Angka Tinggi Kasus Lupus di Indonesia
Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan jumlah perempuan penyintas lupus terbanyak. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena penyakit autoimun kronis ini sering kali terlambat didiagnosis, sementara dampaknya bisa menyerang berbagai organ tubuh dan mengurangi kualitas hidup pasien.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, menyampaikan bahwa hingga saat ini angka kematian akibat lupus masih cukup tinggi di berbagai laporan di Indonesia, yaitu sekitar 8,1 persen. Angka ini termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Lupus Disebut Penyakit Seribu Wajah
Menurut dr. Sandra, lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh. Manifestasi penyakit ini bisa berbeda pada setiap orang, baik dari jenis gejala maupun tingkat keparahannya.
“Penyakit ini dikatakan sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pada sebagian pasien lupus dapat menyerang kulit dan sendi, sementara pada pasien lain bisa mengenai darah, ginjal, paru-paru hingga jantung.
“Tidak ada satu organ yang bisa lupus lewati karena dia memang menyerang semua organ,” kata dr. Sandra.
Gejala lupus juga bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari rambut rontok, ruam kulit, sariawan berulang, gangguan sendi, hingga masalah pada organ dalam.
Penyebab Lupus Belum Diketahui Pasti
Hingga saat ini, dr. Sandra menegaskan bahwa penyebab pasti lupus belum diketahui. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya keterlibatan faktor genetik yang kemudian dipicu oleh faktor lingkungan.
“Namun penelitian memperlihatkan bahwa unsur genetik berperan penting,” jelasnya.
Meski demikian, faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan lupus. Diperlukan faktor pencetus dari lingkungan yang bersifat multifaktorial.
Beberapa faktor yang diduga memicu lupus antara lain paparan bahan kimia, polusi, sinar matahari berlebihan, infeksi bakteri maupun virus, kekurangan vitamin D, hingga pola makan tertentu.
dr. Sandra juga menyoroti peran hormon karena sekitar 90 persen pasien lupus merupakan perempuan.
“Jadi memang semuanya ini multifaktorial, tidak ada satu faktor tunggal yang bisa menyebabkan lupus,” ungkapnya.
Banyak Menyerang Wanita Usia Produktif
Lupus paling banyak ditemukan pada perempuan usia 15 hingga 45 tahun atau kelompok usia produktif. dr. Sandra mengatakan kondisi ini membuat lupus menjadi masalah kesehatan serius karena dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup jika tidak segera ditangani.
“Kalau kita tidak cepat diagnosis dan tidak tertangani dengan baik, tentu akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada apabila perempuan muda mengalami dua atau lebih gangguan organ sekaligus. Misalnya, keluhan kulit disertai nyeri sendi, anemia, trombosit rendah, atau kebocoran protein pada urine. Kombinasi gejala tersebut perlu dicurigai sebagai lupus dan memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.






