Ibu Hamil dan Lansia Wajib Waspada, Vaksin Apa Saja yang Aman dan Dilarang?

Pentingnya Vaksinasi untuk Lansia dan Ibu Hamil

Bagi kelompok rentan seperti lansia dan ibu hamil, serangan virus atau bakteri bisa berdampak fatal. Sistem kekebalan tubuh yang terus menurun pada lansia, serta perubahan kondisi fisik pada ibu hamil, membuat tubuh mereka tidak sekuat individu dewasa yang sehat. Oleh karena itu, perlindungan ekstra melalui vaksinasi menjadi hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar lagi.

Vaksin yang Dianjurkan untuk Lansia

Dr. Visakha Revena Irawan, Sp.PD, AIFO-K dari Mandaya Royal Hospital Puri menjelaskan bahwa bagi kelompok lanjut usia, risiko terjadinya komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan jauh lebih tinggi. Selain vaksin Influenza tahunan dan Pneumokokal (PCV20) untuk mencegah radang paru, kini ada ancaman virus yang wajib diwaspadai, yaitu RSV (Respiratory Syncytial Virus).

“RSV ini virusnya virus lama, tapi baru ada vaksin baru. Dan yang paling bikin angka mortalitasnya tinggi sampai kematian itu waktu dia menyerang ke lansia. Karena biasanya di dewasa (muda) gejalanya enggak heboh-heboh banget,” ujar dr. Visakha dalam acara kesehatan di Tangerang, Jumat (29/5/2026).

Selain masalah pernapasan, lansia juga dihantui oleh penyakit kulit yang sangat menyiksa, yaitu Herpes Zoster (cacar ular). Penyakit ini merupakan reaktivasi virus cacar air (Varisela) yang pernah dialami saat kecil, kemudian bersembunyi di saraf tubuh dan muncul kembali saat sistem imun melemah.

“Herpes Zoster itu enggak sesimpel cacar air, karena dia agak lebih nyebelin pasca kejadiannya. Lukanya sudah kering tapi masih rasa nyeri, tetap rasa terbakar,” jelasnya.

Panduan Vaksinasi Ibu Hamil

Tidak hanya lansia, ibu hamil juga memerlukan perhatian medis yang sangat spesifik. Menurut dr. Visakha, vaksinasi pada ibu hamil terbagi menjadi dua kategori penting, yakni vaksin yang wajib diberikan dan vaksin yang sama sekali tidak boleh diberikan.

Vaksin Influenza menjadi prioritas utama dan cukup diberikan satu kali dalam setahun. Sementara itu, vaksin RSV Bivalen direkomendasikan diberikan pada usia kehamilan 24 hingga 36 minggu. Idealnya, vaksin diberikan 2 hingga 4 minggu sebelum persalinan agar bayi yang lahir langsung mendapatkan proteksi bawaan.

Selain itu, vaksin Tdap (Tetanus, Difteri, dan Pertusis) harus diberikan pada setiap kehamilan. “Jadi kalau hamil lima kali, ya lima kali berarti harus vaksin Tetanus ini tadi,” jelas dr. Visakha.

Daftar Vaksin yang Tidak Boleh untuk Ibu Hamil



Para suami dan ibu hamil wajib mencatat bahwa tidak semua vaksin aman bagi janin. Dokter spesialis penyakit dalam ini mengingatkan ada jenis vaksin yang benar-benar kontraindikasi bagi ibu hamil. “Vaksin yang bener-bener kontraindikasi, kita bener-bener enggak boleh kasih buat ibu hamil terlepas dari benefit-nya, itu vaksin yang terutama kita bilang cuma dilemahkan (live-attenuated vaccine),” ujarnya.

Beberapa contoh vaksin yang dilarang keras untuk ibu hamil di antaranya vaksin Varisela (cacar air), vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), vaksin Dengue (demam berdarah), dan vaksin Yellow Fever (demam kuning).

Melalui pemahaman yang tepat mengenai jenis-jenis vaksinasi ini, keluarga dapat memberikan benteng perlindungan terbaik bagi ibu dan bayi. Sebab, mencegah komplikasi sejak dini jauh lebih berharga daripada mengobati ketika penyakit sudah terlanjur menyerang.

Pos terkait