KAAN: Kedaulatan Teknologi Turki di Ujian Realitas

Ambisi Turki Mengejar Kedaulatan Teknologi Dirgantara Melalui Proyek KAAN

Sebuah foto yang beredar luas di Turki baru-baru ini, menampilkan hangar Turkish Aerospace Industries (TUSAŞ) dengan tiga purwarupa pesawat tempur KAAN, menjadi sorotan. Salah satu purwarupa, P0, telah berhasil melakukan penerbangan perdana dua tahun lalu. Foto ini tidak hanya memperlihatkan dimensi KAAN yang mengesankan, tetapi juga menegaskan tekad kuat Turki untuk mencapai kemandirian penuh dalam proyek jet tempur generasi kelima.

Proyek KAAN, yang telah memasuki dekade pertamanya dan ditargetkan untuk masuk lini produksi pada tahun 2028, telah menarik minat sejumlah negara Muslim, termasuk Arab Saudi, Pakistan, dan Indonesia. Sebagaimana Turki, ketiga negara ini juga memiliki aspirasi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat, khususnya Amerika Serikat, di sektor pertahanan.

Munculnya potensi Proyek KAAN sebagai pemicu terbentuknya blok pertahanan negara-negara Muslim telah diutarakan oleh para pakar pertahanan India. Namun, dalam lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi, gagasan tentang “kedaulatan teknologi” tampaknya memiliki daya tarik politik yang lebih kuat dibandingkan pembentukan blok militer Muslim yang sulit terwujud akibat perbedaan kepentingan antarnegara.

Terlepas dari berbagai interpretasi, keberhasilan Proyek KAAN akan menjadi penentu utama maknanya. Dalam industri dirgantara militer, kedaulatan teknologi dan impian blok militer Muslim sangat bergantung pada kedalaman kemampuan manufaktur, ketahanan rantai pasok, dan konsistensi produksi teknologi kompleks dalam jangka panjang. Inilah ujian sesungguhnya bagi Turki.

Proyek KAAN dapat dianggap sebagai puncak dari ambisi jangka panjang Turki untuk mandiri di bidang teknologi militer. Bagi Ankara, ketergantungan pada teknologi militer menciptakan kerentanan strategis, terutama ketika kepentingan geopolitiknya tidak selalu sejalan dengan kebijakan Washington.

Ambisi ini berakar dari pengalaman panjang Turki menghadapi pembatasan akses teknologi persenjataan oleh Amerika Serikat, meskipun Turki merupakan anggota NATO dan memainkan peran penting dalam Perang Dingin. Sejak embargo tahun 1974 pasca-intervensi di Siprus hingga dikeluarkan dari konsorsium F-35 pada tahun 2019, Turki berulang kali menghadapi hambatan dalam memperoleh teknologi militer Barat.

Sebelum KAAN, Turki telah berhasil mengembangkan berbagai platform pertahanan, mulai dari drone, fregat, hingga kendaraan lapis baja. Keanggotaan NATO memberikan Turki akses luas untuk belajar dari kontraktor pertahanan Eropa dan AS, termasuk lisensi radar Thales serta pembuatan komponen dan perakitan mesin jet GE F110 untuk armada F-16 Angkatan Udara Turki. Namun, membangun jet tempur generasi kelima merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

Klub Sangat Eksklusif

Menyebut KAAN sebagai proyek ambisius sebenarnya adalah sebuah understatement. Hingga saat ini, hanya tiga negara yang benar-benar mengembangkan pesawat tempur generasi kelima secara independen: Amerika Serikat (F-22, F-35), Tiongkok (J-20), dan Rusia (Su-57). Bahkan negara-negara Eropa dengan tradisi dirgantara yang panjang seperti Inggris, Prancis, dan Jerman memilih jalur konsorsium melalui program GCAP dan FCAS untuk mengurangi risiko finansial dan teknis.

Pengembangan pesawat tempur generasi terbaru tidak hanya membutuhkan anggaran yang bisa mencapai puluhan miliar dolar AS. Pesawat generasi kelima merupakan platform yang sangat kompleks, harus mampu menghindari deteksi radar, mengintegrasikan informasi dari berbagai sensor, serta mengelola senjata dan sistem elektroniknya secara otomatis dan terpadu.

