Pernyataan penting dari anggota parlemen senior Iran menunjukkan ketegangan yang meningkat terkait peran Amerika Serikat (AS) dalam pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, anggota parlemen tersebut menyatakan bahwa setiap campur tangan AS dalam sistem maritim baru di wilayah tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Hal ini menunjukkan sikap keras yang diambil oleh Iran terhadap upaya Washington untuk memengaruhi jalur perairan strategis ini.
Ibrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, mengungkapkan pandangannya melalui unggahan di platform X. Ia menekankan bahwa “setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.” Pernyataan ini menjadi jawaban langsung terhadap rencana AS untuk mengambil alih pengelolaan lalu lintas kapal di wilayah tersebut.
Azizi juga menolak gagasan bahwa jalur perairan Selat Hormuz dapat dikendalikan oleh Washington. Ia menegaskan bahwa wilayah tersebut “tidak akan dikelola oleh unggahan khayalan Trump.” Ini menunjukkan bahwa Iran merasa tidak percaya terhadap niat AS dalam mengatur jalur perairan yang sangat penting bagi keamanan regional.
Selain itu, Azizi menambahkan bahwa “tidak ada yang akan mempercayai skenario saling menyalahkan.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran melihat tindakan AS sebagai langkah yang tidak konstruktif dan berpotensi memperburuk situasi di kawasan.
Perlu diketahui bahwa pernyataan tersebut muncul setelah komentar Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu (3/5). Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Washington akan mengambil langkah untuk memandu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar bisa keluar dari jalur perairan terbatas. Ia menilai langkah ini sebagai “gestur kemanusiaan” yang bertujuan membantu negara-negara netral yang tidak terlibat dalam konflik AS-Israel melawan Iran.
Trump menulis, “Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan terbatas ini.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS ingin menunjukkan sikap proaktif dalam mengatasi krisis yang sedang berlangsung di kawasan.
Namun, pernyataan Trump justru memicu respons keras dari Iran. Anggota parlemen senior tersebut menilai bahwa tindakan AS tidak hanya tidak perlu, tetapi juga berpotensi memicu konflik lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa isu Selat Hormuz masih menjadi titik panas dalam hubungan antara Iran dan AS.
Dengan situasi yang semakin memanas, penting bagi para pemangku kepentingan untuk mencari solusi damai yang dapat menjaga stabilitas di kawasan. Keterlibatan internasional dalam masalah ini harus dilakukan dengan hati-hati dan tanpa memperparah ketegangan yang sudah ada.






