IHSG Diprediksi Turun ke 6.800, Ini Penyebabnya

IHSG Masih Rentan Melemah Akibat Berbagai Faktor Negatif

Pasar saham Indonesia kembali dibayangi tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Setelah sempat mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada Senin (11/5/2026). Sejumlah sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri disebut menjadi faktor utama yang menekan psikologis pelaku pasar.

Pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG tercatat anjlok hingga 2,86 persen dan berhenti di level 6.969,40. Koreksi tajam tersebut menjadi perhatian investor karena menunjukkan tingginya tekanan jual di pasar modal Indonesia. Kondisi ini juga membuat pelaku pasar mulai lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Tekanan terhadap IHSG tidak hanya datang dari dinamika ekonomi domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik internasional. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan titik damai disebut menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi pergerakan pasar saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Selain itu, kekhawatiran terhadap penyebaran Hantavirus di Indonesia hingga wacana kenaikan tarif royalti pertambangan juga ikut memperburuk sentimen pasar.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat banyak analis memprediksi IHSG masih rentan mengalami koreksi lanjutan dalam jangka pendek.

IHSG Masih Berpeluang Rebound Teknikal

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman menjelaskan bahwa meskipun pasar masih berada dalam tekanan, IHSG tetap memiliki peluang mengalami rebound teknikal jangka pendek. Rebound teknikal sendiri merupakan istilah di pasar modal yang menggambarkan kenaikan sementara harga saham setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.

Menurut Fanny, IHSG berpotensi bergerak di rentang 7.070 hingga 7.130 dalam jangka pendek. Namun demikian, ia mengingatkan investor agar tetap berhati-hati karena tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir. “Tapi gunakan untuk sell on high karena IHSG masih rentan kembali koreksi. Support IHSG di kisaran 6.650-6.850 dan resist 7.070-7.130,” paparnya.

Istilah sell on high berarti strategi menjual saham ketika harga mengalami kenaikan untuk mengamankan keuntungan sebelum terjadi penurunan kembali. Sementara itu, support merupakan batas bawah pergerakan harga yang dianggap kuat menahan penurunan lebih lanjut. Sedangkan resistance adalah level batas atas yang biasanya sulit ditembus karena tekanan jual meningkat di area tersebut.

Konflik AS-Iran Masih Jadi Sentimen Utama

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi pemicu utama melemahnya bursa saham Asia dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian mengenai hasil negosiasi damai antara kedua negara membuat investor cenderung mengurangi risiko investasi di pasar saham. Kondisi ini menyebabkan aliran dana asing mulai keluar dari sejumlah pasar berkembang, termasuk Indonesia.

VP of Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan bahwa situasi geopolitik global masih sangat memengaruhi arah pergerakan IHSG. Menurutnya, proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini memasuki masa 30 hari pembahasan komprehensif masih menyimpan risiko besar apabila tidak menghasilkan kesepakatan. “Jika tidak ada kesepakatan maka kekhawatiran dapat kembali ke eskalasi militer,” jelas Audi.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung menahan diri untuk masuk ke instrumen berisiko seperti saham. Ketika tensi geopolitik meningkat, pelaku pasar biasanya lebih memilih aset aman atau safe haven seperti emas dan dolar AS.

Revisi Tarif Royalti Tambang Ikut Menekan Pasar

Selain sentimen global, pasar saham Indonesia juga dibebani isu domestik terkait rencana revisi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2025 mengenai tarif royalti pertambangan. Royalti tambang merupakan kewajiban pembayaran yang harus diberikan perusahaan tambang kepada negara atas hasil sumber daya alam yang dieksploitasi. Pemerintah disebut tengah mempertimbangkan kenaikan tarif royalti seiring meningkatnya harga komoditas global.

Audi menjelaskan bahwa usulan kenaikan royalti tersebut berpotensi memengaruhi profitabilitas perusahaan tambang yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak IHSG. Sebagai contoh, tarif dasar royalti emas diusulkan naik dari 7 persen menjadi 14 persen. Sementara tarif efektif tembaga berpotensi meningkat dari 10 persen menjadi 12 persen dengan asumsi harga rata-rata tembaga tahun 2026 mencapai 12.655 dollar AS per ton.

“Hal ini cenderung memberikan dampak pada margin emiten related dan direspon negatif oleh pasar secara langsung pada 8 Mei 2026 mendatang,” jelas Audi. Margin emiten sendiri merujuk pada tingkat keuntungan perusahaan terbuka atau perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek.

Kekhawatiran investor muncul karena kenaikan royalti berpotensi memangkas laba bersih perusahaan tambang. Akibatnya, saham-saham sektor pertambangan ikut mengalami tekanan jual dalam beberapa hari terakhir.

Kekhawatiran Hantavirus Mulai Memengaruhi Investor

Faktor lain yang ikut menjadi perhatian pasar adalah munculnya kekhawatiran mengenai penyebaran Hantavirus di Indonesia. Hantavirus merupakan virus yang umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan manusia. Meski hingga kini belum ada laporan wabah besar, isu tersebut mulai memicu kewaspadaan di kalangan investor.

Audi menyebut sentimen terkait Hantavirus berpotensi membuat investor melakukan reposisi portofolio saham mereka, khususnya terhadap sektor kesehatan. Reposisi portofolio adalah strategi investor memindahkan dana investasi dari satu sektor ke sektor lain yang dianggap lebih aman atau lebih berpotensi memberikan keuntungan. Dalam kondisi ketidakpastian kesehatan, saham sektor farmasi dan layanan kesehatan biasanya menjadi pilihan alternatif bagi investor karena dianggap memiliki prospek lebih baik.

Pasar Tunggu Hasil Peninjauan MSCI

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee mengatakan bahwa pelaku pasar saat ini juga masih menantikan hasil peninjauan dari MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Mei 2026. MSCI atau Morgan Stanley Capital International merupakan lembaga penyedia indeks saham global yang menjadi acuan banyak investor institusi dunia dalam menentukan portofolio investasi mereka.

Perubahan status saham dalam indeks MSCI biasanya berdampak besar terhadap arus masuk dan keluar dana asing di pasar modal suatu negara. Hans mencermati bahwa pasar mulai mengantisipasi potensi perubahan pada saham-saham konglomerasi menjelang pengumuman MSCI tersebut. Ia juga menyoroti kondisi perdagangan pekan ini yang hanya berlangsung tiga hari sehingga membuat investor cenderung mengurangi aksi spekulatif.

Spekulasi di pasar saham merupakan aktivitas membeli atau menjual saham dengan harapan memperoleh keuntungan jangka pendek. “Hans memproyeksikan IHSG menguat dengan support 6.900–6.850 dan resistance di level 7.000–7.207.”

Investor Diminta Lebih Selektif

Dengan berbagai sentimen negatif yang masih membayangi pasar, analis menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham. Strategi jangka pendek dinilai lebih aman dibandingkan mengambil posisi agresif di tengah volatilitas tinggi. Volatilitas sendiri merupakan istilah yang menggambarkan tingginya perubahan harga dalam waktu singkat di pasar saham.

Pelaku pasar juga diminta mencermati perkembangan negosiasi geopolitik global, kebijakan pemerintah terkait sektor pertambangan, serta sentimen kesehatan yang dapat memengaruhi arah IHSG dalam beberapa waktu ke depan. Meski demikian, sejumlah analis masih melihat peluang rebound jangka pendek apabila tekanan eksternal mulai mereda. Namun selama ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang, pasar saham Indonesia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan.

Pos terkait