambakberas. Persiapan ini menjadi bekal penting sebelum beliau mendirikan pesantren sendiri.

Pada tahun 1917, KH. Bisri Syansuri mendirikan pesantren khusus putra di Desa Denanyar. Dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1919, pasangan KH. Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khodijah melanjutkan perjuangan mereka dengan mendirikan pesantren khusus putri.

Pesantren putri yang didirikan oleh pasangan ulama ini kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan yang sangat dihormati. Tujuannya adalah untuk mendidik perempuan agar menjadi pribadi yang bermartabat. Pendidikan yang diberikan mencakup pemahaman mendalam tentang dasar-dasar keislaman melalui pengajian kitab kuning, serta kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik.

Banyak tokoh perempuan penting dalam dunia pesantren yang pernah menimba ilmu langsung dari Nyai Nur Khodijah. Di antara santri-santrinya yang terkenal adalah keponakannya sendiri, yaitu Nyai Muktamaroh dan Nyai Mahfudhoh, yang merupakan putri dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Jejak pendidikan dan dedikasi Nyai Nur Khodijah terus menginspirasi hingga kini.

Pos terkait