IHSG Diperkirakan Terus Naik, Didorong Sentimen Inflasi dan Manufaktur RI



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Rabu (3/6). Pada perdagangan Selasa (2/6), IHSG ditutup naik di level 6.195,43 dengan kenaikan sebesar 1,11 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar sedang dalam kondisi positif dan berpotensi terus melanjutkan penguatan.

Dari sisi teknikal, analis Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pergerakan IHSG masih berada di atas Moving Average 5 (MA5). Histogram MACD yang negatif terus menyempit, sementara Stochastic RSI bergerak menuju area pivot. Hal ini memberi indikasi bahwa IHSG memiliki potensi untuk terus menguat dan mencoba menguji level 6.220 hingga 6.280.

Dari sisi fundamental, inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,08 persen secara year on year (YoY) pada Mei 2026, dibandingkan dengan 2,42 persen YoY pada bulan sebelumnya. Kelompok makanan menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan pertumbuhan harga sebesar 4,94 persen YoY, didorong oleh kenaikan harga bahan pokok dan biaya distribusi. Inflasi inti juga naik menjadi 2,59 persen YoY dari sebelumnya 2,44 persen YoY.

Analis Phintraco Sekuritas memastikan bahwa tingkat inflasi ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen. Namun, jika inflasi terus menguat dan rupiah mengalami pelemahan lebih dalam, BI diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga.

Sementara itu, aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026. Ini menunjukkan bahwa kondisi pabrik relatif stabil, terlihat dari pesanan baru yang meningkat selama dua bulan berturut-turut. Meskipun demikian, pesanan ekspor terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

Di sektor eksternal, surplus neraca perdagangan menyusut tajam menjadi USD 0,09 miliar pada April 2026, lebih rendah dibandingkan USD 3,32 miliar pada Maret 2026 maupun USD 0,20 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini merupakan surplus terendah sejak April 2020. Kenaikan impor sebesar 22,5 persen YoY menjadi salah satu faktor utama penurunan surplus, dengan peningkatan impor migas sebesar 85,52 persen dan impor non migas tumbuh 14,11 persen. Di sisi lain, ekspor meningkat 21,98 persen YoY pada April 2026 setelah sebelumnya mengalami kontraksi 3,1 persen pada Maret 2026. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2022.

“Kenaikan impor migas antara lain disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah,” tambah analis Phintraco Sekuritas.

Rekomendasi saham yang layak diperhatikan sepanjang perdagangan Rabu (3/6) adalah AMRT, ENRG, SMGR, SUPA, dan SCMA. Analis MNC Sekuritas melihat pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan Selasa (2/6) cenderung sideways. Kemudian posisi pergerakan IHSG saat ini diperkirakan masih berada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam.

“Area penguatan IHSG kami perkirakan akan menguji 6.362-6.484, dengan area koreksi terdekat berada di 5.899-6.080,” tulis analis MNC Sekuritas dalam risetnya, Rabu (3/6).

Analis MNC Sekuritas kemudian merekomendasikan saham BRPT, IMPC, INCO, dan KLBF untuk diperhatikan sepanjang perdagangan Rabu (3/6).

Pos terkait