Ketua BEM UGM: Ancaman Penculikan Tak Gentarkan

Ancaman dan Teror Menghantui Ketua BEM UGM Pasca Surat untuk UNICEF

JAKARTA – Sejak Februari 2026, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku masih terus menerus menerima berbagai bentuk teror dan ancaman. Ancaman ini muncul setelah BEM UGM mengirimkan surat terbuka kepada UNICEF, menyoroti kasus tragis bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa memilukan tersebut diduga dipicu oleh ketidakmampuan anak tersebut untuk membeli perlengkapan sekolah dasar seperti pena dan buku.

Teror yang diterima oleh Tiyo dan rekan-rekannya bukan sekadar ancaman verbal. Bentuk intimidasi yang mereka alami sangat beragam, mulai dari ancaman penculikan yang mengerikan, penguntitan yang terus-menerus, hingga intimidasi digital yang semakin masif. Yang lebih mengkhawatirkan, teror ini tidak hanya menyasar Tiyo secara pribadi, tetapi juga meluas hingga ke lingkaran terdekatnya, termasuk keluarga Tiyo, orang tua dari para pengurus BEM UGM, bahkan juga menyasar para pengurus UGM sendiri.

“Setelah sepekan, sejak dua minggu yang lalu, sebenarnya memang ada beberapa teror lagi,” ungkap Tiyo saat ditemui usai acara diskusi buku di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa gelombang teror pertama kali ia terima pada periode 9 hingga 11 Februari 2026. Pada masa-masa tersebut, ia mengalami berbagai bentuk ancaman, termasuk penguntitan dan pengambilan foto oleh pihak yang tidak dikenal.

Dampak Meluas dan Strategi Pengumpulan Data

Tiyo menambahkan bahwa teror yang diterima belakangan ini terasa lebih berat dan terorganisir karena dampaknya meluas. “Ancaman tersebut juga ditujukan kepada orangtuanya, pengurus UGM, hingga orangtua para pengurus BEM UGM,” tuturnya. Meskipun menghadapi situasi yang mengancam, Tiyo dan timnya sempat memilih untuk tidak mempublikasikan secara luas teror yang mereka alami. Keputusan ini diambil demi mengumpulkan dan mengkanalisasi data secara terperinci.

“Supaya kita punya laporan cukup terperinci terhadap teror yang kami alami,” jelasnya. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap ancaman tercatat dengan baik dan dapat menjadi bukti yang kuat di kemudian hari.

Keteguhan Sikap dan Respons Terhadap Ancaman

Meskipun dihadapkan pada intimidasi yang terus menerus, Tiyo menegaskan bahwa dirinya dan rekan-rekannya di BEM UGM tidak gentar. Semangat mereka untuk menyuarakan berbagai isu penting tidak surut sedikit pun. “Sampai sekarang dengan seluruh teror yang ada, kami masih keliling, masih bicara tanpa mengurangi volumenya sedikit pun,” ujarnya dengan nada tegas.

Ironisnya, Tiyo justru menyatakan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang menyebarkan teror tersebut. Menurutnya, ancaman yang mereka terima justru menjadi bumerang bagi para pelaku. “Jadi justru berbahaya teror yang kami alami karena justru akan membangkitkan perlawanan kepada pemerintah,” tegasnya. Ia melihat bahwa solidaritas dari berbagai universitas di seluruh Indonesia justru semakin tumbuh sebagai respons terhadap intimidasi yang dialami BEM UGM.

Mayoritas teror yang diterima oleh Tiyo dan timnya berasal dari ranah digital. Bentuk ancaman yang paling sering muncul adalah ancaman penculikan dan pembunuhan. Meski tidak merasa takut secara mendalam, Tiyo mengaku bahwa kewaspadaan mereka meningkat, terutama saat melakukan perjalanan ke luar kota.

“Sehingga kami sekarang lebih protektif apabila bepergian terutama ketika di luar kota. Tetapi pada prinsipnya ini tidak membuat kami gentar,” ungkapnya.

Keputusan Mengenai Pelaporan dan Catatan Internal

Tiyo juga mengonfirmasi bahwa pihaknya terus melakukan pendataan terhadap seluruh teror yang mereka terima. Namun, ia dan rekan-rekannya memiliki keputusan untuk tidak melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. “Tetapi kami prinsipnya sekarang tidak tertarik untuk melaporkan ke kepolisian,” ujar Tiyo.

Data yang terkumpul tersebut rencananya hanya akan dijadikan sebagai catatan internal di BEM UGM. Keputusan ini mungkin didasari oleh berbagai pertimbangan, termasuk keyakinan bahwa aksi mereka akan terus berlanjut tanpa terpengaruh oleh ancaman tersebut, serta harapan bahwa solidaritas publik akan menjadi benteng pertahanan yang lebih kuat.

Pos terkait