IHSG Diperkirakan Bergerak Sideways di Tengah Ketidakpastian Global
Perdagangan saham di Indonesia pada Jumat, 27 Maret 2026, diprediksi akan kembali menunjukkan pergerakan yang cenderung datar atau sideways. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang yang sempit, yaitu antara 7.050 hingga 7.250 poin. Prediksi ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian di kancah global, khususnya terkait negosiasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Pergerakan IHSG yang relatif terbatas ini mencerminkan sentimen pasar yang tengah mencermati perkembangan geopolitik. Ketegangan dan ketidakjelasan informasi mengenai negosiasi antara kedua negara tersebut diperkirakan akan terus membayangi pergerakan bursa saham regional dalam beberapa waktu ke depan.
Tim riset dari Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways dengan support kuat di level 7.050 poin dan resistance di angka 7.300 poin. Rentang pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih mencari arah yang jelas di tengah berbagai faktor yang saling tarik-menarik.
Rekomendasi Saham Pilihan
Untuk perdagangan pada Jumat (27/3/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham sebagai pilihan utama bagi investor. Saham-saham ini dinilai memiliki potensi untuk tetap bergerak positif atau setidaknya lebih tahan terhadap tekanan pasar.
Saham-saham yang masuk dalam rekomendasi utama antara lain:
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA)
- PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA)
- PT United Tractors Tbk. (UNTR)
- PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN)
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI)
Pemilihan saham-saham ini didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal masing-masing perusahaan, serta potensi mereka untuk memberikan imbal hasil yang menarik dalam kondisi pasar yang dinamis.
Tekanan Profit Taking dan Ketidakpastian Geopolitik
Pada perdagangan Kamis (26/3/2026), IHSG kembali mengalami pelemahan yang cukup signifikan setelah sempat mencatatkan penguatan pada hari sebelumnya. Tekanan jual yang terjadi, yang dikenal sebagai aksi ambil untung (profit taking), menjadi pemicu utama penurunan indeks. Hal ini diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian global yang berasal dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
IHSG ditutup melemah sebesar 1,89% ke level 7.164,09 poin. Angka ini mencerminkan sikap kehati-hatian para pelaku pasar yang secara aktif memantau perkembangan situasi geopolitik. Selama 48 jam terakhir, pasar keuangan global diramaikan oleh pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari kedua negara mengenai status perundingan gencatan senjata.
Pemerintah Amerika Serikat mengklaim bahwa proses negosiasi tengah berjalan lancar. Namun, pihak Iran justru membantah adanya interaksi langsung dan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk berunding secara formal. Iran menambahkan bahwa pertukaran proposal melalui pihak ketiga atau mediator tidak dapat dianggap sebagai negosiasi resmi. Ketidakjelasan ini menciptakan keraguan di kalangan investor mengenai potensi penyelesaian konflik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Sektor Energi Tertekan, Transportasi Menguat
Di pasar domestik, sektor energi menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan paling dalam dan menjadi penopang utama pelemahan IHSG. Sebaliknya, sektor transportasi justru menunjukkan kinerja yang positif dan menjadi satu-satunya sektor yang mampu mencatatkan penguatan di tengah tekanan pasar secara keseluruhan. Perbedaan kinerja antar sektor ini menunjukkan adanya rotasi investasi yang selektif dari para pelaku pasar.
Rupiah Menguat, Langkah Antisipatif Pemerintah
Menariknya, di tengah pelemahan pasar saham, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan performa yang positif. Mata uang Garuda ditutup menguat ke level Rp16.904 per dolar Amerika Serikat di pasar spot. Penguatan Rupiah ini berlawanan arah dengan mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah terhadap dolar AS. Hal ini dapat memberikan sedikit bantalan bagi investor asing yang berinvestasi di Indonesia.
Menyikapi potensi gejolak di pasar keuangan, pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Menteri Keuangan telah menginstruksikan penambahan penempatan dana pemerintah ke sektor perbankan sebesar Rp100 triliun. Dengan tambahan dana ini, total dana pemerintah yang ditempatkan di perbankan mencapai sekitar Rp300 triliun.
Kebijakan penempatan dana ini bertujuan untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah tren kenaikan yield obligasi pemerintah. Skema penempatan dana tersebut dirancang agar bersifat fleksibel, sehingga dana dapat ditarik sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan likuiditas perbankan. Langkah ini diharapkan dapat meredam kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan dana di sistem perbankan.
Perlu diingat bahwa berita ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor, dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas segala keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi tersebut.




