Kapten Miswar Maturusi: Tragedi di Selat Hormuz dan Impian yang Tertunda
Hilangnya Kapten Miswar Maturusi, seorang nakhoda kapal asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Di balik profesinya yang telah puluhan tahun mengarungi samudera, tersimpan rencana besar yang kini terancam pupus: pensiun dari dunia pelayaran untuk mengabdikan diri sebagai seorang dosen.
Sumarlin Ahmad, keponakan Kapten Miswar, mengungkapkan bahwa sang kapten memang telah merencanakan untuk mengakhiri karier pelayarannya dalam waktu dekat. Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Kapten Miswar ingin memulai babak baru dalam hidupnya dengan berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi muda, khususnya di bidang kemaritiman.
“Memang rencananya beliau sudah mau pensiun dari dunia pelayaran,” ujar Sumarlin saat ditemui di kediaman keluarga di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu. “Makanya beliau sempat kuliah juga. Rencananya setelah pensiun dan dananya sudah cukup, beliau ingin berhenti berlayar dan fokus mengajar.”
Keinginan kuat untuk mengabdikan pengalamannya selama lebih dari dua dekade di dunia pelayaran melalui jalur pendidikan ini seringkali disampaikan Kapten Miswar kepada keluarganya. Ia bercita-cita menjadi dosen atau setidaknya pengajar di bidang yang berkaitan dengan dunia maritim. Pengalaman selama sekitar 26 tahun bekerja di lautan telah memberinya bekal yang sangat berharga untuk dibagikan.
Tulang Punggung Keluarga yang Dermawan
Bagi keluarga besar, Kapten Miswar dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selalu memprioritaskan kesejahteraan keluarganya. Ia adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab menafkahi istri tercinta, Marliani Ahmad, serta kedua putra mereka, Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Namun, kedermawanan Kapten Miswar tidak berhenti pada keluarga intinya. Ia juga dikenal sering membantu membiayai pendidikan anggota keluarga lainnya, termasuk anak-anak dari sepupu dan keponakannya. Kebahagiaan keluarga semakin bertambah ketika putra sulungnya berhasil meniti karier sebagai anggota kepolisian dan bertugas di Polda Sulawesi Selatan sejak tahun lalu.
Hilang Kontak di Selat Hormuz: Kronologi dan Berbagai Versi
Peristiwa nahas ini terjadi ketika Kapten Miswar Maturusi sedang memimpin kapal tugboat Musaffah 2 di kawasan Selat Hormuz. Komunikasi terakhir dengan keluarga berlangsung pada hari Rabu, saat Kapten Miswar sempat berbicara dengan istrinya dan menyampaikan bahwa ia akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerja.
Keesokan harinya, pada hari Kamis sekitar pukul 13.00 Wita, Kapten Miswar masih sempat membuka pesan dari putranya melalui aplikasi percakapan. Sayangnya, pesan tersebut tidak sempat ia balas. Sejak saat itu, kabar mengenai keberadaannya menghilang.
Keluarga baru menerima kabar mengenai insiden yang menimpa kapal pada Jumat pagi sekitar pukul 10.00 Wita, setelah dihubungi oleh rekan kerja Kapten Miswar. Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan bahwa kapal yang dinakhodai oleh Kapten Miswar diduga terkena ranjau laut.
Namun, hingga kini, keluarga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa kapal Musaffah 2 sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi, sementara informasi lain menyatakan kapal tersebut hendak menjalani proses perbaikan.
Dalam perjalanan tersebut, dilaporkan ada dua kapal yang berangkat bersamaan, yaitu Musaffah 2 yang dikomandani Kapten Miswar, dan Musaffah 1 yang berada di belakangnya. Kapal kedua dilaporkan tidak melanjutkan perjalanan setelah diduga menerima informasi bahwa kapal yang dinakhodai Kapten Miswar mengalami hilang kontak.
Harapan Keluarga dan Dukungan Diplomatik
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, keluarga sangat berharap Pemerintah Indonesia, melalui perwakilan diplomatik di luar negeri, dapat memberikan bantuan dalam proses pencarian Kapten Miswar dan memberikan informasi yang akurat mengenai peristiwa yang terjadi.
Sumarlin mengungkapkan bahwa pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah menghubungi keluarga untuk meminta data terkait korban dan berjanji akan memberikan informasi jika ada perkembangan lebih lanjut. Keluarga berharap pencarian dapat dilakukan secepat mungkin agar Kapten Miswar dapat segera ditemukan.
Meskipun demikian, keluarga menyatakan kesiapannya untuk menerima hasil apa pun dari proses pencarian tersebut, meski harapan terbesar mereka adalah Kapten Miswar dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Impian Kapten Miswar untuk segera pensiun dan mengabdikan diri di dunia pendidikan kini menjadi kenangan sekaligus harapan yang tertunda. Di tengah penantian yang penuh kecemasan, keluarga hanya bisa terus berdoa agar Kapten Miswar dapat segera ditemukan.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah menyatakan bahwa tiga dari empat anak buah kapal (ABK) yang merupakan warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan menghilang setelah kapal tugboat Mufassah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat (6/3/2026) dini hari. Informasi ini diterima melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat.