Selain ketiga negara tersebut, hanya Turki dan Korea Selatan yang berani mengembangkan sendiri pesawat tempur generasi terbaru. Mengingat Indonesia juga terlibat dalam proyek KF-21, perbandingan antara KF-21 dan KAAN menjadi relevan untuk melihat perbedaan pendekatan dan tingkat kompleksitas yang dihadapi masing-masing negara dalam mengejar kedaulatan teknologi dirgantara.

Dua Jalan Berbeda

Korea Selatan memilih pendekatan bertahap dalam pengembangan KF-21. Pesawat ini dikategorikan sebagai generasi 4.5, bukan generasi kelima penuh, meskipun memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pesawat siluman setelah Korea Selatan menguasai teknologi material penyerap pancaran radar (radar absorbent material). KF-21 juga dirancang sebagai pesawat tempur multi-peran kelas menengah yang akan ditenagai oleh mesin turbofan GE F414 dari AS, yang telah terbukti digunakan pada sejumlah pesawat tempur seperti F-18 dan Gripen.


Salah satu dari dua pesawat tempur prototipe KF-21 Boramae berhasil melakukan tes penerbangan persenjataan terpisah pertama mereka setelah lepas landas dari Sayap Pelatihan Terbang ke-3 Angkatan Udara di Sacheon , 300 kilometer selatan Seoul, Selasa (28/3/2023). – ( EPA-EFE/DAPA HANDOUT SOUTH KOREA )

Lockheed Martin terlibat sebagai mitra teknis KAI, memberikan bantuan desain dan integrasi sistem sebagai bagian dari kesepakatan pembelian F-35. Bantuan ini mencakup pengembangan algoritma kendali terbang dan integrasi sistem avionik. Pendekatan ini lebih metodis dan relatif rendah risiko, terutama karena KAI dapat belajar langsung dari produsen pesawat tempur generasi kelima terkemuka. Tujuan utamanya adalah pengembangan KF-21 yang cepat untuk menggantikan puluhan pesawat tempur generasi ketiga yang masih dioperasikan oleh Angkatan Udara Korea Selatan.

Turki menempuh jalur yang berbeda. KAAN sejak awal diposisikan sebagai pesawat tempur kelas berat generasi kelima dengan misi superioritas udara, setara dengan F-15 dan Su-30 untuk generasi keempat, dan F-22 untuk generasi kelima.

TUSAŞ sebagai kontraktor utama KAAN memegang kendali pengembangan, dengan BAe Systems (Inggris) dan SAAB (Swedia) berperan terbatas sebagai konsultan untuk memandu jalannya proyek. Ambisinya jelas: penguasaan teknologi maksimal dan pembebasan dari ketergantungan terhadap NATO.

Strategi ini lebih berani, namun jauh lebih berisiko, terutama mengingat pengalaman TUSAŞ saat proyek KAAN dimulai secara resmi pada tahun 2016. Pada saat itu, TUSAŞ baru sebatas merakit dan memodernisasi F-16, membuat pesawat latih ringan turboprop, serta membangun drone.

Mesin Jet: Titik Penentuan

Seperti Korea Selatan, Turki juga mengembangkan sejumlah sistem utama yang membentuk pesawat tempur, termasuk radar AESA, sistem kendali terbang, dan avionik pintar. Namun, dari seluruh komponen utama tersebut, ada satu yang paling menentukan: mesin jet.

Pada awal tahun 2025, Turki mengumumkan pengembangan mandiri mesin jet TF35000 yang akan menggerakkan KAAN. TUSAŞ Engine Industries (TEI) memang memiliki pengalaman panjang dalam manufaktur komponen utama dan perakitan mesin jet GE F110 untuk F-16 yang digunakan pada purwarupa KAAN. TEI juga memiliki program pengembangan mesin jet sendiri, meskipun masih dalam kelas tenaga kecil (low thrust) untuk helikopter, drone, dan pesawat latih jet. Namun, semua produk tersebut belum terbukti andal dalam operasi jangka panjang.


Proses penandatanganan kontrak pembelian 48 jet tempur KAAN di IDEF, Istanbul, Turki pada pertengahan 2025 – (IDEF)

Saat mesin terbarunya, TF10000, masih dalam tahap pengembangan, Turki sudah berani mengembangkan mesin turbofan kategori high-thrust atau kelas berat. Jika berhasil, TF35000 akan setara dengan PW F119 milik F-22, Saturn AL-41F1 pada Su-57 (Rusia), dan WS-15 pada J-20 (Tiongkok).

Dengan target produksi pada tahun 2032, TF35000 menjadi risiko terbesar (Achilles’ heel) bagi ambisi kedaulatan teknologi militer Turki dan prospek ekspor KAAN ke negara-negara yang juga ingin lebih bebas dari pengaruh AS. Hal ini relevan bagi Indonesia, yang mensyaratkan platform bebas pembatasan ekspor teknologi AS (ITAR-free) dalam rencana akuisisi 48 unit KAAN.

Turki memang telah menguasai sejumlah teknologi penting, termasuk material paduan kristal tunggal (single crystal alloy) untuk bilah turbin yang mampu bertahan pada suhu ekstrem, agar KAAN dapat melakukan supercruise. Namun, itu baru tahap awal. Dalam industri mesin jet, baik sipil maupun militer, tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi produksi massal dengan toleransi presisi ekstrem dan reliabilitas ribuan jam terbang.

Tiongkok, dengan kemampuan manufaktur yang mumpuni dan anggaran riset yang besar, membutuhkan waktu panjang untuk mematangkan WS-10 dan WS-15. Bahkan, Tiongkok masih mengandalkan mesin Rusia pada tahap awal operasional J-20. Sejarah menunjukkan bahwa mesin jet bukan sekadar proyek rekayasa, melainkan ujian kesabaran industri.

Jika TF35000 mengalami keterlambatan signifikan, KAAN akan tetap bergantung pada GE F110. Konsekuensinya akan lebih terasa di tataran strategis. Calon pengguna potensial, termasuk Indonesia, yang diharapkan dapat meringankan beban finansial pengembangan KAAN, akan menunda pembelian dan menunggu hingga TF35000 terbukti andal.

Antara Simbol dan Realitas

KAAN adalah proyek yang sarat dengan simbolisme. Ia mencerminkan tekad Turki untuk keluar dari bayang-bayang ketergantungan dan bergabung dengan klub elit pembuat jet tempur generasi kelima. Mesin jet TF35000, sebagai komponen kunci terakhir yang belum dikuasai, mulai dikembangkan setelah Turki dikeluarkan dari konsorsium F-35. Di saat yang sama, negosiasi dengan Rolls Royce untuk kemitraan dan akses teknologi mesin jet bertenaga tinggi berlangsung alot.

Namun, sejarah industri pertahanan menunjukkan bahwa kedaulatan teknologi tidak diukur dari ambisi semata, melainkan dari disiplin industri. Korea Selatan mungkin tertinggal dalam pengembangan mesin jet. Proyeknya baru diumumkan pada akhir 2025 dengan horizon jangka panjang: menargetkan produksi mesin turbofan untuk KF-21 dalam 14 tahun.

Sebagai sekutu utama AS di luar NATO, Korea Selatan berada dalam posisi yang lebih menguntungkan daripada Turki, dengan akses istimewa ke teknologi sensitif. Namun, keunggulan utama Korea Selatan terletak pada kapasitas industri yang masif dan basis manufaktur presisi yang matang. Ini didukung oleh pengalaman ekstensif Hanwha Aerospace dalam produksi dan perakitan berbagai mesin jet Barat, baik militer maupun sipil. Melalui pendekatan yang lebih bertahap dan terukur, dengan tidak memaksakan lompatan ke kelas tertinggi—menargetkan mesin jet needle thrust—Korea Selatan memiliki peluang sukses yang lebih besar dalam produksi massal.

Meskipun demikian, Turki juga tidak memulai dari nol dalam pengembangan Proyek KAAN dan mesin jetnya. Jika berhasil mengatasi tantangan dalam memproduksi massal TF35000 dengan reliabilitas tinggi, Turki tidak hanya akan menjadikan KAAN sebagai simbol politik, tetapi juga sebuah lompatan struktural dalam sejarah industri pertahanannya. Sebaliknya, jika TF35000 menjadi hambatan yang berkepanjangan, proyek yang biayanya diperkirakan menembus 40 miliar dolar AS ini berisiko menjadi contoh mahal tentang betapa sulitnya menaklukkan teknologi paling kompleks di industri dirgantara modern.

Tantangannya terletak pada kedalaman ekosistem industri yang memang membutuhkan waktu panjang untuk matang. Turki perlu mengatasi masalah fundamental ini sebelum kita dapat berbicara lebih jauh tentang blok militer negara-negara Muslim.

Pos terkait